Eleganitas Menyeduh Teh

Penulis: Darmansyah

Jumat, 1 Februari 2013 | 11:18 WIB

Dibaca: 0 kali

MENYEDUH teh adalah kultur. Ia memerlukan kecerdasan. Membutuhkan kerja “dua” otak. Satu otak ditempatkan dalam “basket” seni,  sedangkan yang lainnya berfungsi sebagai sebuah “sport,”   bukan permainan. Orang yang menyeduh teh itu seperti sedang menari ketika kedua tangannya bergerak lembut mengikuti “ritme,” nyanyian yang datang dari otak. Satu memegang tempat air panas, dan satunya lagi memegang cangkir. Makanya,  diperlukan kecerdasan untuk menyatukan kedua gerakan itu melalui dua perintah yang berbeda dari saraf otak.

Orang sering salah dalam memahami asal  kultur penyeduhan  teh. Mereka sering  berkiblat ke Eropa atau negara Barat  dalam mencontoh eleganitas penyeduhan teh.  Padahal akar  dari budaya menyeduh teh itu milik orang Timur. Orang yang memperlakukan teh sebagai jalan hidup.

Jalan yang membentuk perilaku mereka bergaul dengan teh sejak  dan melahirkan ritual  yang menyatukan semua aspek budayanya dengan budidaya tanaman bernama teh. Nudaya yang diselaraskan  sejak penanaman, pemeliharaan tanaman sampai ke pemetikan. Budaya yang hidup dari keharmonisan alam dengan lingkungannya. Keharmonisan  wanita  pemetik teh dataran tinggi, seperti di Subang, Purwakarta atau Sukabumi misalnya, yang dengan kelembutannya memperlakukan tanaman sebagai “kekasih.”  Perlakuan dari pekerja dalam  proses untuk  menjadikannya sebagai produk bernilai tinggi.

Untuk itu, teh, yang sebenarnya, jangan dilihat dari kemasan yang dijual di rak-rak warung, toko dan pasar swalayan atau pun “hyper market, dengan ragam jenis. Mulai dari teh celup, teh hijau, sari wangi dan sebagainya. Teh jenis  ini adalah teh instan. Teh kepraktisan sebagai komoditi.

Kembali ke kultur penyeduhan teh. Tata caranya, adalah sebuah keselarasan budaya dimana ia berkembang. Untuk itu kultur penyeduhan teh berbeda-beda antara satu kultur dengan kultur lain. Kultur penyeduhan di Korea tidak sama dengan di Jepang. Begitu juga dengan tatacara di Cina pasti beda dengan Indie atau Srilangka.  Kita sengaja menyebut negara-negara di timur ini karena dari sinilah asal masal lahir dan berkembangnya budaya penyeduhan teh. Negara-negara inilah, termasuk Indonesia, sebagai produsen utama teh, yang melahir tradisi penyeduhan.

Penyeduhan harus dibedakan secara ekstrim dengan perendaman.  Untuk itu, dalam teknik penyeduhan prosesnya berlangsung dalam hitungan detik. Hasil penyeduhan tidak ada hubungannya dengan tampilan warna yang kemudian menjadi tolok ukur kenikmatan.

Bagi penikmat teh, kenikmatan seduhan ditentukan oleh “taste” yang menjalari lidah hingga ke langit-langit dan menguapkan aroma wangi yang sangat khas. Antara rasa kelat yang tipis dan uap wanginya menyatu ke saraf perasa.

Dalam penyeduhan kualitas air dan ukuran pemanasan menjadi penentu awal yang kemudian diikuti oleh takarannya. Cara ini sangat penting agar kekentalan rasa dan aromanya tidak menguap. Kekentalan rasa dari jumlah teh yang ada dalam cangkir dan jumlah air yang dituangkan haruslah proporsional. Tahapan ini, dikalangan  penikmat atau penyeduh teh profesional dinamakan dengan pembilasan. Air yang dituangkan itu harus dibuang.

Pembilasan adalah upaya untuk menjaga kualitas dan kebersihannya. Pembilisan dikalangan para penyeduh dimaksudkan untuk menghilangkan debu atau bakteri yang melekat pada daun teh.

Di kalangan penikmat teh seduh di kenal dengan istilah 1-2-3. Penyeduhan pertama untuk menghilang rasa kurang enak. Penyeduhan kedua sudah enak. Dan penyeduhan ketiga teh paling enak. Untuk diingat, proses penyeduhan yang teratur akan menghilangkan rasa sepat. Ingat pula, penyeduhan teh yang baik adalah tidak melakukan tambahan gula. Karena tambahan gula bisa menghilangkan antioksidan dalam teh sekaligus menibulkan rasa tersamar.

Bayak orang, terutama di Jepang, juga di Indonesia, penyeduhan teh dilakukan dengan peralatan yang sangat spesifik. Bisa dengan cerek tanah, cerek alumuniun dan sebagainya. Begitu juga dengan cangkirnya. Dan jangan heran bila  ada penikmat teh sejati yang memiliki koleksi cerek dan cangkir sampai satu lemerai dan di rawat  secara baik.

Komentar