Semu, Daya Pikat Narkoba Untuk Dongkrak Stamina

Penulis: Darmansyah

Rabu, 30 Januari 2013 | 09:48 WIB

Dibaca: 0 kali

NARKOBA dan stamina. Itulah dua “sejawat” yang menjadi daya pikat pemakai barang haram itu di komunitas pesohor. Daya pikat yang menipu dan kini geger setelah penangkapan  beberapa selebritas tenar negeri ini dan menjadi “news” berbau entertainmen yang masuk ke sudut-sudut rumah lewat tayangan heboh televisi berdurasi panjang, nyinyir, tapi, ternyata,  tidak menjemukan penonton yang berpengatahuan “cepak.”

Ini, tentu bukan pertama kalinya heboh selebritas, dengan daya rangsang tayangan narkoba. Sebelumnya sederet nama pesohor papan atas, sebut saja Roy Marten, Sami Simorangkir, Revaldo, Ahmad Albar, Farid Rustam Munaf, dan seabrek lainnya telah menjalani penebusan kesalahan di penjara.

Betulkah penggunaan narkoba di kalangan artis untuk “doping” atau menjaga stamina?  Dr Triangto MS, SpKO, doker spesialis kesehatan olahraga,  mengakui kecenderungan ini. Penggunaan narkoba untuk kebutuhan “doping”  sering dijadikan pilihan karena ia bisa mengurangi rasa lelah dan menimbulkan kenyamanan. “Dalam jangka panjang itu menghancurkan. Celakanya lagi, pemakai mengalami ketergantungan yang terus menerus,”katanya.

Primanya stamina bagi mereka yang mengomsumsi narkoba, karena  adanya kandungan zat adiktif didalamnya yang merangsang saraf simpatis. Dampaknya, pemakai  akan terjaga secara fisik lewat mata yang selalu terbuka, pupil membesar dan ada dorongan untuk aktif bergerak disamping emosional meninggi.

“Ini yang diartikan secara salah oleh para pemakai karena, katanya, tidak pernah merasa capek. Padahal itu kesalahan besar. Bukankah tubuh memiliki keterbatasan dan memerlukan relaksasi dalam waktu-waktu tertentu. Tubuh tidak bisa di ekploitasi terus menerus sepanjang hari. Ia memerlukan rehat. Kalau ia dipakai terus menerus lewat rangsangan narkoba, tentu ia akan haus dan pikiran bisa “heng,” kata dokter yang sering diminta sebagai konsultan dan nara sumber di banyak diskusi tentang kesehatan olahraga itu.

Jenis obat lain, yang sering menjadi “trend”  menutup kelelahan di lingkungan para artis, eksekutif perusahaan atau atlet, adalah amfetamin atau simultan. Kedua jenis obat yang dianggap “dosa” doping dan menjadi “black list” di dunia olahraga, menyebabkan orang terus bugar. Tapi mereka lupa tentang zat adiktif yang dikandung kedua jenis obat itu sehingga mereka menjadi ketergantungan. Bahkan, kalau daya rangsangnya makin berkurang karena pemakaian yang terus menerus para pemakai akan mencari jenis yang lebih berat lagi. Bisa sabu, ganja atau pun heroin.

Dr Dadang Hawari, spesialis kejiwaan yang sudah malang melintang menangani kasus-kasus penyembuhan narkoba,  mengatakan sabu-sabu  atau amfetamin bisa membuat orang bersemangat. Dadang mengingatkan pula, doping sabu itu sifatnya semu. Kelihatannya pemakai semangat, badannya aktif dan tidak mudang ngantuk. Tentu ada batasannya. Kalau sudah habis daya rangsangnya, pemakai kembali ke kondisi semula. Drop, depresi  dan memerlukan doping lagi. Terus…. terus …. sehingga menghancurkan tubuhnya.

Parahnya lagi narkoba tidak hanya merusak fisik tapi juga psikis. Bahkan mencelakakan. Data terbaru yang dirilis BNN menyebut, setiap harinya di Indonesia 50  orang meninggal karena narkoba. Angka ini terus melonjak setiap tahunnya. Dan jaringan perdagangannya juga berganti-ganti modus dan munculnya jenis-jenis terbaru dari narkoba ini.

Dr Triangto menyarankan kepada para pesohor dan pekerja aktif  untuk mengganti konsumsinya dari amfetamin ke kopi. Kafein, katanya,  bisa menjadi pilihan untuk menjaga stamina dalam jangka pendek dengan membatasi dua gelas  dalam satu hari. “Jangan minum lima belas gelas sekali teguk,” katanya berseloroh. Meski aman, konsumsi kopi tidak menjadi anjuran para dokter untuk jangka panjang. Sebab, langkah paling aman untuk jangka panjang adalah menjaga kebugaran tubuh lewat pola hidup yang, pengaturan makanan dan olahraga yang teratur dan terukur.

Komentar