Ini Dia Tips Alami “Memperbesar” Penis

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 3 November 2017 | 14:46 WIB

Dibaca: 0 kali

Lelaki mana yang tidak menginginkan penisnya berukuran besar dak “kuat.”

Dan untuk itulah University of Kentucky melakukan riset “besar” dengan meminta pendapat  lebih empat belas ribu responden tentang penis yang ia inginkan

Dan salah satu jawabannya adalah mereka menginginkan penis besar tanpa  memberi tahu  seberapa besar  ukuran yang mereka punya saat ini.

Bahkan ada di antara responden yang ingin menjalani operasi pembesaran penis atau penoplasty  ternyata bukanlah satu-satunya opsi.

Dalam sebuah wawancara di laman Daily Star Online, ahli bedah penis dokter David Alessi mengatakan, pria harus berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk menjalani operasi.

Menurut Alessi, obsesi pria dengan ukuran penis bisa menjadi gejala dari masalah psikologis yang serius.

“Kebanyakan pria yang mengira mereka memiliki penis kecil, padahal sebenarnya tidak.”

“Hasil studi memang bisa bervariasi, namun penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penis tegak memiliki panjang berkisar dari tiga belas hingga enam belas centimeter,” kata dia.

“Kebanyakan pria yang menganggap penis mereka terlalu kecil memiliki sindrom dismorfik penis. Bagi mereka, lebih baik mendatangi psikiater dan bukan ahli bedah.”

Nah, masih terkait dengan soal ukuran penis, sebenarnya ada beberapa tips non-bedah yang dapat dilakukan untuk “memperbesar” penis.

Setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan pria, untuk mendapatkan ukuran “terbaik” mereka.

“Memoles” rambut kemaluan bisa langsung membuat bagian vital pria terlihat lebih besar.

Ambillah  gunting atau pisau cukur, dan mulailah memangkas bulu yang menutupi bagian pangkal penis, hingga lebih banyak bidang yang bisa terlihat.

Ini mungkin menjadi cara tercepat dan termudah yang bisa dilakukan, untuk melihat perubahan ukuran penis. Hanya dalam hitungan detik.

Untuk Anda tahu bagi mereka yang memiliki kelebihan berat badan bisa  membuat penisnya  terlihat kerdil

Anda  juga harus tahu  bertambahnya usia akan berdampak pada organ penis.

Simbol kejantanan pria ini dipercaya akan hilang kegagahannya saat seorang pria makin menua. Lalu perubahan apa sajakah yang terjadi pada penis saat tua nanti?

Menurut ahli urologi Brian Steixner, MD, direktur Institute of Men’s Health for the Jersey Urology Group, setiap pria perlu mengantisipasi kemungkinan perubahan penis mereka.

Brian Steixner telah melakukan penelitian terhadap beberapa pria berusia tujuh puluh tahun. Pria-pria tersebut diminta untuk berjalan dengan telanjang disepanjang ruang ganti, hasilnya skrotum mereka nampak terkulai.

Kendurnya penis tersebut disebabkan karena hilangnya masa otot dan inilah yang disebut dengan sindrom ‘Splash Down’.

Berkat kemajuan teknologi kedokteran estetika, kondisi ini bisa diatasi dengan prosedur scrotoplasty untuk mengencangkan kembali otot-otot di sekitar skrotum.

Berkurangnya kolagen pada kulit juga membuat penyusutan pada bagian penis. Sebenarnya penyusutan ini juga terjadi pada kulit di seluruh tubuh. Penyusutannya berlangsung perlahan-lahan.

Semakin tua, metabolisme tubuh akan melambat yang mengakibatkan berat badan gampang naik.

Kenaikan berat badan inilah juga berhubungan dengan menyusutnya ukuran penis. Penimbunan lemak di perut juga membuat penis semakin “tenggelam”.

Steixner menemukan fakta bahwa pada usia paruh baya pria akan rentan terkena penyakit peyronie, yaitu kondisi penis yang tampak asimetris akibat pembentukan plak fibrosa atau jaringan parut di sepanjang batang penis.

Pemicunya sebenarnya sederhana, yakni trauma berulang, misalnya karena benturan saat olahraga atau aktivitas seksual, sehingga akan terbentuk scar di penis.

Bengkoknya penis akan semakin buruk di usia akhir enam puluhan.

Beruntung pada saat ini kondisi tersebut bisa dikoreksi dengan suntikan botox untuk melepaskan akumulasi plak.

Risiko disfungsi ereksi akan bertambah seiring berjalannya usia.

Penis adalah organ tubuh yang penuh dengan pembuluh darah yang berfungsi membawa darah menuju penis sehingga terjadi ereksi.

“Disfungsi ereksi sama seperti ‘serangan jantung’ pada penis. Mencegahnya dilakukan sama seperti mencegah serangan jantung, yakni menjaga pola makan dan berolahraga,” kata Steixner.

Saat berada di usia tua, sensitivitas penis akan mengalami penurunan.

Penurunan ini juga disebabkan karena fungsi saraf pada penis yang semakin menurun yang berakibat pada sulitnya orgasme dan ereksi.

Paling tidak Anda akan butuh waktu lama untuk mencapai klimaks dibanding di usia keemasan Anda.

Komentar