Ini Dia Gejala Awal Pikun Yang Diabaikan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 11 Januari 2018 | 14:28 WIB

Dibaca: 0 kali

Pikun atau demensia?

Ya. Pikun atau demensia adalah suatu “penyakit” yang menakutkan dan selalu dikaitkan dengan mereka yang memasuki usia ”senja.”

Sebenarnya, pikun atau demensia itu hakekatnya bukan penyakit.

Demensia adalah kelainan neurologis kronis di mana kematian sel otak menyebabkan hilangnya memori dan penurunan cara berpikir.

Orang awam sering menyebut penyakit ini sebagai “pikun”. Gejala demensia bisa semakin parah seiring berjalannya waktu. T

idak ada cara pasti untuk mencegah demensia. Namun, mengubah gaya hidup sedini mungkin dapat membantu menurunkan risiko terkena demensia saat Anda tua nanti.

Ia merupakan suatu kondisi yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak. Banyak orang menyebutnya dengan istilah pikun.

Penderita demensia biasanya mengalami penyusutan daya ingat, kemampuan berpikir, kesulitan memahami sesuatu, hingga menurunnya kecerdasan mental.

Kondisi umum ini biasa menyerang lansia di atas usia enam puluh lima tahun. Tapi, gejala awalnya sudah bisa muncul sejak di usia tiga puluh hingga empat puluh tahun.

Penelitian menunjukkan, kondisi rumit ini ditandai dengan sejumlah gejala, terutama di fase awal.

Namun, seringkali gejala-gejala tersebut tidak mudah dikenali.

Lantas, bagaimana kita bisa tahu apakah orang-orang yang kita cintai menunjukkan tanda-tanda Alzheimer atau bentuk demensia lainnya?

Menurut ahli neuropsikologis, Katherine Rankin, setiap perubahan yang berbeda dari perilaku atau kemampuan biasa seseorang, bisa menjadi perhatian.

Menurut Rankin, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang tak lagi bisa mengenali sarkasme atau kebohongan orang lain, diduga menjadi salah satu gejala awal demensia.

Penderita dementia frontotemporal tidak mampu mengenali kebohongan atau sikap sarkastik, sementara penderita demensia lain dan alzheimer, mampu melakukannya.

Terus menerus tersandung kaki sendiri? Semua orang memang bisa mengalami jatuh, tapi sering jatuh bisa menjadi sinyal awal alzheimer.

Sebuah studi pada tujuh tahun lalu yang dipresentasikan di Alzheimer’s Association International Conference di Paris mengamati scan otak dari seratus dua puluh lima orang tua.

Para responden itu diminta menghitung seberapa sering mereka tergelincir dan tersandung selama rentang waktu delapan bulan.

Hasilnya? Peserta yang menunjukkan tanda-tanda awal alzheimer mengalami jatuh lebih sering dibandingkan yang tidak.

Beberapa orang muda pada tahap awal demensia awal kehilangan pengertian norma sosial mereka.

Mencuri, berperilaku yang tidak pantas seperti melakukan ujaran kebencian, pelecehan seksual, merupakan tanda-tanda demensia.

Demensia awal bisa menyerang orang sejak usia tiga puluhan dan empat puluhan.

Fase itu jauh sebelum ada orang di sekitar mereka yang menganggap perilaku out-of-character dan melanggar hukum itu sebagai tanda kepikunan.

Jika seseorang yang biasanya manis, perhatian, dan sopan mulai mengatakan hal yang menghina atau tidak pantas -dan tidak menunjukkan kesadaran akan ketidaktetapan atau perhatian mereka atau penyesalan tentang apa yang telah mereka katakan– bisa jadi itu menunjukkan tanda awal demensia.

Karena tidak dapat mengenali perasaan orang lain tentang sebuah situasi, bukanlah satu-satunya gejala demensia. Mereka juga kemungkinan kehilangan kemampuan untuk memahami rasa malu.

Ini adalah tanda demensia multi-faceted: mereka sendiri tidak merasa malu dengan situasi yang mereka hadapi, dan mereka juga tidak mengerti situasi orang lain.

Salah satu tanda awal klasik penyakit Alzheimer adalah meningkatnya kesulitan pengelolaan uang.

Ini mungkin bisa dimulai dari kesulitan menyeimbangkan pengeluaran, mengelola biaya, dan tagihan.

Seiring dengan perkembangan penyakit ini, kesulitan-kesulitan seperti ini akan semakin parah.

Banyak yang menganggap ini sebagai hal yang normal, bagian dari penuaan. Namun, menurut Rankin, ini bukanlah penuaan yang sehat tapi penyakit.

Sebenarnya Anda bisa mencegah demensia sejak muda.

Untuk mencegah demensia sebaiknya Anda mulai mengubah gaya hidup

Lakukanlah olahraga teratur adalah cara paling efektif untuk menangkal penurunan kognitif akibat demensia dan mengurangi risiko penyakit Alzheimer.

Terlebih lagi, olahraga rutin juga bisa memperlambat kerusakan saraf otak lebih lanjut pada orang-orang yang sudah terlanjur mengembangkan masalah kognitif. O

lahraga melindungi terhadap Alzheimer dengan merangsang kemampuan otak untuk mempertahankan koneksi saraf yang lama dan juga membuat yang baru.

Sesi olahraga yang baik sebaiknya terdiri dari variasi latihan kardio, latihan kekuatan (beban), dan keseimbangan atau kelenturan tubuh. Latihan kardio membantu jantung memompa lebih banyak darah segar ke otak yang bisa digunakan sebagai energi.

Latihan kekuatan berguna untuk membangun massa otot untuk memompa kerja otak. Latihan keseimbangan dan koordinasi dapat membantu Anda tetap tangkas dan menghindari jatuh yang bisa menyebabkan cedera kepala.

Cedera kepala menjadi salah satu faktor risiko demensia dan Alzheimer.

Nutrisi ini dapat mengimbangi efek negatif dari karbohidrat sederhana karena tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna ketiganya, sehingga akan memperlambat penyerapan nutrisi lainnya dalam makanan Anda, termasuk karbohidrat.

Selain itu jika mood Anda sangat buruk seakan dunia berakhir ketika kurang tidur, waspadalah. Anda mungkin berisiko lebih tinggi untuk terkena gejala penyakit Alzheimer. Sudah umum bagi penderita demensia dan penyakit Alzheimer untuk menderita insomnia atau masalah tidur lainnya.

Namun penelitian baru menunjukkan bahwa gangguan tidur bukan hanya timbul sebagai gejala Alzheimer, namun termasuk juga faktor risikonya.

Kualitas tidur yang buruk meningkatkan produksi protein “sampah” beta-amiloid di otak yang terkait dengan perkembangan gejala demensia dan Alzheimer.

Tidur nyenyak terutama diperlukan untuk membuang racun otak dan pembentukan ingatan yang lebih kuat. Pada umumnya orang dewasa membutuhkan setidaknya delapan jam tidur setiap malam.

Komentar