Ingat, Orang Pintar Itu Punya Teman Sedikit

Penulis: Darmansyah

Senin, 19 Desember 2016 | 15:15 WIB

Dibaca: 1 kali

Kalau Anda termasuk salah seorang yang pintar, dipastikan Anda tidak memiliki teman yangf banyak. Begitu ditulis media sangat terkenal “washinton post,” dalam edisi terbaru, Senin, 19 Desember 2016.

Di rubric “lifestyle”nya, Post mengungkapkan, mereka yang luar biasa pintar,  berdasarkan sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Psychology oleh Satoshi Kanazawa dan Norman Li,  tidak suka memiliki banyak teman.

Pada awalnya, Kanazawa dan Li hanya ingin tahu korelasi antara kepadatan penduduk dan kebahagiaan dalam surveuinya.

Dari sana, mereka menemukan bahwa semakin padat area tempat tinggal responden, semakin berkurang juga kebahagiaan mereka.

Namun, korelasi ini bisa berubah bila kepadatan ini berisi teman dan keluarga yang mereka kenal. Bila demikian, mereka justru merasa bahagia karena bisa tinggal dekat dengan orang-orang yang mereka sayangi.

Akan tetapi, rupanya hal yang sama tidak terjadi pada orang-orang dengan level IQ tinggi.

Sebab, efek kepadatan penduduk ini dua kali lipat lebih terasa bagi orang-orang dengan level IQ tinggi daripada dengan level IQ rendah.

Selain itu, Kanazawa dan Li juga menemukan bahwa orang-orang dengan level IQ tinggi justru menjadi semakin tidak puas dengan kehidupannya bila sering bersosialisasi atau menghabiskan waktu bersama teman.

Jadi, jangan bersedih bila Anda tidak mempunyai teman atau merasa stres ketika dihadapkan dengan situasi sosial. Bisa jadi alasannya adalah karena Anda memiliki level IQ yang tinggi.

Sebagian orang cerdas akan memilih menghabiskan waktu untuk memikirkan dan mengerjakan sesuatu untuk masa depannya, dibanding berinteraksi sosial.

Bagi mereka yang memiliki kecerdasan lebih tinggi korelasinya secara drastis berkurang.

“Pengaruh kepadatan penduduk pada tingkat kepuasan hidup itu dua kali lebih besar untuk individu yang tingkat IQ-nya rendah”.

Jadi yang dimaksud adalah semakin cerdas anda, maka akan semakin kurang puas anda dengan kehidupan yang mengharuskan bersosialisasi lebih sering. Tapi kenapa ya?

Orang yang memiliki IQ lebih tinggi dan kemampuan untuk menggunakan kecerdasan mereka tidak begitu menyukai menghabiskan waktu untuk bersosialisasi. Orang-orang cerdas akan berfokus pada tujuan jangka panjang.

ereka memaksa dan mendorong untuk menggunakan kecerdasan mereka untuk membuat sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Sebagai contoh, orang yang masih melanjutkan studinya ke jenjang Pasca Sarjana atau memulai bisnis mereka sendiri.

Maka yang akan mereka lakukan adalah mengejar ambisi dan tujuan mereka dengan meminimalkan interaksi sosial dan tetap pada tujuan mereka.

Ketika mengejar tujuan jangka panjang, orang cerdas lebih suka untuk tinggal di rumah atau bekerja menuju impian dan ambisi mereka, daripada menghabiskan malam minggunya untuk kumpul dengan beberapa teman.

Akan tetapi ini bukan berarti tidak menghargai persahabatan mereka.

Tapi ketika orang-orang cerdas ini ingin mencapai sesuatu yang besar atau ambisi besarnya akan menganggap interaksi sosial sebagai sebuah gangguan.

Otak manusia itu semakin berkembang dan berevolusi untuk memenuhi segala tuntungan yang ada di lingkungan.

Seperti kepadatan penduduk akan merubah gaya hidup kita seperti berburu dan mengumpulkan sesuatu.

Kehidupan membuat kita berubah secara drastic dan mengharuskan kita untuk berinteraksi sama yang lainnya.

Orang-orang cerdas mungkin lebih mampu untuk menghadapi tantangan baru dunia modern.

Artinya orang-orang cerdas memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memecahkan segala masalah dan memiliki waktu lebih untuk mengatasi dan menghadapi situasi baru.

Ketika anda semakin cerdas, anda akan lebih mampu untuk beradaptasi dengan banyak hal. Dan anda lebih mampu membuang kebutuhan seperti bersosialisasi ketika anda sedang mengejar mimpi dan ambisi anda.

Otak manusia itu semakin berkembang dan berevolusi untuk memenuhi segala tuntungan yang ada di lingkungan.

Seperti kepadatan penduduk akan merubah gaya hidup kita seperti berburu dan mengumpulkan sesuatu.

Kehidupan membuat kita berubah secara drastic dan mengharuskan kita untuk berinteraksi sama yang lainnya.

Orang-orang cerdas mungkin lebih mampu untuk menghadapi tantangan baru dunia modern.

Artinya orang-orang cerdas memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memecahkan segala masalah dan memiliki waktu lebih untuk mengatasi dan menghadapi situasi baru.

Ketika anda semakin cerdas, anda akan lebih mampu untuk beradaptasi dengan banyak hal. Dan anda lebih mampu membuang kebutuhan seperti bersosialisasi ketika anda sedang mengejar mimpi dan ambisi anda.

Sebuah studi lainnya yang baru saja dipublikasikan dalam jurnal PloS One akan membuat Anda mempertanyakan teman-teman yang Anda miliki.

Peneliti dari Tel Aviv University dan Massachusetts Institute of Technology menemukan bahwa setengah dari orang-orang yang kita kira teman tidak berpikir demikian.

Survei tersebut mempelajari sebuah kelas kuliah  dan meminta responden untuk menilai teman sekelas mereka dengan angka

Para murid juga diminta  untuk memperkirakan ranking mereka dalam jawab teman sekelasnya.

Hasilnya menunjukan  para murid berpikir bahwa pertemanan mereka akan menerima balasan, dan hanya setengah persen yang benar-benar mendapatkannya.

“Jika Anda berpikir bahwa sesorang adalah teman Anda, Anda mengira bahwa dia juga merasakan hal yang sama,” kata salat satu penulis, Erez Shumeli, “namun, hal tersebut tidak selalu benar.”

Hasil dari penelitian ini juga konsisten dengan survei  pertemanan

“Penemuan ini menunjukan ketidakmampuan manusia untuk menebak pertemanan, mungkin karena pertemanan yang tidak dibalas menantang gambaran diri seseorang,” jelas artikel tersebut.

Kemudian, para peneliti juga membuat sebuah alogaritme untuk menghitung efek pertemanan dengan tekanan sosial dan kebiasaan hidup.

Mereka menemukan bahwa pengaruh sosial sesorang bergantung pada pertemanan yang dimiliki.

Dengan kata lain, Anda patut menemukan siapa teman Anda sebenarnya, yaitu orang-orang yang juga menganggap Anda teman mereka.

Komentar