Ini Kategori Istri dan Suami Bukan Pilihan

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 28 April 2017 | 07:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Memilih suami atau istri untuk menikah?

Ya, baik lelaki atau wanita memerlukan pertimbangan terhadap pilihan itu. Pertimbangan ini, tentu saja didasarkan atas rasionalitas karena menikah adalah keputusan yang serius untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan menyenangkan

Karena pernikahan adalah komitmen seumur hidup, kita harus mencari pasangan terbaik untuk kita.

Oleh karenanya, dengan pertimbangan seperti itu, kita sebaiknya tidak sembarangan memilih dengan siapa kita kelak akan membentuk rumah tangga.

Dalam memilih suami, misalnya,  menurut psikolog Marni Feuerman, penulis sekaligus terapis masalah perkawinan, ada empat pertimbangan yang mengedepan.

Kita tidak sedang membicarakan pria yang pendapatannya rendah atau berasal dari keluarga tidak mampu.

Yang dimaksud si bangkrut di sini adalah pria yang selalu kehabisan uangnya. Mungkin ia gemar membeli barang-barang tak berguna, mungkin ia gemar berfoya-foya, atau apapun alasannya, Anda sebaiknya tidak menikah dengan orang yang tidak bisa mengatur uangnya.

Ini juga bukan berarti Anda harus menikahi pria kaya, tapi pilihlah pria yang bertanggung jawab terhadap keluarganya dengan menyediakan kebutuhan.

Ini juga tidak berarti Anda sebaiknya menikahi pria kikir, namun pria yang bisa mengelola keuangan keluarga. Maka sebelum terlambat, sejak sekarang perhatikanlah bagaimana calon Anda mengelola keuangannya.

Bila Anda menikahi anak mama, bersiap-siaplah untuk selalu bersaing dengan ibunya. Ia akan terus membandingkan Anda dengan ibunya, yang menurutnya selalu benar. Apapun yang Anda lakukan, harus mengikuti cara ibunya.

Anak mama biasanya menuntut diperhatikan, bukan hanya oleh ibunya, namun juga dari pasangannya.

Ia juga manja dan seringkali tidak mau berusaha karena sudah terbiasa dilayani. Bila menghadapi pertengkaran, jangan heran bila ia akan mengadukan Anda pada ibunya.

Ada beberapa orang yang hampir selalu sedih dan muram. Apapun yang terjadi, ada saja yang dikeluhkannya.

Bila pacar Anda termasuk jenis yang selalu berwajah mendung dan membawa hawa negatif, jelas dia bukan pilihan yang tepat untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia.

Jenis pria muram ini mungkin bisa tetap tertawa, namun sebagian besar hidupnya dipenuhi keluhan.

Ia mungkin selalu menyalahkan kondisi dan orang lain, namun tidak berusaha menjadikannya lebih baik. Orang yang selalu mengeluh namun tidak berusaha membuat perubahan tentu tidak bisa menjadi suami yang ideal.

Setiap wanita pasti enggan dibohongi. Maka bila Anda didekati pria yang berbohong soal pekerjaan, latar belakang, dan hal-hal lainnya demi mendapatkan cinta Anda, segera tolaklah.

Sekali seseorang menggunakan cara buruk untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, maka ia tidak akan ragu lagi menggunakan cara yang sama selanjutnya.

Fakta bahwa ia bersedia menipu untuk orang yang akan menjadi pasangannya sendiri sudah merupakan tanda yang tidak baik.

Selain tentang suami yang tidak termasuk pilihan ada pula istri yang tidak dikategorikan sebagai pilihn.

Kita para pria mungkin pernah jatuh cinta pada wanita karena sifat-sifatnya yang unik. Namun nyatanya tidak semua yang unik itu menyenangkan. Ada juga yang mungkin memberi dampak kurang baik.

Sayangnya, pria lebih mudah dibutakan oleh kecantikan sehingga tidak menyadari bahwa perempuan di hadapannya termasuk kategori “sulit”, bukan sulit ditaklukkan tetapi sulit dipahami dengan cara kita berpikir.

Padahal bila tujuan hubungan adalah pernikahan yang bahagia, baik pria maupun wanita harus memilih yang paling cocok untuk mereka, bukan dari sisi fisik, namun lebih dari sifat-sifatnya.

Kebanyakan pria, se-macho apapun, berharap menemukan pasangan yang bisa mendukungnya, dan bisa diandalkan dalam situasi baik atau buruk.

Nah, bila Anda bukan termasuk Superman yang memiliki hati seluas samudera, maka ada beberapa jenis perempuan yang sebaiknya tidak Anda pertimbangkan untuk menjadi istri Anda. Berikut adalah sifat-sifat kurang baik menurut psikolog Marni Feuerman, penulis sekaligus terapis masalah perkawinan.

Banyak pria merasa berarti ketika mendengarkan perempuan-perempuan yang curhat soal masalahnya. Karena si perempuan butuh orang yang mau mengerti dan si pria suka dengan perasaan menjadi pahlawan, tak jarang keduanya lalu jatuh cinta. Tentu tidak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi Anda harus mulai waspada bila dia terlalu sering curhat untuk masalah yang berbeda-beda. Anda harus bertanya-tanya mengapa ia selalu memiliki masalah?

Mengapa hal-hal buruk terjadi padanya?

Jangan-jangan ia memang memiliki sifat yang membuatnya sering bermasalah dengan orang lain, atau dia menganggap segala sesuatu sebagai masalah.

Bila Anda menjadikan dia sebagai pasangan hidup Anda, maka bersiap-siaplah mendengar keluhan sepanjang waktu.

Hari-hari Anda mungkin menjadi kurang ceria karena segala sesuatunya dianggap tak sempurna.

Bagaimana bila suatu saat Anda butuh seseorang untuk menguatkan Anda di saat sulit? Jangan-jangan Anda tidak punya kesempatan untuk mengeluh karena semua sudah diborong pasangan Anda.

Saya tidak tega untuk menyebutnya sebagai sakit jiwa. Tapi itulah kenyataan untuk menyebut mereka yang terganggu kepribadiannya.

Gangguan ini bisa muncul dalam perilaku yang menurut kita “ajaib”.

Misalnya dengan cepat berubah mood-nya, dari senang menjadi sebal tanpa alasan jelas, atau marah-marah untuk hal sepele.

Saya pernah menjumpai seorang gadis cantik di kereta komuter yang tanpa basa-basi memarahi pasangannya di depan umum hanya karena tidak mendengar bunyi telepon sehingga dia harus mencari-cari cowok itu di stasiun.

Dia berteriak dan memaki habis-habisan, sampai-sampai pasangannya kehabisan kata-kata dan memilih diam.

Bila Anda mendambakan kehidupan rumah tangga yang damai, pasangan dengan sifat seperti ini jelas tidak cocok. Anda tentu tidak ingin menyetel musik metal keras-keras setiap hari untuk mengimbangi amarahnya kan?

Ini adalah jenis perempuan yang berperilaku seperti boss. Ia adalah satu-satunya pengambil keputusan dan tidak menganggap usulan kita sebagai sesuatu yang patut dipertimbangkan. Ia yang menentukan ke mana Anda harus mengajaknya makan, pakaian apa yang harus Anda pakai, dengan siapa Anda boleh bergaul dan hal-hal lain.

Pasangan yang sangat mendikte ini akan menjauhkan para pria dari teman-temannya. Lama kelamaan Anda akan kehilangan harga diri. Maka sudah saatnya Anda meninggalkan dia dan mendapatkan kembali kehidupan merdeka Anda.

Anda tentu suka bila dirindukan pasangan, atau merasa senang bila pasangan mengingatkan agar Anda tidak lupa makan.

Tapi bayangkan bila pasangan begitu posesif sehingga Anda tidak boleh meninggalkan dia meski hanya sebentar.

Bayangkan bila tiap tiga puluh menit dia menanyakan Anda ada di mana. Bayangkan bila setiap Anda terlambat membalas pesannya atau tidak segera mengangkat telpon dia akan merajuk.

Memiliki pasangan seperti ini bakal membuat gerak Anda terbatas. Lupakan kumpul bersama teman-teman, lupakan nonton konser ramai-ramai, lupakan juga hobi Anda, karena setiap saat Anda harus siap melapor.

Nah bila saat ini Anda mengencani orang yang memiliki salah satu sifat tersebut, pikirkan kembali dampaknya terhadap hidup Anda.

Dengan sifat-sifat seperti itu, akan sulit menciptakan kebahagian dalam rumah tangga kita. Bukankah kita menginginkan keluarga yang harmonis dan penuh cinta?

Komentar