Bersantai di Sofa Bisa Meningkat Depresi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 16 Oktober 2014 | 17:32 WIB

Dibaca: 0 kali

Jangan duduk bersantai di sofa! Itu yang diingatkan oleh sebuah penelitian yang dilakukan di University College London. Para ahli di lembaga itu menemukan bahwa duduk bersantai di sofa setiap hari, justru bisa meningkatkan risiko depresi.

Apalagi jika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan sejak muda.

Penelitian yang dirilis oleh “gaya hidup” di “Daily Mail,” mengungkapkan, jika kebiasaan bermalas-malasan itu dikurangi hingga minimal tiga kali seminggu dan digantikan olahraga, maka risiko depresi bisa diturunkan sampai enam belas persen.

Penelitian yang yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry tersebut menyebutkan bahwa mereka yang lebih memilih untuk tetap aktif di waktu liburan, memiliki risiko depresi lebih rendah dibanding mereka yang memilih bersantai.

“Penelitian yang kami lakukan menemukan bahwa olahraga yang dilakukan secara reguler setiap minggu, bisa mengurangi risiko depresi hingga 16 persen, dan semakin sering mereka melakukan olahraga, risiko depresi pun semakin berkurang,” tutur Dr Snehal Pinto Pereira, ketua peneliti, dilansir “Daily Mail”.

Penelitian tersebut mensurvei lebih dari sebelas ribu partisipan yang lahir pada 1958 dan memeriksa kecenderungan depresi serta kegiatan mereka di usia produktif hingga memasuki manula.

Dari hasil studi tersebut, diketahui mereka yang terbiasa aktif di waktu muda, memiliki kecenderungan depresi yang lebih rendah dibanding mereka yang pasif.

“Studi yang kami lakukan menemukan bahwa waktu bersantai dan kegiatan fisik, punya efek tersendiri guna memerangi depresi, terutama pada orang dewasa usia 20an dan empat puluh0an,” jelas Dr Pareira.

Lebih lanjut, olahraga memicu produksi endorfin yang bertanggungjawab menimbulkan rasa bahagia. Selain itu, hormon endorfin memperbaiki kesehatan mental, dan membuat tubuh terpicu untuk menjalani pola hidup sehat, seperti makan makanan sehat atau mengonsumsi suplemen dan vitamin.

Kebiaaan duduk di sofa memang harus dikurangi. Contohlah orang Turki yang mengusir stress dengan melakukan Keyif. Artinya menikmati hal-hal yang menyenangkan.

Praktiknya bisa dengan mendengarkan musik atau meluruskan kaki dan tidak berpikir tentang apa pun yang menyebabkan stres.

Pikiran stres sering kali datang dari anggapan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Jika dapat berfokus pada hal yang positif, pikiran buruk pemicu stres akan hilang atau setidaknya berkurang. Sebuah penelitian menemukan bahwa orang-orang yang diberi kompres dingin akan sangat berkurang rasa tak nyamannya apabila disambil mendengarkan musik.

Berlainan dengan di Cina. Orang-orang Cina terbiasa merendam kaki dalam panci besar berisi air panas atau disebut dengan istilah ‘yu zu’ sebelum tidur. Biasanya dilakukan sambil duduk di sofa saat membaca buku atau surfing internet hingga jatuh tertidur.

Merendam kaki hingga pergelangan kaki dalam air panas yang ditambahkan garam dan dua sendok baking soda selama lima belas menit dapat menurunkan pembengkakan dan memperbaiki sirkulasi darah. Selain itu, efeknya juga dapat menenangkan.

Di Rusia untuk meredakan stres, mereka melakukan mandi sauna atau mandi uap menggunakan air panas. Sekedar duduk dalam panas yang ekstrim dengan peluh membasuh tubuh sudah dapat menjadi pengobat jiwa.

Mandi air hangat atau sekedar mandi uap panas tak hanya membuat kehangatan memeluk kulit, namun sebuah penelitian dari Yale University menunjukkan bahwa kehangatan uap air panas dapat memicu respons otak dan tubuh akan kehangatan emosional serta meningkatkan suasana hati.

Sedangkan di Thailand mereka memiliki tradisi yang serupa dengan Indonesia untuk meredakan stres, yaitu pijat. Pijat yang dilakukan juga mirip, yaitu dilakukan dengan kuat, ditambah tekanan lewat lutut dan siku untuk mengusir stres.

Mengurut pangkal leher dan daerah sekitarnya akan melepaskan hormon serotonin, yaitu antidepresan alami. Efek ini akan lebih dahsyat lagi jika meminta pasangan melakukan pemijatan.

Ada juga yang aneh mengusir stress. Orang India melakukan latihan tertawa dengan tersenyum, melambaikan tangan dan melompat. Semakin sering latihan ini dilakukan, semakin baik suasana hati yang dihasilkan.

Ketika tertawa, otot-otot perut berkontraksi dan memicu hormon endorfin yang membuat perasaan merasa lebih baik, demikian menurut penelitian dari Universitas Oxford. Tertawa selama beberapa menit saja sudah bisa menenangkan. Oleh karena itu, ada baiknya merekam pertunjukan atau acara humor favorit untuk ditonton lagi malam hari selepas beraktivitas.

Di Argentina mereka minuman yang disebut mate, yaitu minuman herbal panas yang diedarkan bersama teman-teman seperti pipa perdamaian pada suku Indian. Hal itu membuat orang-orang jadi terhubung dengan kelompoknya dan menurunkan stres.

Menurut sebuah penelitian di Belgia, makan atau minum bersama melepaskan hormon oksitosin yang menenangkan. Adanya ikatan yang kuat dengan kelompok akan membuat seseorang dihargai oleh orang lain di sekitarnya.

Yang anehnya di Swedia mereka beristirahat dengan minum kopi bersama teman-teman. Ritual kecil ini sudah menjadi bagian dari budaya di sana sejak tahun 1700-an.

Di banyak perusahaan, karyawan melakukan apa yang disebut fika dengan pergi ke kafe minum latte, teh atau smoothie ditemani kayu manis, muffin, atau macaroni.

Fika membuat perasaan menjadi nyaman dan damai. Sebuah penelitian yang dilakukan Massachusets Institute of Technology menemukan bahwa orang-orang yang bersosialisasi menjelang akhir hari kerja akan lebih produktif daripada yang tidak bersosialisasi.

Komentar