Cara Makan, Meja Makan dan Nilai Sehatnya

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 23 Agustus 2016 | 13:29 WIB

Dibaca: 1 kali

Dua media terkenal, “prevention,” dan “daily mail,” secara khusus, hari ini, Selasa, 23 Agustus 2016, menurunkan tulisan tentang  cara makan dan penempatan meja makan  dikaitkan dengan nilai sehat yang bisa diraihnya.

Cara makan, menurut “daily mai,”  ternyata memiliki pengaruh bagi kesehatan tubuh.

Gaya hidup yang serba cepat dipercaya mengganggu pola makan dan menimbulkan penyakit.

Dulu, pola hidup masyarakat lebih teratur. Acara makan bersama seluruh anggota keluarga merupakan hal yang wajib dilakukan.

Ada baiknya kita mengembalikan pola tersebut demi kesehatan.

Untuk itu, coba anda perhatikan kondisi ruang makan dalam rumah.

Ritual makan sebaiknya dilakukan dengan benar, tanpa diganggu oleh aktivitas lain.

Jika ruang makan dan ruang keluarga menyatu, ada kemungkinan perhatian anda terpecah oleh tayangan televisi.

Bukan tak mungkin anak-anak Anda malah memilih menonton di depan TV.

Oleh sebab itu, buatlah batas antara ruang makan dan ruang keluarga agar kegiatan makan tak terganggu.

Tak perlu berupa dinding masif, yang penting Anda dapat memastikan bahwa perhatian tak teralihkan pada hal lain selama makan.

Kalau tak memungkinkan, pastikan saja bahwa posisi duduk selama makan membelakangi TV. Lebih mudahnya, matikan televisi selama makan.

Ubah kegiatan makan menjadi semacam ritual bersama. Selain mampu melatih diri menjadi disiplin, kesehatan pun lebih terjaga.

Memilih makanan lebih sehat ternyata semudah menekan sakelar: Anda lebih mungkin untuk memilih makanan yang sehat di ruang terang ketimbang ruang redup, begitu  isi sebuah studi baru dalam Journal of Marketing Research.

Orang-orang yang memesan makanan di sebuah resto dengan ruangan terang  dua puluh empat persen lebih mungkin untuk memilih makan bergizi seperti salad, sayuran, dan ikan bakar ketimbang mereka yang memesan dalam ruang yang redup.

Rata-rata, orang-orang di restoran dengan pencahayaan lampu redup alias cozy memesan makanan dengan kandungan kalori 39% lebih banyak.

“Pencahayaan terang mungkin membuat Anda memilih makanan sehat dengan cara membuat otak tetap terjaga,” kata penulis studi Dipayan Biswas, PhD, seorang profesor pemasaran di University of South Florida.

Cahaya dapat menekan produksi otak dari hormon tidur melatonin, sehingga membuat Anda penuh perhatian.

Dan yang membuat Anda lebih mungkin untuk membuat keputusan yang realistis, seperti memilih brokoli ketimbang gorengan.

Tentu saja, Anda tidak dapat mengubah pencahayaan di restoran, tapi Anda dapat menggunakan temuan ini untuk mengubah dapur Anda sendiri.

Saat Anda ngidam camilan, pastikan lampu di dapur dalam keadaan terang. Termasuk saat Anda ingin memasak, pastikan sinar matahari menyoroti ruangan.

Jika Anda menemukan diri Anda di sebuah restoran yang nyaman, awali makanan dengan secangkir teh atau kopi.

Para peneliti mengatakan, bahwa kafein memiliki efek yang mirip dengan pencahayaan yang terang, yaitu membantu otak untuk membuat pilihan makan cerdas.

Makan di restoran, untuk mereka yang tengah menjalani diet, memang menjadi tantangan yang tidak mudah.

Sebab, bisa jadi makanan yang sedap di restoran membuat Anda kewalahan dan melahap kalori lebih banyak.

Sekarang, kondisi itu bisa dihindari. Sebab, menurut studi, makan di ruangan yang terang bisa meningkatkan kesadaran Anda untuk memiliki menu sehat ketimbang makanan berlemak dan manis.

Studi menganjurkan Anda untuk memilih restoran dengan dekorasi penerangan yang baik dan tidak remang-remang.

Sebelumnya, sebuah artikel mengungkapkan studi yang mengatakan bahwa makan di restoran yang remang-remang, tak hanya romantis tetapi juga membuat Anda makan lebih sedikit. Namun, pilihan menu Anda, biasanya tidak sehat.

Studi yang digagas oleh University of South Florida, menyebutkan bahwa enam belas hingga dua bpuluh empat persen orang lebih memilih menu makanan sehat saat berada di ruangan yang terang.

“Tingkat kesadaran manusia lebih terjaga di ruangan yang terang, sehingga Anda yang sedang menjalani program diet akan tetap mempertahankan menu makanan yang sehat,” jelas Dr Dipayan Biswas.

Sebanyak  seratus enam puluh restoran diteliti oleh peneliti, mulai dari restoran makan malam hingga restoran cepat saja.

Hasilnya, hampir setengah dari pengujung restoran yang duduk di bawah lampu atau disebelah jendela, mereka memesan menu sehat dan kalori rendah, seperti misalnya, ikan, salada, dan daging putih.

Selain itu, sebagian besar dari mereka tidak memesan pencuci mulut yang terlalu manis dan berlemak.

Sementara itu, sebanyak tiga puluh sembilan persen pengunjung restoran dengan penerangan cenderung gelap, lebih banyak mengonsumsi makanan yang berkalori tinggi.

Komentar