Mengenal Dua Tipikal Seorang Pembohong

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 25 Oktober 2017 | 08:02 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda pernah berbohong?

Ya, siapa yang tak luput dari bohong.

Bisa bohong kecil maupun bohong besar.

Dan berbohong adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Tapi ada bohong yang hebat yang membuat orang  di sekitarnya kesulitan membedakan mana yang kenyataan dan mana yang bukan.

Seperti ditulis laman “hello sehat,” hari ini, Rabu, 25 Oktober, mereka yang gemar berbohong bisa dibagi dalam dua tipe.

TGipe pertama pembohong patologis dan kedua pembohong kompulsif.

Anda ingin tahu apa itu pembohong patologis?

Pembohong patologis adalah orang-orang yang sudah memiliki niat dan rencana untuk melakukan kebohongan.

Orang yang berperan sebagai tukang bohong patologis memiliki tujuan yang jelas di mana mereka akan selalu berharap tujuannya bisa tercapai dengan berbohong.

Orang yang melakukan kebohongan jenis ini umumnya memiliki sifat licik dan hanya melihat situasi dari sudut pandang atau keuntungan mereka sendiri. Mereka tidak memedulikan perasaan orang lain dan konsekuensi yang mungkin terjadi akibat kebohongan yang mereka buat.

Kebanyakan tukang bohong patologis akan terus berbohong meskipun Anda sudah mengetahui bahwa mereka berbohong.

Hal ini membuat mereka sering melakukan kebohongan yang memberatkan dirinya sendiri, sehingga membuat mereka jauh lebih sulit untuk dimengerti.

Lantas apa pula cirri seorang pembohong kompulsif?

Bagi mereka yang masuk tipe pembohong kompulsif, kebohongan adalah sebuah kebiasaan.

Mereka mungkin bisa berbohong tentang apa pun dan dalam situasi apa pun.

Orang yang melakukan kebohongan jenis ini biasanya berbohong untuk menghindari kebenaran. Jika mereka berbicara jujur, mereka merasa tidak nyaman.

Seringnya, pembohong kompulsif melakukan berbagai kebohongan supaya terlihat lebih keren dari orang lain.

Dalam hal ini, kebohongan kompulsif sering disebut sebagai “pencitraan”. Mereka yang berbohong pada dasarnya sadar akan kebohongannya. Namun, mereka tidak dapat berhenti berbohong karena sudah terbiasa.

Lantas apa yang membedakan seorang pembohong patologis dan kompulsif?

Berdasarkan i dua penjelasan yang sudah disebutkan di atas, sekilas dua jenis kebohongan ini memang tampak sama.

Seperti ditulis  laman Everyday Health, Paul Ekman, Ph.D., seorang profesor emeritus psikologi di University of California pun mengatakan hal yang senada.

Ia mengatakan bahwa kedua jenis kebohongan esktrem ini sangat mirip sehingga sulit dibedakan. Anda bisa saja jadi pembohong patologis yang kompulsif.

Akan tetapi, sederhananya yaitu tukang bohong patologis sudah sejak awal punya niat berbohong dan akan terus berbohong meskipun orang lain tahu ia tidak berkata jujur.

Sementara itu, pembohong kompulsif mungkin awalnya tidak punya niat berbohong. Hanya ketika ia dihadapkan dengan situasi yang membuatnya merasa terpojok atau terancam, seorang pembohong kompulsif lantas jadi tidak bisa mengendalikan diri dan terus berbohong.

Pada dasarnya kebohongan kompulsif dan kebohongan patologis sudah dipelajari para ahli sejak lama.

Meski begitu, para peneliti masih belum benar-benar tahu apa penyebab kedua jenis kebohongan tersebut apabila keduanya harus dikaitkan sebagai gangguan mental.

Misalnya, para ahli tidak tahu pasti apa yang membuat seseorang melakukan kebohongan ekstrem.

Mereka memang tahu jika kebanyakan orang yang melakukan kebohongan ini karena kebiasaan dan untuk memperbaiki citra diri. Namun, mereka masih memperdebatkan apakah kedua jenis kebohongan ini masuk ke dalam gejala atau penyakit itu sendiri.

Itu sebabnya, sampai saat ini tukang bohong patologis dan kompulsif belum bisa disebutkan sebagai salah satu gejala atau bahkan penyakit kejiwaan.

Kebanyakan orang yang keseringan melakukan kebohongan ekstrem tidak ingin dan tidak bisa berubah hanya dengan menjalani pengobatan.

Biasanya mereka akan berubah ketika mereka sudah mendapatkan suatu masalah.

Misalnya, kebohongan yang mereka buat ternyata berdampak pada kebangkrutan, perceraian, kehilangan pekerjaan, atau terjerat hukum sehingga harus menjalani masa tahanan.

Masih sedikit penelitian terkait pilihan pengobatan untuk orang yang sudah terbiasa berbohong.

Namun, kabar baiknya yaitu para peneliti percaya jika konseling atau psikoterapi dapat membantu orang yang melakukan kebohongan ekstrem untuk berubah, dengan cara fokus pada cara mengurangi impuls atau dorongan-dorongan untuk berbohong.

Komentar