Belahan Jiwa? Nah, Ini Jawabannya

Penulis:: Darmansyah

Sabtu, 12 Desember 2015 | 09:14 WIB

Dibaca: 2 kali

Belahan jiwa?

Anda mendapatkan kebahagiaan selamanya dengan dia?

Nah. Jawabannya, seperti ditemukan dalam buku “The Mathematics of Love,” karya terbaru dari Hannah Fry, bisa dirumuskan dengan sangat sederhana.

“Beberapa negatif dan positif hubungan Anda satu sama lain.”

Fry yang bekerja di Pusat Analisis Spasial Lanjutan di UCL London menjelaskan dalam bukunya itu peramal terbaik langgengnya sebuah hubungan tidak akan bergeser dari seberapa positif atau negatif hubungan setiap pasangan satu sama lain.

Buku yang menjadi “best seller” di Inggris itu, juga membahas karya inovatif psikolog John Gottman dan timnya.

Selama bertahun-tahun, Gottman dan timnya mengamati ratusan pasangan dan mencatat ekspresi wajah, detak jantung, tekanan darah, konduktivitas kulit, dan kata-kata yang mereka pakai ketika berbincang dengan pasangan.

Buku itu menjelaskan dengan detil bagaimana setiap pasangan menganggap hubungan bahagia sebagai prioritas dan perilaku buruk dianggap sebagai hal aneh

Seorang istri menganggap suaminya menjadi pemarah ketika dalam kondisi tidak biasa, misalnya ada tekanan di tempat kerja atau tidur malam yang buruk.

“Dalam hubungan negatif sebaliknya,” kata Fry.

“Perilaku buruk dianggap sebagai norma.”

Seorang suami, misalnya, berpikir sifat pemarah istrinya adalah hal ‘khas’ karena sifat egois atau ciri negatif lain.

Gotman sendiri, yang kemudiannya bekerja dengan ahli matematika James Murray, secara bersama berupaya memahami mengapa spiral negatif dalam hubungan sebuah pasangan terjadi

Mereka lalu menemukan persamaan yang memprediksi seberapa positif atau negatif suami atau istri dalam percakapan mereka berikutnya.

Gottman dan Murray menemukan, pengaruh pasangan satu sama lain adalah faktor terpenting.

ika seorang suami mengatakan sesuatu yang positif, misalnya setuju dengan istrinya atau membuat lelucon, istri akan bereaksi positif pada gilirannya.

Namun, jika dia melakukan sesuatu yang negatif, seperti menyela istrinya atau membantah sesuatu yang istrinya katakan, kemungkinan sang istri kemungkinan akan terpengaruh negatif.

Ambang batas negatif istri ketika frustasi dengan suaminya adalah saat di mana dia akan merespons sangat negatif.

Yang menarik, Fry mengatakan, dia membayangkan hubungan terbaik akan memilik ambang negatif tertinggi.

Artinya, mereka akan fokus pada kompromi dan akan mengemukakan masalah hanya jika itu adalah masalah besar. Namun, yang benar justru sebaliknya.

Hubungan paling sukses adalah hubungan dengan ‘ambang negatif’ sangat rendah, kata Fry.

“Dalam hubungan tersebut, pasangan dapat mengkomplain satu sama lain, dan bekerja sama memperbaiki masalah kecil di antara mereka.”

“Dalam kasus tersebut, pasangan tidak menyimpan apa yang mereka rasakan, dan hal-hal kecil tidak berakhir dengan ledakan yang di luar proporsinya.”

Pasangan yang bahagia cenderung memiliki interaksi positif daripada negatif, dan saling memberi manfaat atas keraguan masing-masing. Saat ada masalah, mereka akan membicarakannya dengan cepat, memperbaikinya, dan melanjutkan hubungan.

Saat menjajaki hubungan dengan seseorang, terkadang timbul pertanyaan, apakah dia orang yang tepat menjadi pasangan hidup Anda?

Sebuah penelitian lainnya di Universitas Illinois, Amerika Serikat melakukan studi tentang pola hubungan pasangan.

Berdasarkan penelitian tersebut, terdapat empat jenis pola hubungan yang menunjukkan apakah pasangan mungkin untuk tetap bersama.

Seperti dilaporkan oleh Independent, penelitian yang dilakukan oleh Brian Ogolsky dari Universitas Illinois ini mengklasifikasikan pasangan berdasarkan perubahan komitmen mereka untuk menikah dan alasan perubahan itu.

Sementara studi sebelumnya memfokuskan pada aspek individual hubungan, penelitian ini melihat hubungan secara keseluruhan, serta hubungan dengan media sosial.

Profesor Ogolsky mengamatai ratusan pasangan belum menikah di pertengahan dua puluhan selama sembilan bulan.

Dari studi tersebut, dia mengidentifikasi empat jenis hubungan, yaitu dramatis, sarat konflik, terlibat secara sosial, terfokus pada mitra.

Studi ini juga menemukan bahwa empat jenis hubungan ini berbeda-beda dalam variabel relasional penting, seperti kepuasan, cinta, ambivalensi, kekhawatiran tentang pernikahan.

Komitmen menikah pasangan dilacak menggunakan grafik. Setiap orang selama sembilan menuliskan tanggal penting yang menandai perubahan perasaan mereka terhadap komitmen pernikahan. Perubahan termasuk di antaranya adalah argumen dan perbedaan antarpribadi.

Bersamaan dengan grafik tersebut, peneliti juga mewawancarai pasangan setiap bulan untuk menganalisis kemungkinan mereka menikah.

Studi menemukan, setelah periode sembilan bulan, pasangan dalam kelompok dramatis lebih mungkin untuk mengakhiri hubungan.

Pasangan dalam kelompok terlibat secara sosial, yang paling dipengaruhi oleh interaksi di jaringan sosial, memiliki komitmen pernikahan paling kecil.

Mereka dalam kelompok yang berfokus pada pasangan menunjukkan tingkat interaksi positif yang tinggi dan memiliki kesempatan tertinggi untuk menikah.

Berbagai aplikasi muncul untuk memudahkan kehidupan di era digital. Salah satunya adalah aplikasi kencan yang memudahkan seseorang mencari pasangan.

Komentar