Etika Komunikasi di Percakapan Online

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 5 Mei 2017 | 09:19 WIB

Dibaca: 3 kali

Berkomunikasi di dunia maya, apalagi dalam satu grup yang diikuti banyak orang dan tak semuanya kita kenal dekat, tentu ada “rambu-rambunya”.

Dan ada  banyak grup percakapan online seperti Whatsapp, BBM atau Line yang Anda ikuti

Rata-rata setiap orang mengikuti minimal dua grup percakapan.

Kehadiran grup percakapan online memang sangat membantu, meski sedang berjauhan, komunikasi tetap bisa terjadi secara intens.

Berkomunikasi di dunia maya, apalagi dalam satu grup yang diikuti banyak orang dan tak semuanya kita kenal dekat, tentu ada “rambu-rambunya”.

Ketahui apa saja etika berkomunikasi di grup percakapan online agar agar tak dicap sombong, tidak sopan, atau mengganggu.

Setelah beraktivitas seharian, ditambah mengarungi kemacetan untuk sampai di rumah, tentu yang diinginkan setiap orang adalah malam yang tenang untuk beristirahat.

Gangguan berupa notifikasi grup percakapan bisa sangat menjengkelkan di malam hari.

Apalagi bila anggota grup juga aktif menanggapi topik tersebut. Jadi, jika tak ada yang penting sekali, jangan membuka percakapan di malam hari.

Mungkin Anda sering menemukan percakapan pribadi di grup online yang terjadi antara dua orang secara panjang lebar.

Meski terlihat sepele, hindari kebiasaan seperti itu. Anda tak perlu penonton untuk pembicaraan dengan satu orang.

Bila Anda hanya perlu membicarakan suatu hal yang tak terkait dengan tema grup, buatlah percakapan terpisah.

Berbicara dengan orang yang tidak dikenal atau hanya berupa nomer teleponnya saja yang tertera tentu tidak enak.

Dalam sebuah grup percakapan besar, perkenalkan diri sebelum memulai pembicaraan.

Tentu ada alasan mengapa sebuah grup percakapan online di buat. Bisa untuk memudahkan komunikasi dengan rekan kerja, anggota keluarga, atau alumni sekolah.

Walau demikian, pastikan apa yang kita share bisa diterima oleh semua orang.

Hindari pembicaraan yang menyangkut SARA atau ideologi, terlebih bila latar belakang anggota grup sangat beragam. Tak perlu juga membicarakan hal pribadi di dalam grup.

Bila Anda merasa sibuk atau tak bisa melanjutkan diskusi di sebuah grup, umumkan bahwa Anda akan pamit sehingga mereka tidak mengharapkan respon dari Anda lagi.

Meski membantu kita untuk mudah terhubung dengan orang lain tanpa dibatasi waktu dan tempat, Anda tak bisa lepas dari kemungkinan terjerumus ke depresi akibat media sosial.

Menggunakan media sosial dapat membangkitkan banyak emosi dalam diri kita, terutama emosi negatif yang dapat menyebabkan depresi.

Anda terus-menerus dibombardir dengan update tentang berbagai hal menarik, yang terjadi dalam kehidupan teman-teman Anda, dibandingkan dengan kehidupan Anda yang jadi tampak membosankan.

Jadi, ketika kita melihat seorang teman yang bepergian keliling dunia atau bersenang-senang dengan pacarnya, Anda justru merenungkan hal itu dan merasa tak beruntung karena tak mengalaminya.

Media sosial, pada saat yang sama, juga membuat kita merasa senang jika mendapatkan komentar yang baik pada update Anda sendiri atau ketika seseorang mendoakan Anda di hari ulang tahun, atau untuk beberapa prestasi yang Anda buat.

Situs media sosial bisa sangat menyesatkan karena kita hanya melihat apa yang orang pilih untuk dibagi ke timeline.

Karena memang, Anda akan memilih untuk berbagi hanya aspek yang paling menarik dan yang baik dari hidup Anda di social media dan meninggalkan yang tidak begitu baik.

Hal yang sama berlaku untuk orang lain. Mereka semua punya aspek kehidupan yang buruk, yang tidak mau mereka bagi.

Sebaiknya, Anda sadari hal itu dan berhenti membandingkan diri Anda dengan kehidupan orang lain, karena kita semua sama-sama punya aspek baik dan buruk dalam kehidupan.

Media sosial memang belum tepat diterima sebagai istilah terkait gangguan mental, juga belum masuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, buku resmi yang mencatat nama-nama semua gangguan mental yang dikenal.

Namun, depresi akibat media sosial sudah memberi dampak sangat nyata yang mempengaruhi remaja dan bahkan orang dewasa saat ini.

 

Alasan lain mengapa media sosial dapat menyebabkan depresi adalah ketika Anda berpura-pura untuk menjadi bahagia hanya untuk menampilkan diri kepada dunia.

Anda hampir tidak menjadi diri kita sendiri ketika menulis sesuatu atau mengunggah gambar. Anda hanya menunjukkan yang terbaik dari hidup Anda ke dunia luar, dan ini dapat menyebabkan depresi pada orang lain.

Pelaku posting tersebut dapat juga merasa kesal bahwa hidupnya tidak begitu baik dan memuaskan hingga ia harus melakukan itu.

Juga, jangan hanya bergantung pada komunikasi melalui internet.

Komunikasi manusia yakni tatap muka yang melibatkan bahasa tubuh, gerak tubuh, ekspresi wajah, juga penting.

Komentar