close
Nuga Life

Hati-hati Dampak Dahsyat Pornografi

“Kecanduan” terhadap pornografi?

Awas!

Hati-hati, dampaknya dahsyatnya

“Penyusutan otak,” tulis laman situs “healthy,” hari ini, Jumat, 08 September.

Sebuah studi  terbaru yang pernah dimuat di jurnal JAMA Psychiatry menemukan bahwa pornografi  dapat mengecilkan otak.

Pria yang rutin mengonsumsi pornografi memiliki volume otak yang lebih kecil dan lebih sedikit koneksi di striatum, wilayah otak yang terkait penghargaan dan motivasi.

Kemungkinan, wilayah otak ini menyusut karena orang menjadi terbiasa melihat gambar porno sehingga lama kelamaan mereka menganggapnya kurang memuaskan.

Namun, daerah otak yang sama juga lebih kecil pada orang-orang yang mengalami depresi.

Orang-orang depresi cenderung tidak berada dalam hubungan atau memiliki kehidupan yang sibuk.

Jadi, mungkin saja orang yang mengalami depresi lebih cenderung melihat konten pornografi.

Oleh karena itu, peneliti berspekulasi bahwa pengecilan otak mungkin terjadi bukan karena pornografi, melainkan karena depresi.

Ya, pornografi  menjadi pusat perhatian para ilmuwan

Seperti juga ditulis Science Joseph J. Plaud, seorang psikolog forensik klinis pribadi di Boston, Massachusetts, telah mempelajari efek pornografi.

Seperti halnya makan, minum, dan tidur, seks merupakan salah satu dorongan manusia yang paling mendasar.

Menurut dia, hal itu berarti pornografi mengaktifkan bagian otak kuno seperti sistem limbik yang juga mengendalikan emosi dasar layaknya rasa takut dan marah.

Ketika seseorang melihat konten seksual, dopamin membanjiri daerah otak ini dan menyebabkan perasaan senang yang luar biasa.

Seiring waktu, orang mulai mengkaitkan konten ekspilist tersebut dengan perasaan senang. Apapun yang terkait dengan hal itu, bahkan gambar kelinci khas

Playboy sekalipun bisa membuat orang ketagihan akan konten pornografi.

Namun, jika respons kesenangan itu dipicu berulang kali, seseorang akan membutuhkan lebih banyak tayangan seksual untuk mendapatkan kesenangan tersebut.

“Semakin banyak yang Anda lakukan, semakin tinggi tingkat akses, dan semakin eksplisit tayangan yang Anda tonton, Anda sepertinya akan membutuhkan lebih dan lebih banyak lagi,” kata Plaud kepada Live Science.

Sebuah penelitian llainnya yang diterbitkan di Journal of Sex Research mengungkapkan bahwa menghindari menonton video porno bisa membuat orang lebih menghargai sebuah imbalan.

Dibandingkan dengan orang-orang yang tidak makan makanan favorit mereka, orang-orang yang diminta menghindari pornografi selama tiga minggu menunjukkan tingkat “delay discounting” yang lebih rendah.

Delay discounting adalah fenomena disaat hadiah menjadi kurang berharga seiring bertambahnya waktu untuk mendapatkannya.

Hal ini berarti orang yang menghindari pornografi bersedia menunggu lebih lama untuk mendapat hadiah.

Jadi, peneliti menemukan bahwa hanya dengan menghindari pornografi bisa membuat orang memiliki pola pikir jangka panjang.

Sebuah studi di jurnal Psychology of Addictive Behavior menemukan bahwa persepsi tentang kecanduan pornografi berkaitan dengan tekanan psikologis.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sex Roles, wanita yang menjalani hubungan dengan pencandu konten pornografi melaporkan bahwa mereka kurang bahagia dalam hubungan tersebut.

Meskipun para ilmuwan telah berusaha menguak efek pornografi pada otak, masih banyak yang tidak mereka mengerti, terutama tentang dampak pornografi jangka panjang terhadap pemirsa muda.

“Saya pikir pornografi mungkin memiliki implikasi yang sangat besar di masa depan,” ujar Plaud.

Sebuah studi yang dipresentasikan di  American Psychological Association di Washington DC juga mengungkapkan hal mengejutkan.

Menurut studi itu, usia ketika pria pertama kali melihat hal yang berbau pornografi tampaknya memengaruhi pandangan mereka mengenai wanita di kemudian hari.

Melansir Live Science, studi ini melibatkan tiga ratusan pria sarjana di sebuah universitas besar  Midwestern. Para peserta ditanya mengenai berapa umur mereka saat pertama kali menonton video porno.

Partisipan juga diberikan pertanyaan-pertanyaan yang mengukur seberapa besar mereka setuju dengan sikap tradisional maskulin pria terhadap wanita.

Sikap maskulin tersebut mencakup keinginan untuk berkuasa atas wanita dan keinginan untuk menjadi seorang playboy.

Rata-rata, para partisipan mengatakan bahwa mereka pertama kali melihat video porno saat berusia sekitar tiga belas tahun..

Periset pun tidak menyangka dengan temuan itu

“Temuan itu (pria yang lebih tua saat pertama melihat konten pornografi cenderung playboy telah memicu banyak pertanyaan dan gagasan penelitian potensial.

Hal itu sangat tak terduga jika didasarkan pada apa yang kita ketahui tentang sosialisasi peran gender dan paparan media,” ujar rekan penulis studi, Chrissy Richardson dari Universitas Nebraska.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memeriksa kemungkinan adanya keterkaitan faktor lain dengan hasil penelitian tersebut.

Bisa jadi, ada faktor yang tidak dinilai dalam penelitian yang telah dilakukan. Faktor-faktor seperti seberapa religiusnya peserta, kecemasan kinerja seksual, atau pengalaman seksual yang buruk dapat membantu menjelaskan relasinya.

Namun, para periset mengatakan temuannya menunjukkan bahwa melihat pornografi dapat memengaruhi perilaku pria, terutama pandangan mereka mengenai peran seks.

Menurut periset, temuan ini sangat bermanfaat.

Dengan mengetahui lebih banyak tentang hubungan antara pandangan pria terhadap pornografi dan keyakinan mereka terhadap wanita dapat membantu upaya pencegahan serangan seksual