Cara Menghapuskan Kenangan Buruk

Penulis:: Darmansyah

Kamis, 18 Mei 2017 | 08:25 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “the telegraph,” hari ini, 18 Mei,  datang dengan tulisan menarik tentang bagaimana ilmuwan menemukan cara menghapus kenangan pahit.

Bicara soal ingin hilang ingatan, tampaknya siapa pun pernah punya keinginan tersebut.

Ya, setiap orang dalam hidupnya pasti pernah mengalami hal kurang berkenan. Misalnya, ditinggal oleh sang kekasih.

Dan sekarang, cara mewujudkan keinginan tersebut mulai menemui titik terang.

Sekelompok ilmuwan telah menemukan cara untuk menghapus ingatan atau kenangan secara permanen dari kepala kita; mengubah kenangan yang tidak menyenangkan sehingga mereka tak lagi menjengkelkan; dan menciptakan kenangan yang sama sekali baru dari peristiwa yang tidak pernah terjadi.

Memang, hal ini cenderung terdengar seperti yang ada di kisah-kisah berbau fiksi ilmiah, tetapi menurut sebuah film dokumenter baru yang diputar perdana di Amerika Serikat pada pekan ini, para ilmuwan telah menemukan cara untuk melakukan hal tersebut, dan tentunya lebih banyak lagi.

Film berjudul Memory Hackers dari NOVA memunculkan sisi penelitian mutakhir ke dalam sifat dasar ingatan manusia, dan bagaimana hal tersebut dapat dimanipulasi untuk kepentingan umat manusia.

“Untuk sebagian besar sejarah manusia, ingatan telah dilihat sebagai tape recorder yang setia mencatat informasi dan memutarnya kembali secara utuh,” kata sang pembuat film.

Lanjutnya, “tapi sekarang, para peneliti menemukan ingatan jauh lebih lunak, yang selalu ditulis dan ditulis ulang, bukan hanya oleh kami, tetapi juga oleh orang lain. Kami menemukan mekanisme yang dapat menjelaskan dan bahkan mengendalikan ingatan kita secara tepat.”

Jake Hausler, anak berusia dua belas tahun dari St Louis, Amerika Serikat, adalah salah satu subjek dokumenter.

Ia bisa mengingat hampir setiap hal yang ia alami sejak usia delapan tahun. Jake merupakan orang termuda yang didiagnosis mengidap Highly Superior Autobiographical Memory, yang membuat ia sulit membedakan peristiwa sepele dan penting di masa lalunya.

“Melupakan ingatan mungkin salah satu hal terpenting yang otak akan lakukan. Pemahaman kita soal ingatan manusia seperti fenomena gunung puncak gunung es,” kata André Fenton, seorang ilmuwan syaraf terkemuka yang saat ini tengah menggarap sebuah cara menghapus ingatan yang menyakitkan.

Subjek yang diwawancarai lainnya termasuk Julia Shaw, profesor psikologi di London South Bank University, yang telah merancang sistem untuk menanamkan kenangan buatan, dan berhasil meyakinkan subjek yang telah melakukan kejahatan, yang tidak pernah terjadi.

Sang pembuat film juga berbicara dengan psikolog klinis Merel Kindt, yang telah menemukan bahwa obat-obatan dapat digunakan untuk menghapus asosiasi negatif dari beberapa kenangan.

Dengan obat tersebut, ia telah berhasil mengobati pasien yang takut secara berlebihan akan laba-laba.

Dan harus diakui, setiap orang pasti punya kenangan buruk dalam hidup.

Satu hal yang menjadi masalah adalah adakah cara untuk bisa menghapus semua kenangan buruk itu?

Semua itu terkesan mustahil. Tak ada hal apapun dalam hidup yang bisa dihapus secara permanen, kecuali Anda hilang ingatan.

Hal ini terlihat seperti film fiksi sains Eternal Sunshine of the Spotless Mind di tiga belas tahun silam

Film ini memperkenalkan publik tentang konsep menghapus memori.

Namun mengutip Witty Feed, para peneliti mulai mencari cara bagaimana menghapus berbagai kenangan buruk dalam hidup.

Dalam proses penelitiannya, mereka menemukan bahwa sebenarnya memori manusia tidaklah permanen.

Ada banyak senyawa kimia dalam otak yang memiliki kemampuan untuk menghilangkan memori, menciptakan memori, atau bahkan ‘menuliskan’ kembali kenangan buruk atau stres.

Senyawa kimia inilah yang diuji oleh para peneliti.

Lewat penelitian tersebut, peneliti berharap mereka bisa menemukan prosedur perawatan untuk membantu orang-orang memerangi post traumatic stress disorder (PTSD) atau penderitaan akibat kenangan buruk.

Dalam penelitian tersebut, peneliti mengklaim bahwa semua memori manusia terkunci dalam otak.

Namun, sebuah memori baru akan terbentuk ketika sel otak mulai tumbuh seiring stimulasi protein. Hasilnya, sebuah koneksi otak baru akan terbentuk.

Setelah itu memori akan tetap tinggal di di otak sampai Anda mengingatnya lagi.

Peneliti juga menjelaskan bahwa ingatan jangka panjang bukanlah hal yang stabil dan bisa diubah perlahan seiring jalannya waktu.

Proses ini dikenal sebagai rekonsolidasi. Di saat inilah peneliti bisa melakukan ‘hack’ pada memori seseorang dan menciptakan yang baru.

“Penelitian mengungkapkan bahwa ingatan sebenarnya bisa dimanipulasi karena ingatan seperti terbuat dari gelas, tinggal di dalam bentuk cair saat mereka diciptakan sebelum akhirnya menjadi keras,” kata Richard Gray kepada The Telegraph.

“Ketika memori dipanggil kembali, maka akan ‘mencair’ kembali dan bisa dibentuk ulang sebelum kembali ‘mengeras’.”

Selain itu, Andre Fenton, seorang ahli saraf mengungkapkan bahwa memori itu seperti halnya gunung es.

“Dalam sejarah manusia, memori terlihat seperti sebuah tape recorder yang bisa merekam ingatan baru dan juga mengulang kembali sesuai permintaan,” katanya.

“Tapi sekarang peneliti menemukan bahwa ingatan itu lunak, bisa ditulis dan ditulis ulang, tidak hanya oleh kita tapi juga oleh orang lain. Kami sedang mencari mekanisme yang bisa menjelaskan dan mengontrol ingatan,” kata Fenton.

Menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Psychonomic Bulletin & Review, kunci untuk melupakan cukup dengan berbaring dan mengubah cara kita berpikir tentang “konteks” ingatan di sekitar kita.

Konteks adalah hal cukup luas dan sulit untuk dijabarkan.

Pada dasarnya, mengacu pada segala sesuatu yang terjadi di sekitar peristiwa tertentu, dan, menurut penulis studi, memiliki pengaruh besar atas bagaimana kenangan diorganisir dan direkam oleh otak.

Misalnya, jika Anda kebetulan memiliki pengalaman buruk setelah minum terlalu banyak tequil, maka kenangan buruk akan kembali tergali bila Anda mengambil segelas minuman yang sama di lain waktu.

Anda mungkin akan hanya menyalahkan diri sendiri karena terlalu mabuk dan menempatkan diri dalam emosi tertentu, namun orang-orang yang mengalami peristiwa menyedihkan yang lebih serius terkadang-kadang dapat menderita pasca-traumatic stress disorder, dimana isyarat kontekstual tertentu dapat menghidupkan kembali kenangan menyakitkan mereka.

Jika penderita dapat belajar memisahkan kenangan ini dari konteks mereka, ini mungkin dapat meringankan PTSD mereka.

Peneliti dari Universitas Princeton dan Dartmouth College menguji kemungkinan tersebut. Mereka melakukan tes memori pada subyek

Peneliti menunjukkan daftar kata-kata untuk dihafal atau lupakan. Dalam melihat setiap kata, peneliti memberikan selingan dengan menunjukkan gambar dari pemandangan alam, seperti gunung atau hutan, dengan harapan subyek secara otomatis akan mengasosiasikan memori dari kata-kata dengan isyarat kontekstual ini.

Para peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) untuk mengamati aktivitas otak partisipan, mencatat pola saraf yang terjadi karena mereka mengkodekan gambar-gambar kontekstual. (Baca juga : Otak Manusia Menyimpan Kenangan 10 Kali Lebih Banyak)

Subyek kemudian diminta untuk mencoba dan mengingat daftar kata, sementara peneliti sekali lagi mengukur aktivitas otak mereka menggunakan MRI.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang telah diberitahu untuk mengingat daftar, cenderung memutar ulang pola saraf yang sama terkait dengan konteks ketika mengingat kata-kata. Ini menunjukkan bahwa memori dan konteksnya telah terjalin dalam otak mereka.

Namun, subyek yang tidak mengingat daftar kata, justru tidak mengulangi pola saraf ini ketika gagal mencoba untuk mengingat kata-kata. Itu menunjukkan bahwa memori dan konteks tidak terjalin dalam pikiran mereka.

Peneliti utama, Jeremy Manning menjelaskan dalam sebuah pernyataan bahwa proses ini mirip dengan “mendorong memori masakan nenek Anda pikiran, jika Anda tidak ingin untuk berpikir tentang nenek Anda pada saat itu.”

Setelah penelitiannya diidentifikasi sebagai mekanisme untuk melupakan , ia berharap untuk melihat karyanya digunakan sebagai platform untuk mengembangkan berbagai terapi memori baru.

Komentar