TekoKopi - Promo HARBOLNAS

Ini Dia Misteri Dibalik “Action” Seks

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 11 Agustus 2016 | 08:04 WIB

Dibaca: 2 kali

Siapa yang bisa membantah dibalik “action” hubungan seks terdapat misteri yang belum terungkapkan.

Salah satu studi terbaru mengungkapkan sebuah fakta menarik bahwa  orang-orang pemurah dan baik hati cenderung memiliki kesuksesan membina hubungan seksual dan frekuensinya pun lebih sering dibandingkan yang kurang baik hati.

Kesimpulan ini diperoleh lewat wawancara terhadap delapan ratusan  orang dimana peneliti menanyakan mengenai hubungannya dengan pasangan serta kecenderungannya dalam membantu orang lain.

Setelah membandingkan usia dan kepribadian, ternyata orang-orang baik hati memiliki kesuksesan lebih baik terkait membina hubungan dengan lawan jenis maupun hubungan seksual.

“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan orang-orang baik hati jadi kunci keberhasilan dalam membina hubungan. Bahkan orang baik hati lebih berhasil memiliki pasangan,” kata profesor di bidang psikologi University of Guelph, Kanada, Pat Barclay.

Pat menambahkan, sinyal baik hati pada pria lebih efektif dibandingkan pada wanita.

Dari hasil studi  yang dipublikasikan dalam British Journal of Psychology ini menunjukkan bahwa sosok pemurah dan baik hati merupakan hal yang diinginkan dari pria dan wanita. Sosok baik hati mampu meningkatkan daya tarik orang tersebut.

Sehingga sifat baik hati dapat mengantarkan seseorang menjadi lebih mudah mendapatkan pasangan, memengaruhi lama hubungan juga aktivitas seksual di atas ranjang.

Banyak studi baru yang mencari tahu tentang hubungan antara orang-orang yang berperilaku secara altruis atau orang yang dikenal baik dan bijaksana dengan kegiatan seks.

Dilansir dari mydomaine.com,  sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Psychology mencoba untuk memahami efek dari “non-kin altruism” pada seleksi seksual dan hasilnya sangat mengejutkan.

Penelitian ini dibagi menjadi dua percobaan yang berbeda.

Bagian pertama, wanita dan pria diminta untuk mengisi laporan mengenai perilaku altruistik diri mereka sendiri.

Mereka yang memiliki skor tertinggi pada skala altruisme juga melaporkan bahwa mereka memiliki perilaku seksual yang tinggi.

Sedangkan bagian kedua, para peserta ini diminta untuk terlibat dalam tindakan tanpa pamrih tertentu, seperti menyumbangkan darah kepada orang lain.

Sekali lagi, orang-orang yang dengan mudah melakukan perilaku altruistik ini juga aktif secara seksual. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah hasil ini diperkuat oleh peserta pria.

Sekarang Anda tahu bahwa menjadi orang yang baik juga dapat membantu Anda menjalani hubungan dengan pasangan.

Pernahkah Anda mengambil keputusan ketika sedang terangsang secara seksual dan belakangan ketahuan bahwa keputusan itu salah?

Ternyata penelitian ilmiah menegaskan apa yang sudah diduga selama ini, bahwa manusia menjadi bodoh ketika sedang terangsang secara seksual.

Studi lainnya yang dikutip dari laman situs  mic.com, mengungkapkan tim psikologi dari Kanada pimpinan Shayna Skakoon-Sparling melakukan penelitian untuk mempelajari dampak rangsangan seksual kepada pengambilan risiko seksual dan pembuatan keputusan pada pria dan wanita.

Temuan ini juga sudah dilaporkan dalam jurnal Archives of Sexual Behavior.

Lalu, apa hasilnya?

Para peneliti mendapati bahwa rangsangan seksual memang berdampak kepada kemampuan membuat keputusan.

Penelitian terbagi dalam dua eksperimen.

Dalam bagian pertama, para peneliti mengaduk-aduk pikiran seratusan pria dan wanita usia kuliah melalui tontonan sejumlah video seks tanpa basa-basi.

Para peserta eksperimen kemudian mengisi survei yang menantang apakah mereka berniat ikut serta dalam ‘perilaku seks berisiko’.

Jangan heran, para peserta yang sedang sangat terangsang mempertunjukkan niat lebih besar untuk terlibat dalam perilaku seks berisiko, misalnya hubungan seks tak berpelindung dengan pasangan seks baru, dibandingkan dengan peserta survei lain yang sebelumnya tidak menonton tayangan ‘menyenangkan’ tersebut.

Eksperimen kedua digelar dengan cara yang sama, tapi para pesertanya tidak ditanyai melalui survei sesudah menonton.

Kali ini, mereka diminta melakukan permainan kartu Blackjack. Sebagai penjelasan, permainan kartu ini lazim dikaitkan dengan judi.

“Para peserta ditawarkan kesempatan untuk bermain dengan risiko atau secara aman-aman saja selagi mereka ‘kelimpungan’. “

Kata sang penulis, “Peningkatan rangsangan seksual pada eksperimen 2 berkaitan dengan letupan-letupan dan niat lebih besar untuk bermain secara berisiko dalam permainan Blackjack.”

Dari hasil ini dapat diduga bahwa ketika dihadapkan kepada tanda-tanda seksual yang kuat semisal ketelanjangan, orang yang sedang terangsang secara seksual kemungkinan memiliki penghambat yang lebih lemah dan dapat mengalami proses pembuatan keputusan yang terganggu.

Tentu saja pembaca mungkin tidak memerlukan penelitian formal untuk mengetahui bahwa otak selagi seks bukanlah otak yang dapat diandalkan untuk nasihat-nasihat penting dalam kehidupan.

Namun demikian, hasil-hasil penelitian tersebut bermanfaat dalam mencoba memahami beberapa perilaku seks yang mungkin tidak diinginkan.

Misalnya, Lembaga Guttmacher melaporkan bahwa lebih dari setengah jumlah kehamilan di AS setiap tahun sebetulnya tidak direncanakan.

Belum lagi kalau bicara soal raibnya ribuan dolar di meja judi Blackjack di seluruh Las Vegas setiap harinya.

Komentar