Cemburu dalam Hubungan Asmara, Oke

Penulis:: Darmansyah

Senin, 4 Desember 2017 | 15:48 WIB

Dibaca: 0 kali

Banyak yang bilang cemburu itu tanda cinta.

Dalam sebuah hubungan asmara, rasa cemburu memang timbul sebagai respon alamiah dari emosi yang dirasakan.

Selama ini, Anda mungkin menilai cemburu hanya membuat hubungan Anda tidak sehat. Padahal, cemburu dalam hubungan bisa membuat perjalanan asmara Anda bertahan lebih lama, lho. Bagaimana bisa?

Rasa cemburu merupakan wujud emosi yang lumrah. Emosi ini tidak hanya ditujukan kepada pasangan, tetapi juga pada kakak atau adik, anggota keluarga lainnya, juga dalam hubungan pertemanan.

Saat Anda cemburu, Anda cenderung merasa tidak dihargai. Anda bisa menjadi sangat marah, cemas, sensitif, bahkan lebih posesif pada pasangan.

Rasa cemburu dalam takaran yang wajar bisa memberikan dampak yang baik. Misalnya membuat Anda lebih menghargai pasangan sehingga hubungan lebih langgeng.

Namun, cemburu yang berlebihan bisa memperburuk hubungan Anda, bahkan berisiko untuk kesehatan jantung dan mental.

Munculnya rasa cemburu berawal dari adanya interaksi yang terjadi di dalam otak.

Dalam studi yang dipublikasikan di Frontiers in Ecology and Evolution, suatu penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana kecemburuan bisa berasal dari otak.

Penelitian ini mengamati monyet titi yang dinilai memiliki sembilan puluh enam persen kesamaan dengan manusia.

Awalnya, seekor monyet titi jantan ditempatkan dengan monyet titi betina yang dipisahkan dari pasangannya. Sementara, pasangan betinanya tersebut dapat melihatnya dengan jelas.

Setelah perilaku monyet titi direkam dan dilakukan pemindaian otak, hasil menunjukkan adanya tanda-tanda kecemburuan.

Rasa kecemburuan ini ditimbulkan oleh adanya peningkatan aktivitas pada korteks cingulate anterior, yaitu bagian pada otak yang menciptakan rasa kesenangan.

Namun, area otak ini juga terkait dengan pengucilan dan rasa dikhianati pada manusia, contohnya perasaan yang timbul saat Anda ditinggal oleh teman atau kekasih Anda. Perasaan ini sama halnya dengan rasa cemburu pada pasangan.

Selain sakit hati, cemburu justru bisa membuat pasangan menjadi lebih lengket. Ini dipengaruhi oleh perubahan hormon yang terjadi saat Anda cemburu.

Rasa cemburu menyebabkan adanya lonjakan kadar hormon testosteron dan kortisol di tubuh Anda.

Hormon testosteron ini berkaitan dengan sifat agresif pada pria, sementara kortisol berperan sebagai hormon stres.

Kedua hormon ini membuat Anda memiliki hasrat untuk mempertahankan pasangan setiap kali Anda dilanda cemburu.

Hal ini diperkuat juga dengan adanya peningkatan aktivitas septum lateral, yaitu bagian otak yang berperan dalam mengendalikan emosi dan menjalin ikatan pada pasangan.

Karena itu, Anda pun akan melakukan segala cara untuk mempertahankan hubungan Anda.

Misalnya dengan lebih memerhatikan kebutuhan pasangan (baik kebutuhan fisik seperti makanan atau kebutuhan emosional seperti didengarkan curhatan-nya.

Jadi, rasa cemburu bertindak sebagai alarm yang mengingatkan Anda bahwa hubungan asmara memang harus selalu dibina, bukan dibiarkan begitu saja.

Khususnya bagi hubungan asmara yang sudah berlangsung cukup lama.

Pasalnya, hubungan atau pernikahan yang sudah cukup lama biasanya membuat Anda menyepelekan kehadiran atau pentingnya pasangan dalam hidup Anda.

Rasa cemburu memang sering dipandang sebagai emosi negatif, walaupun sebenarnya normal-normal saja untuk situasi tertentu. Namun, cemburu bisa menjadi tidak sehat bila dijadikan sebagai kekangan untuk pasangan Anda. Jadi, Anda harus bisa membedakan mana cemburu yang sehat dan tidak sehat, dilihat dari tanda-tandanya.

Cemburu yang sehat berarti cemburu yang sewajarnya. Sewajarnya dalam arti Anda dan pasangan saling jujur tentang perasaan dan tidak saling menuduh.

Anda dan pasangan harus tahu apa yang diinginkan dalam hubungan dan membangun batasan-batasan yang disepakati bersama.

Misalnya Anda berdua menyepakati aturan untuk tidak jalan berdua saja dengan mantan masing-masing.

Anda sudah mulai terlalu posesif dengan pasangan Anda? Munculnya perasaan khawatir dan ingin mengatur hidup pasangan yang berlebihan bisa mengartikan Anda terkena gejala obsesi karena rasa cemburu.

Misalnya, Anda sering mengecek ponsel pasangan, melarang pasangan pergi dengan teman lawan jenis, atau melarangnya pergi keluar rumah tanpa Anda.

Jika terus dibiarkan, cara ini berpotensi mengarahkan Anda pada kekerasan terhadap pasangan.

Komentar