close
Nuga Life

Eksibisionisme? Penyakit Pamer Kemaluan

Apakah Anda tahu penyakit eksibisionisme?

Ya, eksibisbisionaisme adalah sejenis penyakit jiwa yang penderitanya ingin memamerkan kemaluannya.

Ya, belakangan ini kita cukup sering mendengar berita tentang pelecehan seksual yang cukup marak terjadi di beberapa daerah.

Karena adanya kejadian ini, masyarakat sangat berhati-hati dalam melakukan kegiatan di luar rumah. Mereka mewaspadai pengidap gangguan jiwa atau kelainan seksual di luar sana.

Salah satu gangguan kejiwaan yang cukup menjijikkan yang berkaitan dengan seksualitas adalah eksibisionisme.

Lantas apakah sebenarnya eksibisionisme itu?

Eksibisionis adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan, fantasi, atau perilaku mengekspos kelamin seseorang kepada orang lain, terutama orang asing.

Eksibisionisme merupakan gangguan kejiwaan yang cukup langka, namun, banyak orang yang mengaku jika mereka mengetahui orang yang mengidap kelainan ini.

Seringkali pengidap eksibisionis bahkan dengan percaya diri menunjukkan alat kelaminnya ke orang lain, meskipun orang lain yang melihatnya sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya.

Selain itu, banyak penderita eksibisionisme juga cenderung cukup sering melakukan masturbasi, kegiatan meransang organ vitalnya sendiri, namun yang parah adalah, hal ini dilakukan di depan orang lain.

Penderita eksibisionisme sendiri bervariasi dari mereka yang masih berusia remaja hingga yang sudah berusia dewasa, baik pria maupun wanita.

Satu hal yang pasti, mereka akan merasakan kepuasan tiada tara jika ada yang terkejut atau bahkan terangsang jika melihat bagian pribadi tubuhnya.

Mengapa kita perlu mewaspadai penderita eksibisionisme ini?

Hal ini dikarenakan penderita eksibisionisme bisa meminta pasangannya melakukan aktivitas seks yang tidak normal dan dalam beberapa kasus bahkan ingin melakukannya di depan umum dan jika tidak dituruti, bisa jadi pasangannya akan mengalami kekerasan seksual.

Melihat adanya fakta ini, kita tentu sebaiknya menghindari penderita eksibisionisme alih-alih senang melihat area pribadinya.

Diagnosis eksibisionisme dapat dilakukan jika kriteria berikut terpenuh

Selama periode paling tidak enam bulan, seseorang memiliki fantasi, perilaku, atau dorongan seksual yang berulang dan intens yang melibatkan mengekspos alat kelamin ke orang yang tidak curiga.

Orang tersebut telah bertindak atas dorongan seksual ini dengan orang yang tidak menyetujui, atau dorongan atau fantasi menyebabkan kesulitan yang nyata atau kesulitan interpersonal di tempat kerja atau dalam situasi sosial sehari-hari.

Gangguan exhibitionis dikategorikan ke dalam subtipe berdasarkan apakah seseorang lebih suka mengekspos dirinya ke anak-anak praremaja, dewasa, atau keduanya.

Onset kondisi ini biasanya terjadi pada masa remaja akhir atau awal masa dewasa. Mirip dengan preferensi seksual lainnya, preferensi dan perilaku seksual yang bersifat pameran dapat berkurang seiring bertambahnya usia.

Faktor risiko untuk perkembangan eksibisionisme pada laki-laki termasuk gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan alkohol, dan minat pedofilia.

Faktor-faktor lain yang mungkin terkait dengan eksibisionisme termasuk pelecehan seksual dan emosional selama masa kanak-kanak dan keasyikan seksual di masa kanak-kanak.

Kebanyakan orang dengan eksibisionisme tidak mencari pengobatan sendiri, dan tidak menerima perawatan sampai mereka tertangkap dan diminta oleh pihak berwenang.

Jika Anda atau seseorang yang Anda sayangi mungkin memiliki gangguan pamer, perawatan dini sangat disarankan.

Perlakuan untuk eksibisionisme biasanya termasuk psikoterapi dan obat-obatan.

Penelitian menunjukkan bahwa model perilaku efektif dalam mengobati eksibisionisme dengan menyediakan individu dengan alat untuk mengendalikan impuls mereka dan menemukan cara yang lebih dapat diterima untuk mengatasi dorongan mereka daripada menunjukkan alat kelamin mereka kepada orang lain.

Terapi perilaku kognitif dapat membantu individu mengidentifikasi pemicu yang menyebabkan dorongan mereka dan kemudian mengelola dorongan ini dengan cara yang lebih sehat.

Pendekatan psikoterapi lainnya termasuk pelatihan relaksasi, pelatihan empati, pelatihan keterampilan mengatasi dan restrukturisasi kognitif (mengidentifikasi dan mengubah pikiran yang mengarah pada eksibisionisme).

Obat-obatan yang mungkin membantu dalam mengobati eksibisionisme termasuk obat-obatan yang menghambat hormon seksual, menghasilkan penurunan hasrat seksual.

Beberapa obat yang biasa digunakan untuk mengobati depresi dan gangguan suasana hati lainnya, seperti selective serotonin reuptake inhibitors juga dapat mengurangi hasrat seksual.