Berani Katakan “No,” Pada Gula, Garam dan Lemak?

Penulis: Darmansyah

Kamis, 25 April 2013 | 11:48 WIB

Dibaca: 9 kali

Mau hidup sehat?  Bilang pada gula, garam dan lemak “no.” Itu yang dinyatakan oleh para ahli kesehatan untuk menghindar dari hipertensi, gula darah dan jantung. Itu pula yang selalu dianjur oleh para dokter dengan sedikit basa basa,”kurangi.”

Dan itu pula yang tak pernah dihiraukan pasien dengan ucapan dalam bahasa “ibu,” nya, “hana mangat, tabeu.” Ya makanan tanpa garam hambar. Minuman atau makanan tanpa gula tawar. Dan tanpa makan kuah “beulangong” nggak sah kenduri. Itu “jargon” yang populer untuk meniadakan ketiga rasa dalam makanan, yang umumnya menjadi daya tarik di lingkungan kuliner.

Anda pasti pernah ngoceh karena padamnya selera ketika mencicipi makanan tanpa garam. Anda juga akan minta tambahan gula ketika seduhan teh atau kopi terasa sepat dan pahit. Dan coba kenduri meunasah tanpa hidangan kuah “beulangong” yang ditaburi “gapah,” pasti menimbulkan gosip heboh ketidak afdholannya.

Kita tidak pernah menyadari betapa konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak dalam jangka panjang berbahaya bagi kesehatan. Membiasakan pola makan sehat sejak muda dapat mengurangi risiko penyakit degeneratif, seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, dan gangguan ginjal.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam, Divisi Ginjal-Hipertensi, Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo, Suhardjono,  di Jakarta, seperti dikutip kontributor  “nuga.co,” yang hadir dalam presentasi itu,  mengatakan, untuk hidup sehat, tubuh memerlukan nutrisi penting seperti karbohidrat, lemak, dan protein, serta nutrisi tambahan seperti vitamin dan mineral.

”Nutrisi tersebut harus dikonsumsi semua, tidak boleh ada yang ditinggalkan. Namun, bila konsumsi karbohidrat dan lemak berlebihan, bisa mengakibatkan kegemukan yang mengundang berbagai penyakit,” katanya.

Kegemukan, kata Suhardjono, berpotensi menyebabkan tekanan darah tinggi, gangguan insulin, dan peradangan. Faktor-faktor itu dalam jangka panjang berpotensi merusak ginjal.

Saat ini, kasus gagal ginjal terus meningkat dan berdampak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular alias gangguan jantung dan pembuluh darah. Kematian pasien gagal ginjal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah sangat tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) tahun 2000, 56 juta kematian di dunia setiap tahun disebabkan penyakit ginjal.

Untuk menekan faktor risiko terjadinya kerusakan ginjal, Suhardjono menyarankan pola makan sehat. Maksudnya, pola makan yang lebih banyak porsi air, sayur, dan buah sesuai piramida makanan. ”Makanan berlemak, berminyak, dan manis berada di ujung tertinggi piramida sehingga porsinya lebih kecil,” katanya.

Pola makan sehat harus diterapkan sejak dini. ”Pada bayi sampai usia empat tahun, sel lemak masih dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang. Tapi setelah itu, sel tidak lagi tumbuh, melainkan akan membesar. Jika makan terlalu banyak lemak, bisa terjadi kegemukan bahkan obesitas,” kata Suhardjono.

Dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Santoso Karo Karo, mengatakan, diet yang seimbang dibutuhkan agar kondisi jantung tetap sehat. Konsumsi garam yang berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Pada akhirnya, hal itu membuat kerja jantung lebih berat.

Santoso mengatakan, pola makan yang sehat harus meminimalkan asupan garam, gula, dan lemak. Sebaliknya, kaya serat seperti sayur, buah, dan biji-bijian.

”Kalori dari gula tidak boleh lebih dari 10 persen dari total kebutuhan sehari karena sumber gula bermacam-macam. Garam tidak lebih dari 6 gram. Lemak berkisar 5-10 persen dari makanan yang kita makan,” katanya.

Di Indonesia, pola makan rendah garam sulit diterapkan karena banyak makanan yang diasinkan. Masyarakat juga umumnya masih mementingkan asupan karbohidrat banyak. ”Yang penting kenyang,” ujarnya.

Rendahnya aktivitas fisik dan jarang berolahraga memperbesar risiko terjadinya penyakit jantung. Sesuai rekomendasi World Society of Sport, orang berusia 25-55 tahun disyaratkan berjalan setidaknya 10.000 langkah setiap hari atau rata-rata 3,5 kilometer.

Pola makan sehat rendah garam, gula, dan lemak, kata Santoso, sebaiknya diterapkan sejak anak dalam kandungan. Mengurangi garam saat hamil dapat menghindarkan ibu dari preeklamsia dan bayi lahir dengan berat badan rendah. Bayi seperti ini berpotensi terkena penyakit jantung di masa dewasa.

Mengurangi asupan gula saat hamil dapat menekan risiko bayi lahir dengan berat badan berlebih dan nantinya berisiko menderita diabetes.

Tapi siapa yang peduli dengan kadar garam yang berlebih dalam makanan. Paling kalau overdosis mereka akan mengatakan keasinan atau kemanisan. Atau pun mengatakan tambak “mangat” kalau genangan lemak dalam kuah “belangong” berenang dengan nangka atau pisang.

Sedaaapp… Yang tanpa disadari membawa penikmat makin dekat dengan penyakit regenerative. Penyakit yang kini menjadi setengah “wabah” di Indonesia.

 

 

Komentar