Apakah Mimpi “Buruk” Itu Bisa Dikendalikan

Penulis:: Darmansyah

Rabu, 1 November 2017 | 09:36 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda ingin  mengendalikan mimpi?

Bila bisa tentu akan menyenangkan

Kita tak perlu lagi takut mendapatkan mimpi buruk.

Tapi, apakah hal tersebut dapat dilakukan?

Sebuah penelitian dari University of Adelaide’s School of Psychology, Australia mencoba menjawab hal tersebut.

Lucid dream, adalah keadaan di mana Anda secara aktif menyadari sedang bermimpi. Hal ini memungkinkan Anda untuk mengendalikan setiap aspek mimpi yang didapat.

Pada dasarnya, lucid dream ini kebalikan dari mimpi buruk karena Anda dapat membuatnya menjadi sebuah mimpi yang menyenangkan.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Denholm Aspy ini mencoba menjawab teknik apa yang paling manjur untuk memunculkan lucid dream.

Dengan berbagai mertode yang telah terbukti meningkatkan kemungkinan mendapatkan lucid dream, Dr. Aspy menemukan bahwa teknik yang disebut MILD  atau mnemonic induction of lucid dream adalah cara paling efektif.

Dikutip dari New York Post,  teknik ini mengharuskan Anda terbangun setelah tidur selama lima jam dan tetap terjaga dalam waktu singkat sambil mengulangi kalimat “lain kali saat bermimpi, saya akan ingat bahwa sedang bermimpi”.

Selain itu juga dibarengi dengan membayangkan pengalaman lucid dream.

Dalam penelitian tersebut, mereka yang menggunakan metode ini ketika kembali tidur dalam lima menit cenderung mendapatkan lucid dream.

Angka keberhasilannya mencapai empat puluh enam persen.

“Teknik MILD bekerja pada apa yang kita sebut ‘memori prospektif’, yaitu kemampuan Anda mengingat untuk melakukan sesuatu di masa depan,” jelas Dr. Aspy.

“Dengan mengulangi kalimat tadi, itu membentuk sebuah niat di dalam pikiran Anda bahwa Anda, pada kenyataannya, ingat bahwa sedang bermimpi, menuju lucid dream,” lanjutnya.

Bagian terbaik dalam penelitian ini adalah bahwa belum ditemukan dampak negatif dari lucid dream.

Para peneliti melaporkan orang dengan lucid dream masih memiliki kualitas tidur yang sama dengan orang yang bermimpi tidak jelas.

“Yang penting, mereka yang dilaporkan sukses menggunakan teknik MILD secara signifikan tidak mengalami kurang tidur keesokan harinya, hal ini menunjukkan bahwa lucid dream tidak memiliki efek negatif pada kualitas tidur kata Dr. Aspy.

Ia juga berharap dapat menyempurnakan metode ini dan membuat mimpi buruk sebagai masa lalu.

Selain itu mimpi juga bisa menyandera pikiran  Anda  yang terjafa.

Fenomena ini disebut kelumpuhan tidur atau sleep paralysis.

“Sekitar empat puluh persen populasi pernah mengalami setidaknya satu episode kelumpuhan tidur,” kata Clete Kushida, MD, PhD, direktur medis dari Stanford Sleep Medicine Center Redwood City, California.

Berikut informasi lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika Anda bangun dan tidak bisa bergerak.

Kelumpuhan tidur terjadi ketika Anda berada dalam batas antara tidur dan bangun, kata Dr Kushida.

Para peneliti tidak mengerti mengapa seseorang bisa terjadi kehilangan kontrol terhadap ototnya.

“Ada dugaan penyebabnya adalah peralihan dari fase rapid eye movement (REM) saat seseorang tidur dengan sangat dalam, ke fase sadar,” kata Neil Kline, DO, seorang dokter ahli gangguan tidur di Lancaster, Pennsylvania dan perwakilan dari American Sleep Association.

“Selama fase tidur REM, pada dasarnya otot kita lumpuh. Sleep paralysis diyakini sebagai warisan evolusi untuk mencegah kita menyakiti diri sendiri saat kita bermimpi.”

Bermimpi buruk saat tidur saja sudah menakutkan. Bayangkan jika mimpi itu datang saat mata Anda terbuka.

Mimpi tapi ‘bangun’ atau halusinasi ini terjadi pada hampir tiga perempat orang dengan kelumpuhan tidur, menurut Dr Kushida.

“Halusinasinya bisa apa saja, mulai dari merasakan ada sesuatu yang merayap di kulit, mendengar sesuatu, melihat sesuatu, atau merasa seperti ada seseorang di dalam ruang kamar, atau diri Anda seperti melayang,” kata Dr. Kushida.

Untungnya, biasanya sleep paralysis berlalu dalam hitungan detik atau menit, ujar Dr. Kushida lagi. Namun, bagi yang mengalaminya, itu terasa seperti selamanya.

“Tidak ada pengaruh jenis kelamin dalam kasus sleep paralysis,” kata Dr Kushida. Umumnya, sleep paralysis dimulai pada usia remaja dan dewasa muda (20-an dan 30-an tahun) dan terus di kemudian hari, katanya. “Sleep paralysis juga dipengaruhi faktor keturunan,” tambahnya.

Kelumpuhan tidur lebih sering terjadi pada orang yang kurang tidur. “Saran terbaik adalah memastikan Anda tidur cukup” kata Dr Kline.

“Rata-rata orang dewasa membutuhkan tujuh setengah sampai delapan jam tidur setiap malam,” katanya.

Cobalah untuk menghindari stres sebanyak mungkin atau mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan stres. Hal itu akan dapat membantu mengurangi frekuensi kelumpuhan tidur, jelas Dr. Kushida.

Kelumpuhan tidur adalah gejala narkolepsi, gangguan tidur parah, yang menyebabkan kantuk berlebihan di siang hari, kata Dr. Kline.

Sleep paralysis juga dapat menjadi tanda bahwa Anda memiliki sleep apnea atau gangguan gerakan tungkai periodik, suatu kondisi di mana kaki Anda sering kedutan saat tidur.

Jika Anda mengalami kelumpuhan tidur lebih dari beberapa kali dalam setahun dan itu memengaruhi kualitas hidup Anda, sebaiknya berkonsultasi ke dokter spesialis gangguan tidur.

Dokter akan membantu Anda mengatur jadwal tidur, serta memberi solusi atas keluhan tidur lainnya yang Anda alami.

“Dengan membereskan sumber masalahnya, tingkat keparahan kelumpuhan tidur akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali,” kata Dr Kushida.

Komentar