Awas, “Penyakit Kesepian” Itu Bahaya

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 1 Desember 2015 | 09:32 WIB

Dibaca: 1 kali

“Sakit kesepian?”

“ Ya, kenapa tidak,” tulis laman situs kesehatan “webmd,” Selasa, 01 Desember 2015.
Anda tahu penyebabnya?

Sebuah penelitian terbaru, seperti yang ditulis laman “webmd,” penyebabnya adalah karena Anda terlalu larut dan membiarkan kesepian menggerogoti diri Anda

Nah. Ditegaskan oleh hasil penelitian itu kesepian terbukti dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
Hal ini membuat seseorang yang kesepian akan lebih mudah sakit.

Para peneliti dari Universitas Chicago dan Universitas California mengungkapkan, rasa kesepian dapat memicu perubahan sel dalam tubuh. Kemampuan tubuh untuk melawan penyakit jadi berkurang dan meningkatkan risiko peradangan.

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengamati hubungan sosial lebuh seratusan orang tua dan kaitannya dengan risiko penyakit.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Prosiding National Academy of Sciences ini awalnya dilakukan terhadap primata.

“Tidak hanya membuat hidup sengsara, kesepian dapat berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental,” ujar Caroline Abrahams dari Age UK.

Untuk itu, menurut peneliti, kesepian merupakan masalah kesehatan. Namun, para peneliti mengatakan, pada dasarnya orang yang kesepian sudah memiliki sistem kekebalan tubuh lemah dibanding orang yang tidak kesepian.

Rasa kesepian biasanya dialami oleh orangtua ketika anak-anak mereka telah menikah dan tak lagi tinggal bersama orangtua.

Penelitian menunjukkan, lebih dari satu juta orangtua mengaku belum berbicara dengan anggota keluarganya, kerabat, dan tetangga selama lebih dari satu bulan.

Perilaku sosial itu menunjukkan bahwa mereka merasa kesepian.

Untuk Anda tahu, seperti juga ditulis oleh situs terkenal “huffington,” merasa kesepian bisa dialami oleh siapa saja.

Penelitian kainnya seperti yang dikutip “nuga” dari Psychological Science, mereka menemukan bahwa orang-orang yang merasa kesepian kerap dipandang sebagai seseorang yang berkepribadian aneh.

“Orang-orang yang kesepian memiliki lebih banyak masalah pada kesehatan fisik dan mental daripada mereka yang berhubungan dengan banyak orang,” ujar Bruce Rabin, seorang direktur Program Lifestyle University of Pittsburgh Medical Center.

Kesepian sering membuat seseorang merasa sedih.

Berdasarkan hasil penelitian Universitas Chicago, semakin larut dalam kesedihan, semakin besar kemungkinan mengalami gejala depresi.

“Saat Anda kesepian, hormon otak yang berhubungan dengan stres seperti kortisol menjadi aktif sehingga dapat menyebabkan depresi,” jelas Rabin.

Untuk mengurangi gejala depresi, seseorang perlu aktif berinteraksi sosial. Hal ini didukung oleh studi Colorado State University.

Bagi mereka yang merasa kesepian akan mengurusi dirinya sendiri. Mereka cenderung menjadi kurang peduli dengan dirinya, termasuk masalah kesehatan.

Peneliti mengatakan bahwa pola makan orang-orang yang merasa kesepian menjadi tidak sehat jika makan seorang diri. Berbeda dengan mereka yang menyiapkan masakan untuk orang lain.

Mereka yang merasa kesepian juga lebih rentan terhadap penyakit jantung.

Sebuah studi di Havard tiga tahun lalu menunjukkan bahwa orang dewasa yang hidup seorang diri memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung sebesar dua puluh empat persen.

“Penelitian secara konsisten menunjukkan orang yang kesepian memiliki risiko penyakit jantung lebih tinggi,” kata Rabin.

Menurut Rabin, ketika seseorang tidak mendapat dukungan secara sosial, maka akan lebih mudah stres yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena penyakit jantung.

Diketahui bahwa produksi hormon stres yang tinggi dapat meningkatkan akumulasi endapan Kolesterol di dalam hati. Mereka yang merasa kesepian juga cenderung kurang bergerak aktif.

Penelitian lainnya oleh Ohio State University tahun 2013 pun menunjukkan bahwa seseorang yang merasa kesepian bisa memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Orang-orang yang merasa kesepian akan lebih rentan mengalami inflamasi. Inflamasi atau peradangan ini terkait dengan kondisi kesehatan seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, atritisn dan alzheimer.

Para peneliti juga sepakat menyimpulkan, seseorang yang hanya memiliki beberapa teman dekat bisa tidak merasa kesepian.

Sebaliknya, ada seseorang yang merasa kesepian dalam keramaian. Bergabung dengan suatu kelompok atau berkumpul setiap malam pun belum tentu mampu mengusir rasa sepi.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Lakukanlah perbuatan baik bagi orang lain. Hal ini dapat meningkatkan suasana hati. Anda akan berinteraksi dengan sejumlah orang yang bisa menjadi teman dan akhirnya membuat Anda tak lagi merasa kesepian.

Peneliti juga menemukan bahwa orang yang kesepian selama setahun, masih ditemukan adanya pro-inflamasi atau kekuatan tubuh melindungi dirinya.

Dalam percobaan lain pada penelitian yang sama, peneliti menemukan bahwa pergeseran pro-inflamasi tampaknya terkait dengan meningkatnya sel imatur yang biasa disebut monosit yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh atau antivirus.

Penelitian terhadap monyet, para ilmuwan menemukan bahwa perubahan pro-inflamasi dalam tubuh memiliki konsekuensi nyata bagi kesehatan monyet.

“Itu mengapa monyet dengan tingkat kesepian yang akut, lebih sering diserang penyakit daripada monyet yang tidak kesepian”, kata Cacioppo.

Komentar