Ancaman Kematian Dini Bagi Pekerja Malam

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 20 Februari 2015 | 10:32 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda pekerja shift malam? Atau tukang begadang?

Kalau kedu-duanya iya, ada kabar yang tidak menyenangkan dari hasil penelitian yang dipublikasikan dalam “American Journal of Preventive Medicin”,

Menurut jurnal ilmiah itu pekerja yang memiliki jam kerja tak biasa, atau shift malam, berisiko lebih tinggi mengalami kematian dini.

Penyebabnya, menurut hasil penelitian itu, karena terbaliknya waktu tidur dan istirahat yang menjadikan tubuh serta otak Anda melewati jadwal rehat.

Lebih dari itu, tidur merupakan sebuah fungsi biologis penting untuk mengembalikan dan mengisi ulang sistem tubuh yang penting.

Memang beberapa jenis pekerjaan mengharuskan orang bekerja di malam hari.

Misalnya pekerja rumah sakit, satpam, polisi dan lainnya.

Namun pergi bekerja selagi orang-orang lainnya tertidur lelap ternyata bisa membahayakan kesehatan dan meningkatkan risiko kanker serta penyakit jantung.

Studi yang dipimpin oleh Eva Schernhammer, seorang ahli epidemiologi di Brigham mempelajari perawat perempuan yang terdaftar dalam Nurses Health Study sejak dua puluh sembilan tahun lalu.

Dikutip dari “ Time,” perawat adalah kelompok yang ideal untuk memelajari hal ini karena memiliki shift malam yang berputar.

Setelah menjalani penelitian yang lama, ilmuwan yang terlibat dalam studi ini menemukan bahwa perempuan yang bekerja pada shift malam bergantian ternyata sebelas persen lebih mungkin meninggal lebih cepat dibanding yang bekerja normal.

Bahkan orang yang bekerja dengan shift malam selama lima belas tahun lebih ini memiliki risiko tiga puluh delapan persen lebih tinggi untuk meninggal lebih cepat karena serangan jantung, dibanding dengan yang bekerja siang hari.

Selain itu, kerja shift malam juga dikaitkan dengan risiko dua puluh lima persen lebih berisiko meninggal karena serangan kanker paru-paru dan tiga puluh tiga persen kanker usus besar.

Schernhammer mengatakan, peningkatan risiko kanker paru-paru ini dikaitkan dengan kebiasaan merokok yang lebih tinggi di malam hari.

Orang yang memiliki jatah shift malam yang panjang juga diduga akan terserang tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Penelitian menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena perubahan ritme alami tubuh dan memaksanya untuk aktif di malam hari dan tidur di siang hari. Hal inilah yang membahayakan. Apalagi jika pergeseran ritme ini tidak konsisten.

“Ini semacam terbang ke London dan New York setiap hari selama tiga hari, Anda mengalami jet lag konstan,” katanya.

“Namun kondisinya berbeda jika terbang dari London ke New York dan tinggal di New York maka jet lag akan mereda setelah beberapa hari. Dan itulah yang kita asumsikan terjadi pada pekerja malam permanen.”

Mengapa tubuh bereaksi ketika siklus tidur berubah? Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tidur terlalu sedikit atau tidur yang terganggu akan mengubah tingkat melatonin sehingga tubuh jadi lemas dan berada dalam mode restoratif. Tubuh kehilangan waktu penting untuk perbaikan sel dan jaringan.

Tanpa waktu istirahat, proses penting seperti metabolisme gula, lemak dan kekebalan tubuh akan terganggu keseimbangan. Ini akan menciptakan lahan subur bagi penyakit jantung atau kanker.

Sayangnya, cukup sulit untuk menghindari jaadwal shift malam ini. Hanya saja sampai saat ini penelitian Schernhammer belum menemukan jalan keluar untuk masalah tersebut.

Sementara itu direktur medis dari laboratorium tidur Universitas Kentucky, Barbara Phillips mengatakan, hal ini membuat kualitas tidur Anda menjadi buruk. Kondisi ini menyebabkan sekresi sejumlah hormon dalam tubuh.

“Pekerja shift malam secara konsisten mengalami kurang tidur satu hingga tiga jam dalam waktu dua puluh empat jam dibanding pekerja non-shift. Tidur mereka mungkin lebih terfragmentasi dan kualitasnya rendah,” kata Phillips.

Phillips menjelaskan, pekerja di malam hari atau kurang tidur akan menimbulkan risiko berbagai masalah kesehatan.

“Pekerja shift malam memiliki peningkatan risiko obesitas, kanker prostat untuk pria, kanker payudara pada wanita, bisul, komplikasi kehamilan, diabetes dan penyakit jantung,” kata dia.

Sebuah studi 2012 yang diterbitkan jurnal Occupational and Environmental Medicine pun menunjukkan, bekerja malam hari dapat meningkatkan risiko kanker sebesar empat puluh persen pada wanita.

Terkait risiko diabetes, sebuah studi tahun 2013 yang juga diterbitkan jurnal Occupational and Environmental Medicine menemukan bahwa kerja malam hari dapat meningkatkan risiko diabetes sebesar 9 persen. Risiko ini utamanya disebabkan pola makan yang buruk dan perubahan metabolisme tubuh karena berkerja pada malam hari.

Phillips mengatakan, tidur malam dapat mengurangi produksi hormon melatonin atau hormon tidur. Padahal, hormon ini dinilai dapat mencegah kanker.

Sementara itu, asisten profesor psikologi dan ilmu perilaku University Argosy di Arlington, Virginia, Stephanie Dailey mengatakan, kerja pada malam hari tak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga mental dan emosional seseorang. Menurut dia, seseorang yang bekerja pada malam hari lebih mudah merasa gelisah dan kemampuan kognitifnya menurun.

“Anda mengalami penurunan kemampuan untuk memperhatikan, ini menjadi masalah untuk banyak pekerjaan yangmembutuhkan presisi. Kemampuan kognitif pun menurun sehingga menghambat pekerjaan Anda,” kata Dailey.

Dailey mengatakan, mereka yang bekerja shift malam juga diketahui memiliki tingkat stres lebih tinggi. Mereka mudah cemas dan depresi.

Untuk membuat kualitas tidur yang baik, Dailey menyarankan seseorang untuk tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya. Hindari bekerja shift malam dalam kurun waktu yang cukup lama.

Komentar