Yang Terjadi Usai Putus Cinta Menurut Sains

Penulis: Darmansyah

Jumat, 9 Februari 2018 | 09:28 WIB

Dibaca: 1 kali

Laman “the star.com,” hari ini, Jumat, 09 Februari, menurunkan tulisan menarik tentang munculnya perasaan takut kala seseorang putus cinta.

Mmenurut laman itu, saat Anda mulai merasa takut untuk hidup sendiri setelah putus dengan kekasih Anda, waspadai gejala “anuptaphobia” atau rasa takut hidup melajang.

Seperti juga ditulis  Journal of Pesonality and Social Psychology, Stephanie Spielmann menjelaskan bahwa rasa takut hidup sendiri akan menguat setelah putus dengan pasangan.

Rasa takut itu merupakan tanda bahwa hubungan yang Anda miliki tidak sehat, kata Asisten profesor Fakultas Psikologi di Universitas Negeri Wayne di Detroit tersebut.

Spielmann meneliti sejumlah orang dewasa di Amerika Utara dan Kanada yang rata-rata berusia tiga puluh tahun, berasal dari kalangan sarjana, dan masyarakat umum.

Hasil surveinya cukup mengejutkan.

“Saat perasaan takut hidup melajang menguat dan tidak terkontrol, besar kemungkinan seseorang akan rela menjalani hubungan kembali, meskipun tidak ada lagi rasa cinta terhadap pasangannya,” kata Spielmann.

“Sekarang kita mengerti bahwa kecemasan seseorang menjadi lajang tampaknya memainkan peran kunci dalam hubungan tidak sehat,” tambahnya.

Tragisnya, dunia internet dengan menawarkan kencan secara online akan memperburuk kondisi seseorang yang memiliki ketakutan tersebut.

“Bagi mereka yang rasa takutnya besar, cenderung tertarik menggunakan berbagai media atau pilihan online untuk bertemu dengan pacar baru atau melacak mantan mereka,” kata Spielmann.

“Risiko yang mungkin terjadi adalah hubungan baru akan berakhir lebih buruk atau hubungan yang kualitasnya lebih rendah,” katanya dikutip dari Thestar, Senin (5/2/2018).

Kondisi seseorang yang merasa takut untuk hidup sendiri tanpa pasangan selama hidupnya disebut “anupthaphobia”.

Menurut Geoff MacDonald dari profesor di Fakultas Psikologi, Universitas Toronto, masalah psikologis tersebut bisa terjadi baik pada pria dan wanita.

“Kami menemukan bahwa pria dan wanita memiliki kekhawatiran yang sama tentang menjadi lajang dan memiliki pola menghadapi rasa itu yang serupa.”

“Ini membantah anggapan bahwa hanya wanita saja yang takut menjadi lajang,” kata Macdonald, dikutip news.artsci.utoronto.ca.

Spielmann menganjurkan untuk tidak terlalu takut dan cemas. Buang pikiran bahwa perempuan harus menjadi ibu rumah tangga dan tuntutan harus menikah.

“Cobalah fokus saat mengambil keputusan terbaik untuk kebahagiaan Anda sendiri,” katanya.

Dalam kehidupan cinta, banyak orang mendambakan hubungan asmara yang bertahan sampai maut memisahkan beserta api cinta yang tak meredup.

Hubungan yang bertahan sepanjang hidup memang ada, tetapi bagaimana dengan cinta selamanya? Mungkinkah itu benar-benar ada.

Gabija Toleikyte, neurolog dari University of Middlesex, mengungkapkan bahwa ada tidaknya cinta selamanya tergantung pada cara kita memandangnya.

Cinta sebagai sebuah emosi punya efek berkelanjutan: hubungan mendalam antara dua atau beberapa manusia yang kemudian bisa menciptakan komitmen dan batasan-batasan tertentu.

“Jadi cinta sebagai sebuah pengalaman yang lebih besar bisa bertahan selamanya,” katanya seperti dikutip Wired,.

“Tapi jika kemudian ada kompromi, misalnya seseorang menjadi jauh berbeda dari yang dikenal sebelumnya, maka pengalaman itu bisa berubah,” imbuhnya.

Toleikyte mengatakan, pada level emosional, cinta masih merupakan produk kimia otak yang bisa berubah sewaktu-waktu.

“Kadangkala kita tidak mampu merasakan emosi cinta, kadangkala kita melalui fase datar yang membuat kita tidak bisa merasakan apapun,” ungkapnya,

Helen Fisher, pakar antropologi biologi dari Kinsey Institute mengatakan, cinta bisa bertahan dalam sebuah pernikahan paling tidak selama beberapa dekade.

Dalam sebuah studi yang dilakukannya, lima belas orang yang berusia lima puluhan dan enam puluhan mengatakan tetap mencintai pasangannya.

Fisher membuktikan pernyataan itu dengan melakukan pemindaian otak.

Ia ternyata berhasil mengonfirmasi perasaan itu dengan melihat aktifnya jalur otak yang terkait cinta erotis.

“Jadi ya, cinta selamanya itu mungkin,” katanya. Namun, ia juga mengungkapkan, untuk mendapatkannya, “Anda harus menemukan orang yang tepat.”

Komentar