Benarkah Satu dari Dua Lelaki Impoten?

Penulis:: Darmansyah

Sabtu, 14 Mei 2016 | 10:38 WIB

Dibaca: 0 kali

Benarkah satu dari dua lelaki akan mengalami impotensi?

“Ya,” jawab terapis psikoseksual dari Relate, Nina Bryan.

“Kasus ini  memang sedang  ancaman hubungan pria dan wanita,”ujar Nina.

“Ketika saya mulai masuk ke dunia ini, jarang sekali ada pria yang melaporkan kehilangan gairahnya dalam seks,”

Lantas bagaimana dengan kondisi hari ini?

“Sekarang jumlahnya menjadi sepertiga dari seluruh kasus yang saya tangani.”

Menurutnya, ada alasan khusus yang dikemukakan pada spesialis seks mengenai fenomena ini.

“Kami mengharapkan yang lebih banyak dari pria saat ini,” ujar Petra Boynton, psikologi relasi dan seks.

“Mereka tak hanya dituntut menjadi pencari nafkah, tetapi juga ayah yang cekatan, sekaligus suami yang mampu memberikan orgasme untuk istrinya.”

Pria selalu dianggap berpengalaman soal seks sejak masa puber, namun dalam kenyataannya, dorongan seks pria berfluktuasi untuk penyebab apa pun.

Bisa dikarenakan stres, ketidakbahagiaan, kelelahan, atau berada di bawah tekanan saat bekerja.

Mengenai fenomena ini, Bryant mengakui bahwa berfokus pada seks bukanlah jalan keluar terbaik yang dapat dilakukan perempuan.

“Tak usah membeli sex toys atau semacamnya. Perempuan bisa mencoba merapikan kamar tidur lebih dulu, meskipun hal itu jarang sekali menjadi penyebabnya,” paparnya.

Jika suami terlihat bosan, lebih baik Anda memberitahu pasangan. Tanyakan apakah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Katakan juga bahwa Anda merindukan suasana romantis di kamar.

Dalam penelitian dikatakan pula bahwa menurut perkiraan, satu dari dua pria akan mengalami impotensi pada beberapa titik dalam hidupnya.

Kadang-kadang hal ini merupakan gejala diabetes atau penyakit jantung. Bisa diperparah pula dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol.

Nah, jika kondisi kesehatan suami sebenarnya masih prima, akan lebih baik jika Anda mencari tahu penyebabnya dengan berkonsultasi.

Terapis seks profesional sudah terlatih untuk mengangkat masalah yang menjadi akarnya, dan membantu pasangan menemukan hasratnya kembali.

Dan Anda perlu juga tahu bahwa penis sebagai sumbernya  merupakan organ reproduksi pria yang memiliki fungsi penting.

Penis berfungsi sebagai saluran untuk mengeluarkan air seni dan juga air mani.

Sayangnya, banyak pria yang tidak menjaga kesehatan penisnya agar berfungsi optimal.

Jika  ingin tetap eksis maka sayangilahi penis Anda, berhentilah melakukan tiga kebiasaan buruk ini, seperti dikutip dari Mirror.co.uk.

Kebiasaan buruk itu salah satunya adalah  minum alcohol. Dalam kasus ini pria akan  merusak kesehatannya sendiri.

Alkohol dapat mengganggu jalannya pembuluh darah ke penis. Hal ini menyebabkan pria berisiko disfungsi ereksi.

Alkohol juga berkaitan dengan terjadinya dehidrasi yang bisa menyebabkan volume darah berkurang dan peningkatan angiotensin.

Selain itu adalah kebiasaan merokok. Merokok  tak hanya meningkatkan berbagai risiko penyakit, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan penis.

Merokok bisa menyebabkan aterosklerosis atau penumpukan plak dalam arteri, termasuk menyumbat peredaran darah ke penis.

Menurut National Male Medical Clinics, bahan kimia beracun yang terkandung dalam rokok bisa menyebabkan disfungsi ereksi.

Bahan kimia beracun itu pun dapat merusak jaringan penis. Sejumlah hasil penelitian pun menunjukkan bukti, merokok dapat merusak kualitas sperma.

Lainnya, kesehatan penis memang tidak ditentukan dari seberapa besar ukurannya.

Namun, jika terlalu gemuk atau obesitas, kondisi itu bisa membuat penis Anda “tenggelam”.

“Dalam beberapa kasus, banyak lemak di perut dapat menyembunyikan penis,” kata Ronald Tamler, MD, PhD, dari Men’s Health Program di Mount Sinai Hospital, New York.

Untuk itu, hindari mengonsumsi banyak makanan berlemak yang dapat menyebabkan kegemukan.

Menurut laporan The Health Site, obesitas juga meningkatkan risiko kurangnya stamina seksual, disfungsi seksual, dan ketidakseimbangan hormonal.

Sejalan dengan pertambahan usia, seorang pria memerlukan waktu lebih lama dan rangsangan lebih banyak untuk mendapatkan ereksi.

Tentu saja, siapa pun bisa menjadi cemas dan tertekan karena kehilangan kemampuan alat vitalnya.

Akan tetapi, sebenarnya banyak yang bisa diperbuat untuk mengusahakan agar Anda tidak sampai mengalami impotensi.

Bagi kaum pria, penyakit impotensi atau dikenal dengan istilah medis sebagai disfungsi ereksi, merupakan penyakit paling memalukan dan paling menyedihkan.

Sudah cukup banyak pria yang mengalami impotensi namun kerap belum mengalami penyembuhan berarti.

Pakar seks terkemuka Dr Boyke Dian Nugraha, Sp.OG, MARS, mengatakan penyakit disfungsi ereksi alias impoten tetap bisa disembuhkan.

“Tentu, yang namanya impoten itu paling memalukan dan menyedihkan buat pria. Tapi apapun itu penyakit seks, impoten, frigid, dan sebagainya tetap bisa disembuhkan,” kata Dr

Boyke menjelaskan, salah satu faktor utama penyebab impotensi justru berasal dari faktor psikologis seseorang.

Permasalahan yang bisa menimbulkan tekanan psikologis seperti stres bisa membawa dampak sampai ke “urusan ranjang”.

“Lima puluh persen itu karena faktor psikologis. Banyak faktor, mulai dari istri galak, kena PHK, masalah ekonomi, dan sebagainya, akhirnya jadi terbawa dan jadi masalah,” tuturnya.

Sementara lima puluh  persen faktor lainnya, disebabkan oleh masalah secara fisik.

Berbagai penyakit yang diderita seseorang bisa berdampak kepada kehidupan seksualnya, termasuk untuk bisa ereksi.

“Sisanya ini karena kelainan fisik. Terbagi-bagi bisa dari kelainan fisik, darah tinggi, hipertensi, diabetes, kolestrol, asam urat, kelainan pembuluh darah dan saraf, dan trauma luka tulang blakang,” terangnya.

Meski demikian ia meyakinkan, impotensi tetap dapat disembuhkan dengan metode pengobatan yang tepat. Impotensi karena faktor psikologis, misalnya, dapat disembuhkan dengan konsultasi ke dokter dan terapi.

“Pasien impoten memang mengalami rendah diri dan malu. Maka perlu terapi ke dokter, juga misalnya, olah raga, makan makanan yang sehat, berhenti merokok dan minuman keras,” tuturnya.

Komentar