Ini Dia Isi Otak Perempuan Saat Orgasme

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 17 Oktober 2017 | 08:17 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda perlu tahu apa yang terjadi dengan isi otak perempuan saat menjalani orgasme.

Nan Wise, peneliti di Universitas Rutgers, New Jersey, Amerika Serikat, mengakui bahwa penelitian otak tentang orgasme tidak mudah untuk dilakukan.

“Pemindai otak seperti fMRI adalah tempat yang paling tidak seksi di dunia. Alat ini berisik, sempit, dan dingin,”katanya.

Selain itu, para peneliti dan partisipan juga kesulitan menjaga kepala tetap diam, gerakan sedikit saja bisa merusak data.

Tahukah Anda jika ada begitu banyak hormon yang dilepaskan ketika kita bercinta dan mengalami orgasme?

Ya, saat seorang perempuan melalui orgasme terjadi perubahan hormon dalam tubuhnya, termasuk merilis “hormon bahagia”.

Pnelitian terhadap sepuluh perempuan dengan menggunakan fMRI mengungkapkan bagaimana otak perempuan bekerja ketika orgasme.

Para ilmuwan menggunakan alat pindai otak untuk merekam aktivitas otak perempuan ketika mendekati, mengalami, dan setelah mencapai orgasme untuk mempelejari mengapa banyak perempuan atau laki-laki tidak bisa mencapai klimaks dalam hubungan seksual.

Seperti yangt ditulis media terkenal Inggris, “the guardian,” penelitian yang juga dilakukan  Profesor Barry Komisaruk, seorang psikolog dari Rutgers University, New Jersey, Amerika Serikat, memahami bagaimana orgasme itu tercipta dari rangsangan genital dan bagian otak

Untuk melacak intensitas aktifitas otak para peneliti menggunakan skala panas yang sering digunakan pada logam, dimulai dari merah tua, jingga, kuning, dan putih untuk menunjukan aktifitas yang paling intens.

Jika melihat film pendek hasil pindai otak itu akan terlihat aktifitas otak dimulai dari bagian korteks otak yang berhubungan dengan alat kelamin, khususnya ketika area sekitar kemaluan disentuh.

Aktifitas otak kemudian bergeser ke sistem limbik, bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan ingatan jangka panjang.

Ketika telah memasuki puncak orgasme maka dua bagian otak yang disebut serebelum dan konteks frontal serentak beraktifitas lebih cepat. Perubahan tiba-tiba itu mungkin disebabkan oleh gerakan otot-otot yang intens.

Selama orgasme, aktifitas otak mencapai puncaknya di bagian hipotalamus yang mengeluarkan hormon oksitosin, senyawa kimia yang memantik sensasi kepuasan dan merangsang uterus untuk berkontraksi.

Puncak aktifitas otak juga terjadi di nukleus akumbens, bagian otak yang berhubungan dengan kepuasan dan reward.

Setelah orgasme, aktifitas otak secara teratur mereda.

“Ini adalah sistem yang indah. Kami harap film ini bisa membantu pemahaman kami akan kondisi patologis orang yang tidak bisa mencapai orgasme, untuk mencari tahu tahap mana dari proses itu yang terputus di tengah jalan,” harap Komisaruk.

Penelitian ini sekaligus menunjukkan bagaimana otak perempuan bekerja saat orgasme.

Peneliti pun mengamati perubahan yang terjadi sebelum, selama, dan setelah perempuan mengalamui orgasme.

Hasilnya sangat mengejutkan, dan menjawab pertanyaan para peneliti  menemukan bahwa selama merangsang dirinya sendiri dan berorgasme, kemampuan perempuan untuk menahan rasa sakit meningkat sebanyak tujuh puluh lima persen.

Melalui penelitian ini, dtemukan bahwa pada saat orgasme, area saraf di bagian otak belakang atau dorsal raphe nucleus sangat aktif.

Area saraf belakang otak ini berperan mengatur zat dalam otak bernama serotinin yang berperan sebagai penghilang rasa sakit.

Peneliti juga menangkap adanya aktivitas di area cuneformis, bagian di sistem batang otak yang berfungsi untuk mengontrol rasa sakit hanya dengan pikiran.

Bersama-sama, kedua aktivitas ini tampaknya berfungsi untuk mematikan rasa sakit di saat puncak orgasme

Asumsi tersebut berasal dari hasil penelitian yang dilakukan pada tahun dua belas tahun silam oleh ahli kesehatan, Gert Holstege, di Universitas Gronigen, Belanda.

Holstege yang menggunakan Positron Emmision Tomography  untuk menganalisis otak perempuan saat beristirahat, pura-pura orgasme, dan benar-benar orgasme menemukan bahwa aktivitas pada area otak yang mengatur emosi turun drastis ketika perempuan orgasme.

Menggunakan penemuan tersebut, Gert kemudian menyarankan perempuan untuk melupakan stres dan kekhawatiran agar bisa mencapai orgasme.

Namun, hal tersebut dibantah oleh Wise yang menemukan bahwa semua bagian dalam otak bereaksi bersama-sam dan tidak ada yang “istirahat” saat mencapai puncak orgasme.

Tidak menemukan bukti adanya saraf yang tidak bekerja saat orgasme.

Tidak ada yang bisa memastikan secara mutlak, bagaimana kinerja otak bisa mengurangi rasa sakit saat orgasme pada perempuan terjadi atau saat laki-laki mencapai puncak kenikmatan.

Pengetahuan tentang bagaimana kenikmatan diproses di dalam otak masih sangat sedikit. Kita masih belajar dasar-dasarnya saja, dan masih terlalu dini untuk menjawab pasti tentang kenikmatan.

Komentar