Enyahkan Kesepian Dalam Hidup Anda!

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 24 Mei 2014 | 08:37 WIB

Dibaca: 0 kali

Jangan pernah hidup kesepian! Itu kata kunci yang selalu dikedepan psikolog untuk Anda kala berkonsultasi. “Kesepian adalah pembunuh terbesar,” kata Brian Adam, seorang psikolog terkenal di New York.

“Orang-orang yang tidak happy adalah orang-orang yang kesepian. Kesepian yang dimaksud bukan berarti selalu sendirian tapi bisa akibat banyak faktor lainnya,” tutur Adam.

Makanya, kata Brian Adam, hidup bahagialah dengan segala kemampuan yang Anda miliki.. Banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan. Bahkan beberapa di antaranya kerap merasa sedih walaupun hidup berkecukupan dan memiliki orangtua yang harmonis.

Ingat, kata Adam, makin tua usia seseorang, rasa kebahagiaan semakin sulit diperoleh. Banyak orang yang sudah memiliki banyak uang dan keluarga lengkap tapi tetap merasa tidak bahagia.

Lantas muncul pertanyaan, apa yang menyebabkan seseorang tidak bahagia?

“Kesepian,” tulis Adam dalam ruang konsultasi “The Ne York Times.”

Seseorang bisa merasa kesepian karena tidak ada yang menemani atau tidak memiliki lingkungan sosial yang baik. Ada pula orang yang kesepian karena tidak mendapat perhatian cukup dari orangtua walaupun ia mempunyai banyak teman.

Saat rasa tersebut terus dibiarkan akhirnya memicu timbulnya perasaan negatif lainnya. “Akhirnya mereka mengembangkan rasa peka yang nggak sehat, jadi panikan, paranoid iya, mengembangkan segala pemikiran yang irasional”

Orang yang kesepian butuh bantuan dari kerabat terdekat terutama keluarga. Selain keluarga lingkungan sosial juga berpengaruh besar terhadap kebahagiaan seseorang. Di luar itu, hal yang paling penting adalah keinginan untuk bahagia dari orang tersebut.

Menurutnya, akan percuma bila keluarga dan lingkungan sosial sudah mendukung bila seseorang memang menolak kebahagian. Dalam beberapa kasus yang pernah ditangani, salah satu kliennya ada yang menolak rasa bahagia. Ia lebih nyaman jika selalu merasa ‘sakit’ di depan banyak orang. Dengan begitu maka orang tersebut menjadi lebih diperhatikan.

Oleh karena itu perlu adanya perubahan pola pikir ke arah yang lebih positif.

Semakin dewasa happy itu semakin mahal, datang ke aku juga kan nggak murah. Tapi sebenarnya happiness mudah didapatkan saat diatur mindset-nya. Tapi kembali ke diiri masing-masing, kayak klien aku ada yang nggak membiarkan dirinya happy, dia maunya susah melulu karena dia lebih enjoy dengan sedihnya dia.

Kapan kebahagiaan itu bisa dirasakan?

Sebuah survei terbaru menjawab pertanyaan tersebut, bahwa orang merasa hidupnya paling membahagiakan saat berusia 23 dan 69 tahun.

Riset tersebut dibuat oleh Centre for Economic Performance di London School of Economics. .

Dalam survei tersebut ditemukan pada usia awal 20-an, orang merasa optimis dengan masa depan. Namun keoptimisan pada kehidupan itu akan menurun ketika usia mereka memasuki umur 50-an tahun.

Kebahagiaan menjalani hidup kembali lagi ketika orang mulai memasuki usia 60-an akhir. Pada masa ini, manusia tidak lagi merasa menyesal dengan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.

“Orang-orang yang berusia 50-an bisa belajar dari mereka yang lebih tua. Mereka tidak lagi merasa sedih. Orang-orang harus mencoba tidak merasa frustasi ketika tidak bisa memenuhi ekspektasi,” ujar Hannes Scwandt dari Universitas Princeton yang mengadakan penelitian ini seperti dikutip Sunday Times.

Dalam riset yang dilakukan Scwandat ini juga diketahui, pada usia 20-an, orang-orang cenderung terlalu percaya diri dengan kebahagiaan mereka di masa depan. Dan pada ketika memasuki usia 30, kepercayaan diri itu menurun. Kepesimisan pada masa depan terus menurun hingga usia 55 tahun.

Keoptimisan pada masa depan yang dirasakan anak-anak muda berusia 23 tahun ini, menurut Scwandt, suatu hal positif dan tak perlu diubah. Namun ada satu hal yang perlu diingat anak-anak muda tersebut, kalau hidup bisa saja tidak berjalan seperti yang dibayangkan ketika memasuki usia 50 tahun.

Komentar