Ini Dia Reaksi Tubuh dari Dampak Bercinta

Penulis:: Darmansyah

Sabtu, 13 Februari 2016 | 13:08 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda pernah tahu dampak dari bercinta terhadap tubuh?

Kalau tidak tahu mari ikuti perjalanan fase bercinta dan apa yang diperoleh manfaatnya oleh tubuh.

Mari kita mulai dari fase rangsangan.

Di fase ini, stimulasi mutual sudah siap terutama pada organ intim wanita dan pria untuk memulai hubungan seks.

Tahu cirinya?

Peenanda pertama datang dari gairah seksual pada wanita. Disini akan muncul cairan pelumas yang datang dari organ intimnya.

Jumlah cairan akan meningkat seiring meningkatnya gairah.

Selama tahap ini, payudara wanita juga menjadi lebih kencang.

Hal ini disebabkan kontraksi serat otot kecil dalam menanggapi gairah seksual.

Pembuluh darah kecil di payudara menjadi lebih terlihat dan seringkali terjadi sedikit peningkatan ukuran payudara.

Selanjutnya akan muncul fase kedua yang dinamakan “plato.”

Ini adalah tahap ketika rangsangan seksual lebih intens dan orgasme sudah dekat.

Pada tahap ini, organ intim wanita menyempit sekitar tiga puluh persen untuk mencengkeram penis.

Pada pria, ereksi terjadi ketika jaringan spons penis penuh dengan darah, testis sedikit tertarik ke arah tubuh, dan ukurannya membesar.

Pada fase ini, pada pria maupun wanita, atau lebih banyak terjadi pada wanita, akan muncul bintik-bintik merah pada kulit.

Ini terjadi terutama pada mereka yang berkulit terang.

Bentuknya menyerupai campak dan muncul di depan dada, menyebar ke leher, punggung dan wajah.

Bintik-bintik ini adalah hasil dari peningkatan aliran darah di bawah permukaan kulit. Biasanya, pada tahap ini, pernapasan dan jantung menjadi lebih cepat.

Percepatan ini bukan karena aktivitas fisik, tetapi karena rangsangan dari sistem saraf otonom.

Saraf otonom adalah bagian dari sistem saraf yang aktif selama Anda dalam keadaan stres atau bahaya.

Saraf ini jugalah yang terlibat dalam pengaturan denyut nadi dan tekanan darah.

Selanjutnya Anda pasti tahu. Orgasme.

Ini adalah fase di mana tubuh seperti meledak akibat kontraksi fisik yang intensif, setelah itu diikuti oleh relaksasi.

Otot-otot di seluruh tubuh juga berkontraksi dalam menanggapi orgasme.

Orgasme yang ringan dapat berisi tiga sampai lima kali kontraksi, sedangkan orgasme intens bisa berisi sepuluh sampai limabelas kali kontraksi.

Kebanyakan wanita tidak ejakulasi selama orgasme, meskipun beberapa ilmuwan mengklaim bahwa ada wanita yang mengeluarkan cairan mirip semen dari uretranya.

Tidak seperti pada wanita, orgasme pada pria terjadi dalam dua tahap.

Selama tahap pertama, kontraksi otot akan memaksa semen masuk ke dalam uretra atau dikenal populernya saluran urin.

Itu sebabnya, ada cairan bening atau semen yang keluar sebelum keluarnya sperma.

Pada tahap kedua, kontraksi uretra dan penis bergabung dengan kontraksi dalam kelenjar prostat.

Hasilnya, sperma keluar dari ujung organ intim. Inilah yang sering kita sebut sebagai klimaks.

Fase terakhir sering dinamakan dengan resolusi

Ini adalah fase ketika tubuh kembali ke keadaan sebelum terangsang.

Beberapa wanita mungkin mengalami multiorgasme sebelum masuk fase resolusi.

Sedangkan pria, yang secara biologis tidak mungkin mengalami multiorgasme, akan segera memasuki masa pemulihan di mana organ intim menjadi semi ereksi kemudian melemas.

Selama fase resolusi, organ intim wanita akan kembali normal, darah akan dipompa menjauh dari vagina.

Rahim bergerak kembali ke posisi normal, warna serta ukuran organ intim kembali seperti semula.
Pada pria, ereksi menghilang dalam dua tahap.

Pada awalnya, kontraksi orgasmik akan memompa darah keluar dari penis, ditandai dengan hilangnya sebagian kekakuan.

Pada tahap kedua, aliran darah kembali normal, ukuran dan posisi testis kembali seperti awal.

Pada pria maupun wanita, tak lama setelah orgasme dan seiring irama tubuh kembali normal, perubahan warna kulit juga menghilang alias kembali ke warna asli sehari-hari.

Setelah itu, keluarlah keringat yang lebih banyak dari tubuh masing-masing.

Komentar