Asuplah Pisang, Stroke Akan Menjauh

Penulis: Darmansyah

Jumat, 5 April 2013 | 20:56 WIB

Dibaca: 0 kali

Bagi penggemar pisang bergembiralah.  Ternyata buah yang melimpah di negeri ini direkomendasikan oleh para ahli untuk rutin diasup karena bisa mencegah stroke. Pisang, seperti yang kita kenal banyak jenisnya, merupakan buah yang kaya kandungan potasium. Satu buah pisang rata-rata mengandung 420 mg.

Kandungan potasium mempunyai peran dalam menurunkan tekanan darah. Sebuah studi menemukan orang yang cukup asupan potasium memiliki risiko stroke 24 persen lebih kecil. Meski begitu, sebelumnya,  para peneliti menemukan bahwa konsumsi potasium pada orang tua dapat berbahaya karena menyebabkan  penurunan fungsi ginjal sehingga tidak dapat menghilangkan sisa-sisa potasium dari darah.

Namun,  dalam temuan terbaru para ahli membantah argumen  itu lewat penelitian yang akurat dimana potasium tidak berpengaruh negatif terhadap fungsi ginjal. Para peneliti menyebutkan, ada bukti sangat kuat bahwa rutin mengonsumsi makanan sumber potasium berdampak sangat positif bagi mereka yang menderita hipertensi.

Para peneliti menganalisa 128.000 orang hingga lebih dari 33 kali percobaan. Mereka menemukan bahwa orang yang mengonsumsi lebih banyak mineral, misalnya rajin makan pisang, aman untuk setiap orang. Asupan potasium yang disarankan perhari adalah tidak lebih dari 3.500 mg.

Studi lain, dalam rangkaian penelitian yang sama,  menemukan bahwa mengurangi asupan garam dalam empat minggu atau lebih secara signifikan dapat menurunkan tekanan darah. Pada akhirnya hal itu dapat menurunkan risiko stroke dan serangan jantung.

Dr. Clare Walton dari Stroke Association mengatakan diet yang sehat merupakan kunci dari mengatur risiko stroke. “Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terbesar untuk stroke. Mengubah pola makan menjadi lebih sehat dapat menjaga tekanan darah tetap terkontrol,” katanya.

Stroke dan pisang memang memberikan rasa aman bagi mereka yang potensi  terserang penyakit mematikan itu. Stroke harusnya ditandai dengan gejalanya sejak dini. Jangan ada kesan bahwa stroke  adalah penyakit orang  berusia lanjut, kelebihan berat badan, malas berolahraga, dan perokok.

Kasus Andrew Marr, penyiar BBC yang mengalami stroke di usia 50-an, tidak memenuhi kategori itu. Ia dikenal sebagai pria yang memiliki gaya hidup sehat dan rajin berolahraga lari.

Memang, usia adalah salah satu faktor risiko terbesar dari penyakit stroke, tetapi stroke ternyata tak pandang bulu. Siapa pun dan pada usia berapa pun bisa terserang serangan mematikan ini.

Data di Inggris menyebutkan, lebih dari 150.000 orang terserang stroke setiap tahun dan seperempat dari mereka berusia di bawah 65 tahun. Bahkan, ada pula kasus stroke pada usia kanak-kanak.

Para ahli menduga, gaya hidup tidak sehat dapat meningkatkan peluang terkena stroke. Merokok, kelebihan lemak di perut, dan terlalu banyak mengonsumsi alkohol tidak serta-merta mengakibatkan stroke dalam waktu singkat. Namun, faktor-faktor tersebut secara perlahan-lahan akan meningkatkan risiko stroke seumur hidup. Namun, ada penyebab lain mengapa stroke juga dapat menyerang mereka yang berusia muda dan sehat.

Stroke menyebabkan otak mengalami kekurangan oksigen ketika aliran darah terhenti, baik karena penyumbatan (stroke ischaemic) maupun akibat ledakan pembuluh darah di otak (stroke haemmorrhagic). Sekitar 80 persen stroke disebabkan oleh penyumbatan darah, tetapi stroke jenis apa yang menimpa Andrew Marr sejauh ini belum diketahui.

Namun, jika melihat kasus yang menimpa di bawah usia 65, stroke haemorrhagic menjadi lebih umum. Stroke tipe ini dapat diakibatkan kelainan dalam pembuluh darah yang sudah ada sejak lahir. Bom waktu di otak ini dapat meledak setiap saat.

Salah satu contoh adalah kelainan bentuk pembuluh arteri (arteriovenous malformation/AVM), di mana arteri terhubung langsung ke pembuluh darah vena yang berarti tekanan di dalam pembuluh darah terlalu besar untuk diatasi oleh tubuh. Akibatnya, otak akan mengalami pendarahan.

Pada mereka yang masih berusia muda, kenaikan tekanan darah yang terlewat tinggi juga merupakan salah satu faktor dari stroke, terutama pada mereka yang menderita hipertensi. Bahkan, kondisi stres yang memicu melonjaknya tensi juga dapat memicu stroke. Selain itu, ada pula beragam bukti mengenai dampak konsumsi kopi dalam jumlah terlalu banyak.

Detak jantung yang tidak teratur atau atrial fibrillation juga mengakibatkan stroke ischaemic. Sebagian jantung berdetak begitu cepat sehingga organ ini berhenti bekerja sebagai pompa. Darah berkumpul di dalam jantung, yang dapat tersumbat, mengalir ke otak, dan menyebabkan stroke.

Satu faktor lain yang tidak dapat dihindari adalah keturunan. Ada orang yang peluangnya terserang stroke lebih besar dibanding yang lain dan hal itu biasanya diturunkan dalam satu keluarga.

Dr. Clare Walton dari Asosiasi Stroke Inggris mengatakan bahwa anggapan stroke hanya menyerang usia tua adalah keliru. “Saya akan mengatakan bahwa ada salah kaprah bahwa ini hanyalah kondisi orang tua. Seperempat kasus stroke terjadi pada orang usia kerja dan anak-anak serta bayi juga mengalami stroke. Kita harus paham bahwa semua orang memiliki risiko terserang stroke dan bukan hanya di usia tua,” ujarnya.

Pada akhirnya, semua bergantung pada sikap dan pilihan kita. Diet sehat, olahraga teratur, minum alkohol secukupnya saja, dan tidak merokok dapat mengurangi risiko terkena stroke.

Walau begitu, beberapa orang dengan gaya hidup paling sehat pun tetap bisa terkena stroke, sementara mereka dengan gaya hidup sebaliknya bisa saja tidak terserang stroke.

 

 

 

 

 

Komentar