Awas!! Stres Bisa Alzheimer dan Depresi

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 2 Februari 2016 | 09:03 WIB

Dibaca: 1 kali

Jauhilah stress.

Itulah nasehat dari Dr Linda Mah, penulis utama, sekaligus peneliti hebat dari jurnal terkenal dunia Baycrest Centre for Geriatric Care in Toronto, Kanada,

Lantas kenapa manusia harus menjauhi stress?

Reskionya, tulis Linda, stres dapat menyebabkan perubahan otak yang terkait dengan depresi dan alzheimer.

Bukti utama dari penelitian ini menunjukkan, stres kronis dan kerusakan kecemasan daerah otak memiliki hubungan dengan respons emosional, berpikir, dan memori.

Dr Linda Mah mengatakan, kecemasan patologis dan stres kronis berhubungan dengan degenerasi struktural dan gangguan fungsi hippocampus dan korteks prefrontal, yang dapat meningkatkan risiko gangguan neuropsikiatri, termasuk depresi dan demensia atau kepikunan.

Hasil penelaahan yang diterbitkan dalam jurnal Current Opinion in Psychiatry, menemukan, beberapa studi terbaru yang dikumpulkan mengenai stress, penyejuk takut pada hewan, dan orang-orang yang menjalani scan otak.

Dr Mah beserta tim secara khusus meneliti di sirkuit saraf yang terkait dengan rasa takut dan kecemasan di tiga wilayah otak, yakni amigdala, PFC, dan hippocampus.

Sebuah pola melihat respons terhadap stres kronis dengan amigdala, yang berhubungan dengan respons emosional, menjadi lebih aktif dan PFC kurang aktif.

Peristiwa kecemasan, ketakutan dan stres yang bersifat sementara, seperti sebelum ujian atau wawancara pekerjaan merupakan bagian dari kehidupan normal.

Tetapi para ilmuwan menunjukkan, ketika reaksi emosional akut menjadi kronis, mereka dapat “mendatangkan malapetaka” bagi kekebalan tubuh, metabolisme, sistem kardiovaskular, dan merusak otak.

Mengalami stres teramat sangat ternyata meningkatkan risiko lansia terhadap masalah memori yang sering diikuti dengan penyakit alzheimer.

Peneliti menemukan lansia dalam penelitian yang mengalami stres berat lebih dari dua kali cenderung mengalami masalah memori dibandingkan mereka yang hanya memiliki stres rendah.

Hasil penelitian ini menyarankan pencarian cara menurunkan stres pada lansia secara dini mungkin membantu menunda atau bahkan mencegah timbulnya penyakit Alzheimer’s.

Peneliti mencatat bahwa cara kita memandang kejadian berpotensi stres dalam hidup mungkin berperan dalam risiko terjadinya masalah memori.

“Ini bukan apa yang terjadi pada diri Anda tetapi bagaimana kita memandang apa yang terjadi pada diri kita,” kata salah satu peneliti Dr. Richard Lipton, wakil ketua neurologi di Albert Einstein College of Medicine di New York.

Peneliti menemukan orang mengalami kondisi amnestic mild cognitive imparment. Ditemukan juga semakin tinggi kadar stres seseorang, semakin risiko terkena gangguan memori meningkat tiga puluh persen.

Peserta penelitian yang mengalami kadar stres tertinggi hampir dua setengah kali cenderung mengalami masalah memori dibandingkan mereka yang memiliki kadar stres rendah.

Penelitian ini sudah dimuat di jurnal Alzheimer Disease & Associated Disorders.

Wanita dibandingkan pria cenderung mengalami stres lebih tinggi.

Dan menurut penelitian ini orang dengan pendidikan lebih rendah atau kadar depresi lebih tinggi juga mengalami kadar stres lebih tinggi.

Mekanisme yang mungkin menghubungkan stres dan pelemahan memori belumlah jelas.

Namun riset sebelumnya pada hewan dan bukti-bukti pada manusia sudah menunjukkan bahwa stres kronis berhubungan dengan penyusutan daerah otak yang disebut hippocampus.

“Daerah ini berhubungan dengan memori dan mungkin menyebabkan defisit memori,” kata Lipton.

Namun stres merupakan faktor risiko yang dapat diubah. “Terdapat banyak cara mengatasinya, misalnya berolah raga, berteman dengan banyak orang untuk memberi dukungan sosial,” kata Lipton.

Cara potensial lain mengurangi stres adalah dengan berpartisipasi dalam sejenis terapi yang disebut cognitive behavioral therapy yang membantu kita mempelajari perencanaan lebih baik.

Cara ini bisa mengurangi sumber potensial stres sehari-hari seperti menjadwalkan terlalu banyak pertemuan.

Terapi ini mungkin juga membantu kita mengubah cara memandang kejadian yang berpotensi stres.

Misalnya dengan melatih tidak melihat kejadian ini lebih buruk dari kenyataannya.

Komentar