Cemburu itu Normal Kok, Tapi Ada Batasnya

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 7 Desember 2017 | 15:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Cemburu itu normal.

Ya, memang banyak orang yang membenarkan itu

Dan cemburu itu juga dikaitkan dengan  tanda cinta.

Tetapi, apa benar?

Sampai batas mana cemburu masih bisa dibilang sehat, dan mana rasa cemburu yang merusak dan hampir menjurus posesif-obsesif?

Cemburu adalah insting alami manusia, yang dirasakan ketika timbul ancaman yang dianggap membahayakan keberadaan dirinya.

Cemburu membuat Anda merasa tidak nyaman, tidak dihargai, sensitif, marah, sedih, frustrasi, dan bahkan bisa berujung pada gangguan kecemasan atau depresi

Meski begitu, cemburu merupakan hal yang alamiah dan normal dirasakan setiap manusia.

Menurut psikolog Anne Stirling Hastings, cemburu itu normal dan diperlukan ketika Anda berada dalam sebuah hubungan asmara.

Tetapi, Anda dan pasangan harus tahu dulu apa yang saling diinginkan dalam hubungan dan membangun batasan-batasan yang disepakati bersama.

Misalnya, Anda berdua menyepakati aturan untuk tidak jalan berdua saja dengan mantan masing-masing.

Rasa cemburu adalah tanda kalau Anda menghargai komitmen yang sebelumnya dibuat berdua, dan akan merasa kecewa kalau komitmen tersebut dilanggar.

Rasa cemburu yang Anda alami juga sebagai salah satu wujud ekspresi bahwa Anda peduli dan ingin hubungan Anda dengan pasangan tetap langgeng.

Pasalnya, cemburu menyebabkan lonjakan kadar hormon testosteron dan kortisol di tubuh Anda.

Kedua hormon ini membuat Anda memiliki hasrat untuk mempertahankan pasangan setiap kali Anda dilanda cemburu.

Hal ini diperkuat juga dengan adanya peningkatan aktivitas septum lateral, bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi dan menjalin ikatan pada pasangan.

Karena itu, Anda pun akan melakukan segala cara untuk mempertahankan hubungan Anda. Misalnya dengan lebih memerhatikan kebutuhan pasangan

Jadi, rasa cemburu bertindak sebagai alarm yang mengingatkan Anda bahwa hubungan asmara memang harus selalu dibina, bukan dibiarkan begitu saja.

Namun demikian, Hastings menyatakan bahwa rasa cemburu bisa dibilang sehat ketika Anda tetap mampu untuk berpikir logis, tidak membesar-besarkan masalah sehingga dibiarkan berlarut-larut.

Jika Anda merasa cemburu, ungkapkanlah langsung kepada dirinya, bukan menghardik dan akhirnya jadi bertengkar yang tidak perlu.

Misalnya begini. Anda mencurigai adanya pihak ketiga dalam hubungan Anda berdua.

Di saat seperti ini, Anda seharusnya tidak membiarkan rasa cemburu membabi buta dalam hati.

Cemburu yang sehat adalah ketika Anda mampu menenangkan diri dan mulai membicarakan masalah tersebut pada pasangan. Anda bisa berbicara baik-baik tanpa terbutakan emosi.

Selama pasangan Anda menjelaskan jawaban dari pertanyaan Anda, Anda harus mendengarkan dengan baik dan mengesampingkan curiga-curiga yang berlebihan.

Jika rasa cemburu ini bisa diselesaikan dan dilewati dengan baik, hal ini justru bisa memperkuat rasa cinta dan komitmen antara Anda dengan pasangan.

Perbedaan antara cemburu yang sehat dan tidak sehat ini sebetulnya bisa dibedakan dari bagaimana cara Anda menghadapinya.

ka Anda berubah menjadi obsesif dan menunjukkan perilaku posesif, seperti cek hape pasangan, cek sms dan chat, menjawab panggilan masuk, kepo-in Facebook dan email, sampai diam-diam mengikuti pasangan kemana pun ia pergi – hati-hati, ini bisa jadi pertanda cemburu yang tidak sehat.

Bahkan ada beberapa orang yang cemburu sampai melarang pasangannya keluar rumah atau memintanya untuk tidak berteman dengan seseorang yang dicemburuinya tersebut.

Dengan ancaman rasa takut dan pikiran yang terus menerus dihantui hal negatif ini, tak ayal akan membuat Anda menuduh pasangan berselingkuh.

Tak jarang rasa cemburu yang tidak sehat ini bisa menyebabkan adanya konflik, perpisahan, atau bahkan kekerasan di dalam hubungan.

Salah satu hal yang bisa meredakan perasaan cemburu dan tidak nyaman adalah dengan membangun kepercayaan pada diri sendiri dan pasangan Anda.

Tanamkan selalu dalam hubungan Anda bahwa komunikasi itu penting dalam hubungan asmara. Anda dan si dia harus sama-sama berkomitmen untuk saling terbuka saat masalah melanda, terutama soal kecemburuan.

Mengungkapkan rasa cemburu dengan marah, menyindir halus, atau menuduh pasangan dengan hal macam-macam tidak akan membuat suasana lebih baik.

Rasa penarasan Anda pun tidak mungkin terjawab. Ada baiknya selalu komunikasikan baik-baik dengan kepala dingin.

Lalu,  jelaskan perasaan Anda dan diskusikan berdua bagaimana menemukan solusinya.

Hal ini akan memungkinkan Anda untuk lebih merasa lega, puas mengungkapkan isi hati dan mencegah pasangan Anda bingung oleh perilaku cemburu Anda.

Komentar