Hasil Riset, Orang Yang Pelit Juga Irit Seks

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 5 Agustus 2016 | 09:43 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs terkenal dari media Inggris, “daily star,” Jumat. 05 Agustus 2016, menurunkan tulisan pendek tapi menarik tentang orang pelit yang juga irit dalam aktifitas seks.

Benarkah?

Mungkin terdengar janggal. Mungkin juga tak ada hubungan antara pelit dan seks.

Namun begitu, tulis “daily star,”  riset terkini mengungkapkan bahwa orang yang rajin beramal dan tidak pelit dengan lingkungan sekitarnya memiliki kehidupan seksual yang bahagia.

Riset yang melibatkan seratusan orang pilihan yang terdiri dari wanitaa lajang dan pria lajang diminta untuk melakukan aktivitas sosial, seperti misalnya donor darah, menyumbang dalam bentuk uang, dan menolong orang yang kesulitan di jalan.

Tahu hasilnya?

Wanita yang lebih penolong dan tidak ragu dalam mendonasikan uang, dianggap paling atraktif dan seksi.

Sementara itu, pria yang juga penolong dan tidak pelit, ditemukan memiliki kehidupan seks yang aktif.

Sebaliknya, kelompok yang mengaku jarang bercinta dan tidak bahagia secara seksual, merupakan responden yang menolak donor darah serta pelit menyumbang.

Peneliti pun melakukan eksperimen lain dengan memberikan sejumlah uang pada responden.

Lalu, responden diberikan pilihan, yaitu menyimpan uang, menyumbangkan semua uang, dan memberikan sebagian uang kepada dana sosial.

Hasilnya, pria yang memberikan seluruh uang untuk dana sosial, terungkap bahwa mereka bahagia dan puas dengan kehidupan seksual masing-masing.

Kondisi serupa juga terjadi pada responden wanita.

Peneliti pun menyimpulkan bahwa hati yang baik, sikap penolong, dan tidak pelit dengan orang lain, meningkatkan daya tarik seseorang sehingga terlihat lebih menarik oleh lawan jenis.

Riset itu juga mengungkapkan tentang perbandingan perselingkuhan antara wanita dan lelaki.

Ternyata,  wanita lebih banyak berselingkuh dibandingkan dengan pria.

Survei itu juga mengklaim, wanita berusia tiga hingga empat puluhan tahun merupakan kelompok umur yang paling mungkin berselingkuh.

Salah satu alasan yang diungkapkan mengapa mereka tidak setia adalah karena merasa tidak dicintai suami, merasa bosan, dan hubungan seks yang tidak memuaskan.

Perasaan tidak dihargai, baik secara fisik maupun emosional, juga menjadi alasan untuk mencari cinta di luar rumah.

Para pakar psikologi juga mengatakan, alasan utama seorang wanita berselingkuh sebenarnya bukan seks, melainkan karena ada hubungan emosional yang kuat dengan orang ketiga, perasaan diterima apa adanya, dan bahagia.

Dibandingkan dengan pria, ternyata kaum wanita lebih pintar dalam hal menutupi perselingkuhannya. Mereka juga lebih bisa menyimpan rahasia dan menutupi “jejaknya” sehingga kemungkinan untuk ketahuan lebih kecil.

Tracey Cox, seorang seksolog, mengatakan, wanita zaman sekarang memang lebih banyak yang berselingkuh karena mereka merasa punya hak untuk bahagia. “Jika dulu wanita yang selingkuh tidak sebanyak sekarang karena mereka mengontrol dirinya sendiri,” katanya.

Walau perselingkuhan tersebut “aman”, kebanyakan orang yang mengkhianati pasangannya akan selalu memiliki perasaan bersalah. Perasaan ini bisa menjadi bom waktu dalam perkawinan.

Hasil riset yang yang juga di dibeberkan oleh General Social Survei dari National Opinion Research, ditemukan fakta, perselingkuhan lebih banyak dilakukan oleh pihak istri ketimbang suami.

Namun, kabar buruknya, presentasi jumlah suami yang berselingkuh tetap stabil dari tahun lalu.

Singkatnya, riset menyimpulkan bahwa jumlah istri yang berselingkuh meningkat hingga lima belas persen. Sementara itu, jumlah suami yang melakukan perselingkuhan tetap berada di angka dua puluh satu persen seperti tahun lalu.

Menurut pakar hubungan dan pernikahan, Patricia Johnson dan Mark Michaels, hal ini disebabkan oleh karena kemampuan wanita dalam menopang hidup secara finansial menunjukkan kemajuan pesat.

Zaman sekarang, tak sedikit wanita yang menikah memiliki penghasilan lebih besar dari suami mereka.

Johnson dan Michaels mengatakan bahwa penghasilan wanita mengalami peningkatan pesat dibandingkan dua puluh tahun yang lalu.

Hal ini membuat wanita lebih mandiri dan bisa bertanggung jawab pada diri sendiri, sehingga membuat mereka tidak terlalu mengkhawatirkan perceraian.

“Komunikasi tak lagi menjadi penyebab utama dari perceraian dan perselingkuhan. Peran pria dan wanita dalam pernikahan, acap kali menciderai hubungan yang kurang perhatian,” ujar Johnson dan Michaels.

Temuan ini senada dengan hasil survei yang dikuak oleh American Academy of Matrimonial Lawyers Chicago.

Mereka menemukan, pernikahan kandas akibat perselingkuhan, umumnya dikarenakan pihak istri yang tidak setia.

Komentar