TekoKopi - Promo HARBOLNAS

Gadget, Kini, Sudah Jadi “Wabah” Pengganggu

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 22 Maret 2013 | 20:58 WIB

Dibaca: 20 kali

Seorang ayah yang “gatek,” gagap teknologi, mengumbarkan kejengkelan kepada seorang temannnya pemilik sebuah perusahaan yang bergerak di bidang “IT” tentang anaknya yang menghabiskan malam-malamnya dengan game online. Dengan nada berang ia menuduh perusahaan yang bergerak di bidang informasi teknologi telah menyebarkan “malapetaka” bagi generasi pengguna gadget karena telah meniadakan waktu istirahat.

Ia menyaksikan, dalam keluarganya ponsel dan sejenisnya, yang seharusnya menjadi alat bantu komunikasi kini sudah berubah menjadi penggangu utama waktu istirahat. Sebuah survei merilis penelitiannya, hampir setengah dari pemakai ponsel dan komputer berkomunikasi dengan teman dan keluarga meski sedang berada dalam satu rumah.

Sebuah studi di Inggris tentang penggunaan alat-alat elektronik saat ini mempublikasikan, sekitar 22 juta orang atau sekitar 45 persen mengakui mereka menggunakan ponsel untuk menelepon, mengirim SMS, menggunakan sosial media dan email lebih sering daripada harus pergi ke ruang sebelah untuk mengobrol dengan anggota keluarga lainnya.

Penelitian itu mengingatkan tentang keterasingan manusia. Makin jauhnya sosialisasi personal dengan keluarga. Seperlima atau sekitar 22 persen dari survei itu lebih memilih untuk berbicara lewat telepon atau sosial media seperti Facebook dan Twitter daripada harus berbicara langsung.

Riset bertajuk The Halifax Insurance Digital Home Index itu menemukan bahwa tiga perempatnya atau sekitar 73 persen warga Inggris merasa kesulitan jika mereka harus mengalami hari tanpa “gadget”, seperti ponsel, laptop, ataupun pemutar musik.

Meningkatnya penggunaan alat-alat elektronik telah menciptakan sebuah generasi yang tidak dapat beristirahat, dengan 25 persen dari populasi mengakui bahwa mereka selalu memeriksa email atau pesan mereka di tempat tidur. Sepersepuluh dari mereka bahkan melakukan hal itu di kamar mandi.

Survei lainnya terhadap 2.500 orang dewasa yang tinggal di Inggris juga menemukan, orang lebih memilih untuk kehilangan cincin kawin atau pertunangan daripada harus kehilangan ponsel mereka.

Psikolog Aric Sigman memperingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan kepada teknologi dapat menjadi masalah bagi seluruh kelompok usia dan menyebabkan kehancuran hubungan antarmanusia.

“Ketika frekuensi dan durasi melihat layar meningkat, jumlah waktu yang dihabiskan untuk kontak langsung dengan ‘kehidupan nyata’ yaitu hubungan langsung dengan orang lain akan berkurang,” ujarnya

“Ketika berusia tujuh tahun, rata-rata anak yang lahir saat ini akan menghabiskan satu tahun usianya untuk menonton teknologi layar, dan ketika mereka berusia 80 tahun, mereka menghabiskan 18 tahun dalam hidupnya untuk melihat teknologi yang bahkan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan,” tambahnya.

“Penggunaan teknologi yang berlebihan merupakan isu yang berdampak pada semua kelompok usia, dari dewasa muda, yang menganggap teknologi merupakan pusat dari hidupnya, sampai ke orang tua yang akan merasakan bagaimana penggunaan teknologi yang berlebihan dapat membangun penghalang bagi interaksi keluarga,” tutur Sigman.

Oleh karenanya, kita harus dapat mengingatkan diri sendiri bahwa teknologi seharusnya menjadi alat, bukan sebagai pengganggu atau perusak.

Sebuah penelitian yang mengaitkan hubungan gadget dengan kesehatan jiwa merilis hasilnya dengan lebih ekstrim lagi. Para ahli menyatakan, penggunaan telepon pintar (smartphone), tablet dan komputer jinjing atau laptop di luar jam kantor berisiko bagi kesehatan para penggunanya.

Pemerhati masalah kesehatan Chartered Society of Physiotherapy mengingatkan manusia pengguna gadget kini menjadi “budak layar” dan lebih sering bekerja saat bepergian atau setelah sampai rumah. Lembaga ini menyatakan kebiasaan ini bisa mempengaruhi postur tubuh dan menyebabkan sakit tulang belakang dan leher.

Chartered Society of Physiotherapy mengatakan orang harus belajar untuk mematikan ‘gadget’ mereka saat di rumah. Kajian lembaga ini dilakukan melalui jajak pendapat internet terhadap 2.010 pekerja dan sekitar dua pertiga responden mengaku melanjutkan pekerjaan di luar jam kerja. Orang menambah jam kerja mereka lebih dari dua jam dengan menggunakan telepon pintar setiap harinya.

Data kajian menunjukkan bahwa memiliki terlalu banyak pekerjaan dan mengurangi tekanan pada siang hari adalah dua alasan utama untuk beban kerja ekstra. Ketua Chartered Society of Physiotherapy, Dr Helena Johnson, mengatakan temuan ini adalah “kekhawatiran yang besar”.

“Saat melakukan sedikit pekerjaan tambahan di rumah mungkin terlihat bagus dalam jangka pendek, tetapi jika menjadi kebiasaan rutin maka bisa menyebabkan masalah seperti sakit tulang belakang dan leher, termasuk penyakit terkait dengan tekanan stres. Terutama jika anda menggunakan telepon pintar dan tidak berfikir tentang postur anda,” tegasnya.

Komentar