Hati-hati, Hobi Selfie Itu “Penyakit Jiwa”

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 8 Januari 2015 | 09:34 WIB

Dibaca: 0 kali

Pernah mendengar atau membaca istilah “selfitis?”

Mungkin kita yang berada di Indonesia hanya mendengarnya sayup-sayup.

Lantas apa yang dimaksud dengan “selfitis.”

Selfitis? Ya itulah “penyakit” peradangan ego pada seseorang yang terlalu banyak melakukan selfie.

Berdasarkan laman “Psychology Today,” selfitis dinyatakan sebagai gangguan mental oleh “American Psychological Association.”

Benarkah selfie secara inheren adalah narsistik?

Bukankah setiap orang yang memiliki penyakit narsis butuh kolam refleksi, seperti halnya Narcissus yang menatap ke kolam untuk mengagumi dirinya?

Zaman yang modern telah menjadikan media sosial seperti Facebook seolah-olah kolam modern kita untuk terus mengagumi diri.

Namun, tidakkah kita terlalu cepat mengaitkan media sosial dengan perilaku narsis?

Sebelumnya telah dilakukan penelitian terhadap empat ratus orang. Bagaimana perilaku mereka terhadap Facebook, berapa jam per hari waktu yang mereka habiskan untuk mengutak-atik Facebook, serta berapa kali mereka memperbarui status mereka.

Orang narsis memiliki pandangan yang berlebihan terhadap daya tarik mereka dan ingin berbagi dengan dunia.

Namun, pertanyaan ini lumrah diajukan, karena boleh diakui banyak orang melakukan selfie, mungkin Anda sendiri pun melakukannya.

Pada batasan apa seseorang yang melakukan selfie disebut mengalami gangguan narsistik atau narcissistic personality disorder?

Perilaku selfie sebetulnya tidak mengenal batasan usia. Lihat saja para aktor atau bahkan presiden yang melakukannya.

Itu bisa dilakukan di setiap tahapan usia. Memang tahap remaja adalah tahap tumbuh kembang, di mana kepedulian terhadap diri lebih tinggi. Tapi bukan berarti di usia lain tidak begitu..

Selfie yang sudah masuk pada tahap gangguan, manakala perilaku tersebut telah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.

Namun, dalam ilmu psikologi pun ada takaran untuk terjadinya gangguan kejiwaan. Dengan kata lain, tidak bisa disebut sembarangan.

Takaran tersebut melewati batas normal sampai mengganggu fungsi sehari-hari dan membuat orang tersebut mengalami distres.

Sebuah kasus bahkan pernah terjadi di Inggris. Pertengahan tahun lalu, remaja sembilan tahun tahun mencoba bunuh diri lantaran foto selfie-nya dia anggap tidak sempurna.

Fenomena selfie sebetulnya membuat heboh dunia sejak 2013. Kian canggihnya perangkat teknologi ditambah dengan aplikasi-aplikasi telepon pintar mendorong orang-orang memamerkan foto-foto selfie mereka. Selfie adalah foto diri sendiri yang biasanya diambil lewat telepon pintar lalu dibagikan ke berbagai media sosial.

Dunia telepon genggam dijejali oleh foto-foto selfie. Seolah tidak pernah merasa lelah memamerkan diri kepada dunia. Ketika fenomena ini kian mewabahi kehidupan, ada pemikiran ‘terganggukah kejiwaan orang-orang pelaku selfie?’

Sosial media, bisa jadi itu adalah penyulut fenomena selfie. Sebutlah Facebook, Twitter, Instagram, atau Path, di mana lagi kita bisa menemukan seseorang memajang foto diri dari waktu ke waktu?

Teknologi telah menjadi faktor utama pendukung eksistensi manusia.

Teknologi telah memfasilitasi kebutuhan orang untuk narsis dan memudahkan orang untuk eksis. Kini semakin mudah orang dengan hobi tertentu memasang foto hasil karya mereka agar bisa dinikmati pula oleh orang lain di media sosial.

Sebenarnya, teknologi sosial media tidak melulu memfasilitasi selfie, tapi juga eksistensi diri yang positif, seperti berbisnis.

Komentar