Menyukai Selfie Pertanda Gangguan Jiwa?

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 19 Desember 2017 | 14:34 WIB

Dibaca: 0 kali

Seorang psikolog India, seperti ditulis media terkenal Inggris “the telegraph,” hari ini, Selasa, 19 Desember, menuding mereka yang suka swafoto atau selfie adalah orang  dengan gangguan mental

Tudiangan ini langsung menimbulkan pendapat pro dan kontra.

Untuk diketahui swafoto kerap dilakukan oleh sebagian besar orang.

Bahkan, ada pula yang memiliki swafoto sampai ribuan di ponselnya sampai-sampai jejeran foto dalam media sosial yang dipajang hanya swafoto.

Beberapa orang yang melihat hal ini mungkin ada yang menganggap biasa saja, namun ada pula yang risih melihat hal tersebut.

Jika psikolog yang melihat hal seperti ini, mereka justru akan mengatakan bahwa orang seperti itu adalah orang yang sangat membutuhkan pertolongan.

Para psikolog menyebutnya sebagai selfitis. Sebuah kondisi gangguan mental yang membuat seseorang harus terus memotret dirinya dan memasukkan ke media sosial.

Istilah itu pertama kali diciptakan pada tiga tahun lalu, untuk menggambarkan obsesi melakukan swafoto.

Saat itu, American Psychiatric Association menyarankan untuk mengklasifikasikan masalah ini sebagai sebuah gangguan. Tapi kemudian hal ini dikabarkan hanya hoax dan digugurkan.

Terkait hal tersebut, peneliti dari Nottingham Trent University dan Thiagarajar School of Management di India memutuskan untuk menyelidiki kebenarannya.

Hasilnya, mereka membenarkan bahwa selfitis memang ada dan bahkan sudah membuat skala perilaku selfitis agar bisa mengukur tingkat keparahannya.

“Beberapa tahun yang lalu, kondisi selfitis akan digolongkan sebagai gangguan mental oleh American Psychiatric Association.”

“Hal tersebut kemudian disebut hoax. Tetapi kami mengkonfirmasi selfitis memang ada dan kami mengembangkan penelitian dengan membuat skala perilaku selfitis untuk mengukur kondisi seseorang,” kata Dr Mark Griffiths, Profesor ketergantungan perilaku dari departemen Psikologi, Nottingham Trent University.

Peneliti membuat skala satu banding seratus  yang dikembangkan lewat grup fokus berisi dua ratus  peserta, lalu diujikan lewat survei dengan empat ratus peserta.

Tim mengembangkan dua puluh pernyataan yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat keparahan selfitis dengan mengukur seberapa sering seseorang memberi tanda setuju terhadap kepekaan perasaannya.

Misalnya seperti pernyataan, “saya merasa lebih populer saat saya mengunggah diri saya di media sosial”, atau pernyataan, “ketika saya tidak melakukan swafoto, saya merasa terlepas dari kelompok pergaulan saya”.

Para partisipan berasal dari India karena pengguna Facebook terbanyak ada di negara ini. Selain itu, India juga disebut memiliki jumlah kematian terbanyak karena melakukan swafoto di lokasi berbahaya.

Penemuan yang sudah dipublikasikan di International Journal of Mental Health and Addiction menemukan ada tiga tingkatan selfitis.

Tingkatan borderline  adalah orang yang mengambil swafoto sebanyak tiga kali sehari tapi tidak mengunggah foto tersebut ke media sosial.

Kemudian tingkat akut, di mana foto diunggah ke media sosial.

Terakhir adalah tingkat kronis, di mana orang merasakan dorongan yang tak terkendali untuk berswafoto sepanjang waktu dan mengunggahnya ke media sosial lebih dari enam kali sehari.

Dari hasil tersebut, peneliti mengungkap bahwa penderita selfitis termasuk orang yang suka mencari perhatian, kurang percaya diri dan berharap dapat meningkatkan status sosial mereka, dan merasa akan menjadi bagian dari kelompok dengan cara memajang gambar dirinya sendiri.

“Biasanya mereka yang kurang memiliki rasa percaya diri, mereka akan berusaha menyesuaikan diri dengan orang sekitar. Hal ini menunjukkan gejala yang serupa dengan potensi perilaku adiktif lainnya,” kata Dr Janarthanan Balakrishnan, rekan peneliti dari Departemen Psikologi, Nottingham Trent University.

“Kini kondisi tersebut sudah dikonfirmasi dan diharapkan adanya penelitian lebih lanjut untuk lebih memahami bagaimana dan mengapa orang berperilaku seperti ini dan apa yang bisa dilakukan untuk menolong mereka,” sambungnya.

Tidak hanya selfitis, gangguan mental yang diidentifikasi muncul karena pengaruh teknologi. Selain itu ada nomofobia, kondisi yang muncul saat seseorang merasa takut tidak berada di dekat ponsel.

Ada juga technoference, gangguan sehari-hari karena perangkat teknologi. Terakhir adalah gangguan cyberchondria, yakni merasa sakit setelah melakukan pencarian gejala penyakit secara online.

Meski begitu, penelitian yang sudah terbit di jurnal Internasional itu tetap menjadi perdebatan. Terutama untuk kasus selfitis.

Sir Simon Wessely, Guru Besar Psikologi Kedokteran dari King’s College London melihat, kesimpulan dari penelitian ini adalah orang yang sering melakukan swafoto bertujuan untuk memperbaiki mood, menarik perhatian, meningkatkan kepercayaan diri, dan berhubungan dengan lingkungan.

“Jika itu benar, maka tulisan ini sendiri merupakan ‘selfie’ akademis,” ujar Wessely.

Hal yang sama juga diutarakan Dr Mark Salter, juru bicara The Royal College of Psychiatrists. Dia yakin bahwa gangguan selfitis tidak pernah ada.

“Ada kecenderungan untuk mencoba dan memberi label berbagai macam perilaku manusia yang rumit dan kompleks dengan satu kata saja, tapi itu berbahaya karena bisa memberi sesuatu kenyataan yang sebenarnya tidak ada,” tegas Salter.

Komentar