Ereksi Terlalu Lama Bisa Impoten?

Penulis: Darmansyah

Selasa, 4 Oktober 2016 | 08:31 WIB

Dibaca: 1 kali

Siapa yang bisa membantah ereksi yang dialami seorang pria bukan hal yang menakjubkan?

Jawabannya, ya. Ereksi adalah suatu karunia yang menakjub.

Tapi ingat, tidak selamanya ereksi itu membuat kenikmatan karena kalau ia terlalu lama “tegang” justru pertanda ada masalah pada tubuh.

Apalagi jika si ‘adik kecil’ terbangun tanpa ada rangsangan seksual.

Lantas?

Kondisi ini disebut priapisme. Sebuah gangguan pada penis yang berwujud ereksi dalam waktu yang lama. Biasanya lebih dari empat jam.

Tak hanya durasi ‘berdiri’ yang melampaui batas normal, priapisme ini seringkali disertai rasa nyeri di sekitar penis.

Gejala lain, kepala penis lunak meski batang tegang selama berjam-jam.

Jika dibiarkan, bisa merugikan, karena  bisa meninggalkan bekas berupa jaringan parut (scar) sampai impotensi permanen.

Pernah terjadi di India, seorang pria hampir kehilangan nyawa karena mengalami ereksi tanpa henti selama dua puluh satu hari.

Tim dokter yang menangani menyebut kalau pria itu telat memeriksakan diri.

Jadi, meski operasi ‘menurunkan’ penis tersebut sukses, pria itu mengalami kerusakan jaringan penis. Akibatnya pria itu mengalami impotensi permanen.

Tindakan medis yang diberikan biasanya berupa obat untuk menurunkan ketegangan penis.

Jika obat gagal, bisa dilakukan terapi lewat suntikan. Jika masih gagal, maka operasi jadi solusi.

Selain ‘menurunkan’ penis, prinsip pengobatan pada priapisme adalah menangani penyebabnya. Jika penyebabnya belum diatasi, priapisme bisa terjadi berulang kali.

Contohnya, jika priapisme disebabkan oleh gangguan pada darah, maka gangguan pada darah itu yang harus ditangani terlebih dulu.

Soal penyebab, gangguan pada penis ini melibatkan gangguan saraf dan pembuluh darah.

Gangguan saraf yang bisa berujung pada priapisme antara lain kerusakan tulang belakang akibat trauma atau gangguan saraf di dalam jaringan erektil.

Kasus paling sering terjadi adalah priapisme disebabkan oleh gangguan darah berupa kelainan sel sabit.

Bekuan darah juga bisa menyebabkan priapisme. Penyebab lainnya, infeksi dan kanker yang telah menyusup ke dalam penis dan menghalangi aliran darah dari penis.

Selain itu, penggunaan obat juga bisa menyebabkan priapisme.

Obat yang dapat menjadi biang kerok terjadinya priapisme itu antara lain obat psikosa, obat anti hipertensi, obat anti koagulan, kortikosteroid, tolbutamid, obat anti depresan, dan tentu saja obat disfungsi ereksi.

Pria yang sehat dan masih muda pasti hapal dengan istilah serangan fajar, yang menggambarkan ereksi spontan pada pagi hari, biasanya subuh saat mata masih mengantuk.

Fenomena tersebut memang sangat umum, dan dalam dunia kedokteran disebut juga dengan nocturnal penile tumescence.

Meski ereksi ini sering disadari di pagi hari, namun sebenarnya NPT dapat terjadi tiga sampai lima kali dalam semalam.

“Biasanya dialami pada remaja atau pria dewasa muda, karena di usia ini hormon sedang mencapai puncaknya. Hal itu juga menyebabkan frekuensi ereksi lebih tinggi dan butuh pelepasan,” kata Gloria Brame, Ph.D, ahli seksologi.

Brame mengatakan, seiring dengan usia NPT akan berkurang karena level testosteron dan fungsi seksual juga menurun.

Walau NPT sering dianggap terjadi karena mimpi seksual, tetapi para ahli menjelaskan bahwa ereksi spontan ini terjadi secara alami.

Dengan kata lain, bermimpi atau tidak ereksi tetap terjadi. Bahkan, pada bayi di kandungan pun dapat terjadi.

“Tubuh pria secara spontan menghasilkan ereksi di tengah malam untuk mengoksigenasi penis dengan aliran darah baru,” kata Uta Demontis, seksolog klinis.

Pakar lain mengatakan bahwa saat tidur REM kita tidak bisa lagi mengontrol gerakan otot, termasuk penis.

“Sebagian besar ereksi spontan terjadi akibat lonjakan hormon dan peningkatan itu menyebabkan mimpi atau membuat pria menyadari penis mereka jadi sensitif,” kata Brame.

Di siang hari, otak akan mengeluarkan zat kimia anti-ereksi sehingga tidak akan terjadi ereksi pada waktu yang tidak tepat.

Nah, ketika tidur faktor penghambat itu tidak ada, sehingga ereksi pun secara spontan terjadi.

Selain itu, organ penting pria yang satu itu, ternyata menyimpan banyak fakta yang menakjubkan.

Pertama, ketika seorang pria meninggal dunia dalam posisi berdiri, gravitasi akan menyebabkan darah terakumulasi di kaki.

Tanpa denyut jantung, aliran darah juga akan mencapai dan memenuhi penis, menyebabkan organ ini ereksi.

Pria diberikani dengan tiga tipe ereksi: ereksi psikogenik atau ereksi yang terjadi karena fantasi.

Kedua adalah ereksi nokturnal atau ereksi yang terjadi di malam hari dan ketiga adalah ereksi refleksogenik atau ereksi yang terjadi saat pria bangun tidur di waktu pagi.

Pengukuran panjang penis menurut NHS adalah dari pangkalnya bukan dari skrotum dan dilakukan saat penis ereksi, bukan saat penis sedang lemas.

Institute for the Study of Urological Diseases mengklaim hal ini berdasarkan studi yang mereka lakukan.

diet Mediterania adalah diet yang mengutamakan konsumsi kacang-kacangan, biji-bijian, sayur dan minyak tak jenuh ganda seperti yang terkandung di dalam minyak zaitun murni.

Komentar