Akibat Jerawat Orang Bisa Bunuh Diri

Penulis:: Darmansyah

Selasa, 26 April 2016 | 15:03 WIB

Dibaca: 0 kali

Bekas jerawat bisa mengakibatkan seseorang bunuh diri?

Ya. Kenapa tidak,  ungkap sebuah survei dari  British Skin Foundation.

Lembaga survei itu menemukan dua puluh  persen orang dengan bekas jerawat yang menghitam pernah berniat untuk bunuh diri karena totol-totol hitam bekas jerawat.

Seperti ditulis oleh Independent, dan dikutip “nuga” Selasa, 26 April 2016,  dalam jumlah persentase yang sama, orang dengan bekas jerawat memiliki riwayat hubungan yang tragis.

Bagaimana tidak, mereka putus hubungan pacaran dengan kekasihnya hanya karena luka bekas jerawat.

Dan yang lebih mengejutkan, enam puluh persen pemilik luka bekas jerawat mengalami kekerasan verbal karena kondisi mereka.

“Setiap tahun ada kasus bunuh diri yang terjadi kepada orang dengan masalah jerawat,” kata James Partridge, ketua dari lembaga amal Changing Faces ketika diwawancara oleh sebuah media Inggris.

“Melukai diri sendiri menjadi sangat umum,” katanya.

Ia berpendapat bahwa perlu ada tindakan secara nasional membantu orang yang bermasalah dengan jerawat dalam menghadapi tekanan psikososial dari masyarakat.

Menurut dokter kulit Anjali Mahto masalah ini punya pengaruh lebih besar pada remaja.

Pasalnya, remaja dianggap masih memiliki kondisi kejiwaan yang rentan dan hormon yang fluktuatif.

“Saya sering melihat pasien yang menolak melakukan kontak mata, mereka menumbuhkan rambut untuk menutup muka mereka. Bahkan mereka menolak untuk pergi keluar rumah, entah ke sekolah atau bekerja,” kata Mahto.

Bahkan menurut Mahto, bila seseorang tumbuh dewasa dengan pola pikir sebagai remaja jerawatan, maka dampak psikologis akan tetap ada hingga bertahun-tahun.

Pihak British Skin Foundation menyatakan bahwa banyak orang dengan bekas jerawat tidak menyadari pentingnya mengobati bekas baik secara fisik ataupun secara psikologis, bahkan tidak sadar betapa buruk dampak yang akan timbul dari bekas luka yang menghitam tersebut.

Jerawat memang membuat orang tidak percaya diri.

Yang parahnya lagi  efek jerawat juga bisa jadi berbahaya.

Sebuah penelitian lainnya oleh sebuah tim  Swedia di Karolinska Institute menyatakan, meningkatnya risiko bunuh adalah akibat depresi yang dirasakan oleh partisipan

“Jerawat yang parah bukan hal yang enteng. Hal ini bisa saja berkaitan dengan meningkatnya risiko bunuh diri,” ungkap Anders Sundstrom, seperti dilansir oleh NBC News .

Para ahli menemukan bahwa risiko bunuh diri meningkat sejak satu sampai tiga tahun setelah perawatan jerawat.

Biasanya pasien membutuhkan perawatan berkali-kali dan harus kembali ke klinik untuk mendapatkan terapi.

Meski begitu, Sundstrom menjelaskan bahwa kemungkinan seseorang bunuh diri karena masalah jerawat cukup langka.

Sundstrom juga berpendapat, selama pasien dalam keadaan psikologis yang baik dan memiliki orang yang bisa memonitornya, maka risiko bunuh diri bisa dihindari.

Kasus seorang siswi cerdas di Inggris yang  bunuh diri dengan menggantung diri karena depresi akibat jerawat yang sangat parah bisa jadi contoh nyata.

Hal ini terkuak dalam sebuah penyelidikan resmi (inquest) yang diumumkan Senin (27/2/2012) waktu setempat.

Sang siswi, Melissa Martin-Hughes, bunuh diri di sebuah taman di Gloucestershire

Pelajar di Pate Grammar School ini. Sebanrnya,  dikenal sebagai siswi cerdas.

Dia tengah menempuh studi persiapan memasuki perguruan tinggi. Namun hidup Melissa mulai memburuk karena sejak usia empat belas tahun wajah dan tubuh bagian atasnya mengidap jerawat parah.

Untuk mengobati jerawatnya yang parah, Melissa diberikan obat kontroversial Roaccutane dan kemudian memakai pil kontrasepsi untuk mengurangi parahnya kondisi kulit. Kedua obat ini diketahui dapat memicu depresi.

Sejak itu, Melissa mulai menyakiti diri sendiri. Sebelum benar-benar menggantung diri, Melissa pernah  mencoba bunuh diri di Beachy Head, Sussex. Namun selamat setelah polisi menemukannya tengah menangis.

Usai kejadian ini, orangtua Melissa merawat anaknya di pusat perawatan kesehatan mental. Namun berdasarkan penyelidikan resmi, pusat layanan gagal mengasuh mental Melissa.

Tubuh Melissa ditemukan gantung diri delapan bulan setelah memulai perawatan mentalnya.

Dalam pernyataan yang dibacakan dalam penyelidikan, Kepala Sekolah Pate Grammar School Shaun Fenton memberikan penghormatan kepada pelajar yang bisa belajar bahasa Spanyol, Perancis, dan Kimia ini.

“Dia dewasa, dapat diandalkan, bertanggung jawab, cerdas, luar biasa dan sederhana,” ujar Fenton.

Komentar