Ini Kalori Terbakar Saat Berhubungan Seks

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 18 Agustus 2017 | 15:59 WIB

Dibaca: 1 kali

Banyaknya keringat yang diproduksi saat berhubungan suami istri, membuat banyak orang berpikir jika aktifitas yang bisa membuat pasangan menjaga keharmonisan hubungannya ini juga bisa membantu pembakaran kalori yang tentu berimbas pada berat badan yang tetap ideal.

Lantas berapa banyak kalori yang bisa dibakar saat berhubungan intim?

Dikutip dari doktersehat.com, pakar kesehatan menyebutkan bahwa jika pasangan melakukan hubungan intim selama dua puluh lima menit, akan mampu membakar kalori sebanyak seratus satu kalori bagi kaum pria dan enam pulouh sembilan kalori bagi wanita.

Jika durasi berhubungan intim ini lebih lama, bisa jadi kalori yang terbakar juga akan lebih banyak.

Adanya perbedaan banyaknya kalori yang terbakar ini juga disebabkan oleh kecenderungan pria yang lebih aktif saat berhubungan intim dibandingkan dengan wanita.

Pembakaran kalori saat berhubungan intim ini ternyata setara dengan jika kita melakukan beberapa jenis olahraga lainnya.

Sebagai contoh, jika kita berjalan kaki, maka pria harus berjalan sejauh  satu setenga mil, dan wanita harus berjalan sejauh satu koma dua puluh tujuh mil untuk mendapatkan pembakaran kalori yang setara dengan saat berhubungan intim.

Sementara itu, untuk olahraga lari, pria harus berlari sepanjang satu koma satu mil dan wanita harus berlari satu mil.

Jika kita bandingkan dengan olahraga berenang, maka pria harus berenang selama dua puluh  menit dan wanita harus melakukanya selama enam belas menit.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan olahraga yoga, maka pria harus melakukannya selama sekitar tiga puluh empat menit dan wanita harus melakukanya selama dua puluh sembilan menit.

Adanya perbandingan ini menunjukkan fakta bahwa berhubungan intim memang bisa membuat kita membakar kalori yang cukup banyak.

Hal ini berarti, jika anda kesulitan untuk mencari waktu untuk berolahraga karena berbagai kesibukan namun ingin menjaga berat badan tetap ideal, mengapa tidak lebih sering berhubungan intim saja dengan pasangan?

Selain masalah pembakaran kalori berhubungan seks menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan berjudul The Journal of Gerontology Series B akan membuat kinerja otak semakin membaik.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Dilansir doktersehat.com, penelitian yang dilakukan dengan melibatkan tujuh puluh tiga partisipan yang memiliki usia lima puluh  hingga delapan puluh tahun ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana dampak berhubungan intim pada tubuh jika seseorang semakin kerap berhubungan intim.

Selama dua belas bulan, para partisipan ini dimintai keterangannya tentang seberapa sering mereka berhubungan intim, seberapa lama mereka melakukannya, kondisi kesehatan tubuh, serta gaya hidup yang dilakukan.

Setelahnya, partisipan yang terdiri dari dua puluh delapan pria dan empat puluh lima wanita ini juga dicek kondisi fungsi otaknya, khususnya dalam hal daya ingat, kelancaran melakukan berbagai hal, bahasa, kinerja spasial, serta perhatian.

Hasilnya adalah, mereka yang kerap melakukan hubungan intim mendapatkan nilai tinggi dalam serangkaian tes mental.

Tak hanya itu, kelancaran verbal, kemampuan melihat berbagai obyek, serta menilai jarak antar benda juga cenderung semakin meningkat.

Pakar kesehatan yang terlibat dalam penelitian ini. Dr. Hayley Wright yang berasal dari Coventy University menyebutkan bahwa berhubungan intim yang lebh sering berimbas positif dalam hal meningkatnya kemampuan verbal atau kinerja visual seseorang.

Sayangnya, hal ini tidak berdampak pada meningkatnya perhatian, daya ingat, atau penguasaan kosa kata.

Penelitian lainnya yang dilakukan di Oregon State University menghasilkan fakta bahwa karyawan yang cenderung lebih sering berhubungan intim mengalami peningkatan semangat kerja dan kepuasan kerja.

Menurut penelitian ini, berhubungan intim bisa membuat produksi hormon seks dopamine dan oksitosin terus terjadi hingga dua puluh empat  jam dan hal ini bisa berpengaruh besar bagi kinerja otak sekaligus mental seseorang

Sebuah tulisan lainnya menganjurkan agar kita berhubungan intim secara rutin dua kali dalam sepekan

Frekuensi  ini ideal

Apa alasan dari rekomendasi ini?

Dilansir doktersehat.com, rekomendasi ini ditemukan dalam hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal berjudul Journal of Sexual Medicine. Dalam penelitian yang dilakukan dengan cara mensurve dan  para partisipan diminta untuk menjawab pertanyaan tentang kebiasaan mereka melakukan hubungan intim, khususnya tentang seberapa sering mereka melakukannya.

Selain itu, para partisipan ini juga diambil sampel darahnya agar bisa dijadikan bahan beberapa tes tertentu.

Setelah melakukan berbagai tes pada sampel darah dan membandingkannya dengan frekuensi melakukan hubungan intim, diketahui bahwa pasangan yang melakukan hubungan intim dengan frekuensi sangat jarang, yakini kurang dari sekali dalam sebulan, akan memiliki senyawa kimia homosistein lebih tinggi dari mereka yang melakukan hubungan intim lebih sering, khususnya dua kali dalam sepekan.

Senyawa homosistein yang termasuk asam amino ini ternyata terkait dengan resiko penyakit jantung dan kerusakan pada pembuluh darah.

Sebagai informasi, semakin tinggi kadar senyawa ini, semakin banyak pula pembentukan plak pada pembuluh darah yang bisa meningkatkan resiko terkena serangan jantung.

Yang menarik adalah, kaitan antara frekuensi berhubungan intim dengan peningkatan resiko penyakit jantung ini ternyata hanya ditemukan pada pria dan tidak terjadi pada kaum wanita.

Pakar kesehatan menduga jika hal ini disebabkan oleh rangsangan seksual pada wanita yang tidak berkaitan dengan aliran darah sebagaimana yang sangat berperan dalam ereksi pada kaum pria.

Sayangnya, penelitian ini belum berhasil membuktikan apakah semakin sering berhubungan intim bisa membuat kadar senyawa homosistein bisa menurun atau tidak.

Satu hal yang pasti, ada baiknya memang kita semakin rutin berhubungan intim karena selain menyenangkan untuk dilakukan, hal ini bisa membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Komentar