Apa Yang Salah dari Kebiasaan Melamun

Penulis:: Darmansyah

Senin, 16 Oktober 2017 | 10:00 WIB

Dibaca: 0 kali

Untuk mendapatkan tubuh yang sehat, pakar kesehatan menyarankan kita untuk menjaga gaya hidup yang sehat seperti menjaga pola makan, tidur dengan waktu yang cukup, rutin berolahraga, menghindari asap rokok, dan lain sebagainya.

Tak hanya tentang kesehatan fisik, pakar kesehatan juga menyarankan kita untuk menjaga kesehatan psikis kita.

Sayangnya, gaya hidup manusia modern cenderung membuat kita mudah terkena stress yang memicu datangnya rasa tidak bahagia.

Dilansir doktersehat.com, salah satu tanda psikis kita sedang tidak sehat, terkena stress, dan tidak bahagia ternyata adalah kebiasaan kerap melamun atau berkhayal.

Banyak orang yang melakukannya sembari naik kendaraan umum, saat bekerja, di kamar mandi, dan di berbagai waktu lainnya.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard University dengan memakai aplikasi ponsel, disebutkan bahwa mereka yang lebih bahagia cenderung memiliki kesadaran lebih baik dan terus terlibat pada apa yang sedang Ia lakukan.

Dalam penelitian ini, ditemukan pula fakta bahwa berkhayal tentang sesuatu hal meskipun yang dikhayalkan adalah hal-ha yang netral, ternyata mampu merusak suasana hati dan membuat rasa kurang bahagia.

Pakar kesehatan menyebutkan bahwa dengan berkhayal, maka pikiran kita cenderung dikuasai oleh hal-hal yang negatif seperti penyesalan, rasa khawatir, dan berbagai pikiran yang tidak menyenangkan lainnya.

Memang, sembilan puluh enam persen orang dewasa terkadang masih suka melamun atau memikirkan banyak hal, namun, ada baiknya kita tidak sering-sering melakukannya karena bisa menyebabkan kecanduan dan justru membuat kita semakin tidak bahagia.

Sementara itu dalam penelitian Somer, seorang ahli kejiwaan,  menemukan responden yang menggunakan lamunan sebagai cara untuk menghindar dari situasi yang sulit.

Melamun menjadi “jalan keluar” saat responden berada dalam situasi yang kurang menyenangkan. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memastikan teori ini.

Bagi penderita melamun sebenarnya kondisi ini dapat menyebabkan mereka tidak produktif karena mereka cenderung menghabiskan waktu saat membangun mimpi dalam lamunannya, dan sebelum sadar waktu seharian sudah terlewati.

Sejauh ini belum ada penelitian apakah kondisi ini berhubungan dengan ketidakseimbangan mental.

Tapi, teori menghubungkan melamun dengan dissociative personality disorder, yakni kondisi seseorang tidak beriringan dengan sekelilingnya secara fisik maupun emosi.

Lain lagi dengan argument Susan Whitfield-Gabrieli dan John Gabrieli dari Massachusetts Institute of Technology

Mereka mengemukakan argumen mereka dalam Scientific American bahwa ada kaitan antara kebiasaan melamun dengan skor IQ seseorang.

Menelaah mengenai inteligensi memang tidak pernah mendatangkan satu tafsiran saja.

Namun, studi yang dilakukan kedua orang ini memberi masukan menarik bahwa kegiatan yang selama ini dianggap tidak produktif pun ternyata menyimpan potensi positif bagi seseorang.

Susan dan John Gabrieli mengutip sejumlah penelitian yang memeriksa bagaimana pengaruh kondisi otak seseorang saat diistirahatkan atau sedang melamun terhadap skor IQ seseorang.

Dari hasil studi yang ada, ditemukan bahwa kebiasaan melamun atau mengistirahatkan otak membuat kecenderungan skor IQ seseorang lebih tinggi.

Susan dan John lantas berasumsi bahwa kemampuan seseorang dalam mengaitkan ide-ide kreatif berelasi dengan kebiasaannya melamun tersebut.

Keuntungan dari kegiatan melamun lainnya dipaparkan oleh Hal McDonald Ph.D. dalam situs Psychology Today.

Di sana, ia mencantumkan hasil studi dari York University yang menemukan bahwa kebiasaan melamun para responden berkaitan dengan meningkatnya kemampuan menentukan tujuan hidup secara konkret dan spesifik.

Pemikiran spontan yang berasosiasi dengan aktivitas melamun memicu pemikiran-pemikiran seputar masa depan yang membantu seseorang mengklarifikasi apa yang benar-benar ingin diraihnya kelak.

Ketika seseorang memikirkan tentang tujuan-tujuan dalam hidup yang ingin dicapainya, secara bersamaan ia juga sedang melatih kewaspadaan diri dan mengenali pribadinya dengan lebih baik lag

Saat melamun, seseorang dapat mengakses aneka memori, emosi, dan pengetahuan yang tersimpan di dalam pikirannya, demikian pendapat Amy Fries, penulis Daydreams at Work: Wake Up Your Creative Powers sebagaimana dilansir BBC.

“Melamun adalah cara kita mengakses gambaran besar dalam pikiran kita. Saat melakukannya, Anda bisa memvisualisasikan atau menyimulasikan sejumlah kejadian dalam kepala,” ujar Fries.

Visualisasi ini bisa membantu orang mendapatkan perspektif anyar dalam memecahkan masalah atau menghubungkan berbagai pemikiran yang melahirkan ide orisinal.

Kegiatan melamun sering kali dilakukan saat seseorang merasa bosan. Terkait dengan hal ini, David Burkus justru melihat adanya potensi positif dari kebosanan dan kegiatan melamun.

Dalam Harvard Business Review  ia berargumen, semakin bosan seseorang, semakin tinggi kemungkinannya untuk melamun dan semakin tinggi pula potensinya menjadi kreatif.

Bagaimana bisa? Burkus menyatakan, saat melamun atau mengistirahatkan otak dari perhatian terhadap hal yang dianggap membosankan, pikiran seseorang akan mencari ‘mainan’.

Bayangkan seorang anak kecil yang tengah berada dalam perjalanan panjang di mobil bersama orangtuanya.

Sejumlah aksi akan dilakukannya untuk mengentaskan kebosanan di perjalanan tersebut, bukan?

Aksi-aksi yang dilakukan untuk mengentaskan kebosanan ini—termasuk ketika orang dewasa melamun—itulah yang bisa memicu lahirnya ide-ide kreatif.

Membiarkan pikiran berkelana juga mampu menajamkan kemampuan mengingat seseorang. Salah satu hal yang lumrah dilakukan seseorang saat melamun adalah menciptakan macam-macam imajinasi di kepala.

Imajinasi ini dapat melatih seseorang mengumpulkan informasi-informasi spesifik yang pernah didapatkannya atau dengan kata lain, merehabilitasi memori seseorang seperti tertulis dalam situs Huffingtonpost

Melihat bermacam-macam hal baik yang bisa ditimbulkan dari melamun seperti yang telah dipaparkan, seseorang tak perlu merasa bersalah lagi jika kedapatan pikirannya sedang berkelana dengan melamun.

Komentar