“Hobi” Sakiti Diri, Apakah Gangguan Jiwa?

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 4 Mei 2017 | 14:04 WIB

Dibaca: 4 kali

Menyakiti diri sendiri?

Untuk kemudian  menyayat lengan, memukuli diri, atau membenturkan kepala ke tembok?

Itu bisa terjadi ketika seseorang sedang merasa marah, frustasi serta kepedihan emosi lain

Ada dorongan yang sangat kuat untuk melukai diri sendiri

Sesudahnya, emosinya seolah-olah kembali mereda.

Ini adalah secuplik episode dari kebiasaan menyakiti diri, mengerikan bukan?

Ya, meski mengerikan kebiasaan ini nyata dan pelakunya seringkali adalah para remaja. Berbeda dengan kasus bunuh diri, pelaku kebiasaan ini tidak bermaksud untuk menghilangkan nyawanya.

Karena kebiasaan menyakiti diri seringnya akibat dorongan impulsif—muncul secara tiba-tiba menurut kehendak hati, maka tindakan ini dapat dikategorikan sebagai gangguan perilaku impuls-kontrol.

Kebiasaan ini bisa saja merupakan gejala depresi , kelainan perilaku makan, atau gangguan mental lain sehingga bantuan medis mungkin dibutuhkan.

Ya, itu adalah  perilaku gangguan jiwa yang disebut dengan gangguan kepribadian tipe ambang

Dalam bahasa kesehatannya dinamakan dengan borderline personality disorder/ atau “BPD.

Ya bukan “bank pembangunan daerah” lho!

Orang yang memiliki gangguan BPD mencapai dua hingga tiga  persen dari populasi dan mayoritas remaja atau dewasa muda.

Lantas mengapa gejala ini disebut sebagai gangguan “ambang?”

Jawaban yang datang dari para ahli jiwa karena  penderitanya berada di ambang psikosis, antara skizofrenia dan neurosis.

Gangguan ini ditandai dengan perilaku agresif dan kompulsif, yang biasanya banyak terdapat pada individu dengan perilaku kekerasan.

Bukan cuma menyayat-nyayat pergelangan tangan, tapi melakukan perilaku beresiko seperti ngebut-ngebutan, berkelahi, boros belanja, atau minum alkohol sampai mabuk.

Orang dengan gangguan ini memiliki pola perilaku yang berlangsung lama dan berulang.

Orangtua harus memperhatikan ada tidaknya perilaku ini pada anak-anaknya

Ciri lain dari BPD antara lain gangguan identitas atau perasaan diri yang nyata, mood yang tidak stabil, sering kesulitan mengendalikan amarah, atau perasaan kosong yang kronis.

Mereka yang sudah memiliki gangguan BPD ini akan lebih rentan tertarik mengikuti permainan berbahaya di media sosial seperti Blue Whale Challenge.

Untuk mendiagnosis BPD, diperlukan pemeriksaan oleh dokter kesehatan jiwa atau psikiater.

Pemicu gangguan ini sendiri belum jelas, namun penelitian menyebut dikarenakan adanya gangguan pada fungsi otak yang dipicu oleh trauma tindakan kekerasan atau penelantaran di masa anak-anak.

Perilaku menyakiti diri atau tindakan beresiko, menurut Andri, dilakukan penderita untuk mengalihkan perasaannya.

“Mereka merasa sakit hatinya bisa dipindahkan ke sakit fisik. Perasaannya lebih nyaman jika yang sakit fisiknya,” katanya.

Gangguan BPD bisa dikendalikan dengan obat-obatan dan juga psikoterapi.

Tindakan ini sering juga dikenal dengan self injury.

Self injury atau self harm merupakan kelainan psikologis di mana seseorang dengan sengaja melukai diri sendiri.

Aktivitas self injury dapat berupa mengiris, menggores, melukai, membakar kulit, dan mememarkan tubuh. Pada tingkat yang lebih akut, penderita dapat mematahkan tulang mereka sendiri dan menyuntikkan racun ke dalam tubuh.

Dengan kata lain, self injury merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri yang digunakan seseorang untuk mengatasi rasa sakit secara emosional, kekosongan diri, kesepian.

Dengan melukai diri sendiri, maka seseorang merasa rasa sakitnya berkurang, meskipun ia sadar bahwa itu hanya untuk sementara.

Karena pelaku “menikmati” tindakan tersebut, maka self injury dilakukan secara berulang dan menyebabkan kecenduan

Berbeda dengan tindakan bunuh diri, self injury dilakukan untuk melepaskan emosi yang tidak dapat diungkapkan.

Melukai diri dilakukan untuk mengurangi ketegangan, euforia, kemarahan, depresi, kesepian, kehilangan, dan memuaskan keinginan untuk menghukum diri sendiri.

Penderita merasa tenang dan “nyaman” setelah menyakiti dirinya

Komentar