Aceh, Ramadhan dan Sambai Oen Peugaga

Penulis:: Darmansyah

Jumat, 2 Juni 2017 | 09:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Ramadhan dan keunikan tak pernah lepas dari tradisi masyarakat, terutama menyangkut makanan

Selain memiliki  tradisi meugang dua atau sehari menjelang Ramadhan,  masyarakat Aceh juga memiliki berbagai kuliner khas yang hanya biasa dinikmati setiap berbuka puasa .

Sebut saja salah satunya, “sambai oen peugaga”

Untuk Anda tahu, makanan khas tradisi Aceh itu merupakan racikan lalapan yang terdiri dari empat puluh empat  dedaunan.

Dam urueng Aceh pun  menyebutnya  dengan “Sambai Oen Peugaga.”

Sambai Oen Peugaga, yang berarti sambal daun pegaga, merupakan sajian kuliner khas Aceh dari  warisan nenek moyang mereka

Meski berlabel ‘sambal’, atau sambal,  sajian oen peugaga pada dasarnya lebih menyerupai penganan urap.

Daun pegagan merupakan bahan baku utama yang mendasari sajian makanan.

Sementara sisanya adalah daun-daun campuran dari tanaman kebun yang diaduk dalam irisan tipis menyerupai benang-benang halus.

Sambai Oen Peugaga kini sangat jarang dijumpai di Aceh karena untuk mencari bahannya sulit.

Sebut saja salah satu pedagang yang aktif berjualan  oen peugaga kala Ramadan adalah Julina

Wanita ini bersama kakaknya, ia  membuka lapak di salah satu ruas jalan tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Julina mengatakan, Sambai Oen Peugaga digemari masyarakat Aceh bukan hanya karena rasanya yang unik dan khas, melainkan juga karena penganan tradisional itu memiliki segudang khasiat bagi kesehatan.

Menurut Julina, khasiat dari pegagan dan daun-daun campuran yang ada di dalamnya sudah terbukti ampuh mengatasi berbagai macam penyakit, seperti darah manis, kolesterol, dan masuk angin.

“Zaman dulu di sini mana ada istilah-istilah penyakit macam itu, karena memang masyarakat biasa santap daun peugaga. Pembeli kami juga kebanyakan orang tua yang sudah jadi pelanggan setia,” kata Julina.

Selain pegagan, kata Julina, daun-daun yang diracik dalam resep Sambai Oen Peugaga antara lain daun tapak lembar, kemangi, daun jambu, daun mangga, daun ubi-ubian, dan beberapa kelopak bunga seperti bunga kana merah.

“Dulu itu memang spesifik ada empat puluh empat daun. Sekarang beberapa di antaranya sudah susah kami dapatkan. Sekarang mungkin cuma ada sekitar empat puluh daun saja,” kata dia.

Cara mengolah Sambai Oen Peugaga boleh dibilang gampang-gampang susah.

Hal pertama yang dilakukan, kata Julina, ada mencincang dan mengiris halus daun-daun yang telah dikumpulkan.

Setelah dicacah dalam bentuk irisan tipis, daun-daun itu kemudian diuap sekitar lima menit. “Jika waktunya tidak pas, nanti bisa keluar bau tak sedap,” kata Julina.

Usai diuap, daun-daun itu diremas hingga keluar cairan dan kemudian ditiriskan.

Setelah agak kering, irisan daun-daun itu diaduk dengan bumbu yang telah disiapkan seperti oseng kelapa parut, cabai rawit, dan resep bumbu rempah sebagai penambah gurih.

Setelah olahan tercampur rata, Sambai Oen Peugaga pun siap disajikan. Untuk mempercantik hidangan, sajian lalapan urap kering itu ditaburi dengan irisan daun jeruk nipis, potongan cabai merah, serai, dan bunga daun pepaya.

Sambai Oen Peugaga itu biasa dijadikan sebagai teman santap nasi untuk memperkaya rasa gurih dan pedas layaknya urap kering.

Racikan dedaunan itu sedikit sepat dan sarat akan serat ketika dikunyah di dalam mulut.

Julina mengeluarkan modal besar untuk satu kali olahan yang dibagi menjadi dua lapak dagangan bersama kakaknya.

Dengan harga satu pincuk atau satu porsi sepuluh ribu rupiah dan  setiap harinya Julina mendapat untung hampir dua kali lipat dari modal yang dikeluarkan.

Julina berjualan sejak tujuh belas tahun silam

Dia meneruskan usaha dagangan yang dirintis ibunya

Hingga kini, lapak jualan Julina boleh dibilang menjadi primadona langganan masyarakat yang mencari menu berbuka khas tradisional.

“Ini cuma ada di Aceh dan sudah sangat jarang orang menjualnya,” kata Julina

Kehadiran menu tradisional tersebut menjadi keunikan tersendiri sekaligus memperkaya khazanah kuliner di Bumi Serambi Mekkah.

Minat warga untuk membeli santapan berbuka itu terbilang tinggi.

Jauh sebelum azan magrib berkumandang, gunungan daun yang tersaji di atas nampan besar tempat Julina berjualan itu sudah ludes dibeli warga.

Para pelancong yang bertandang ke Aceh kala Ramadan patut mencoba makanan unik yang sudah langka ini.

Bukan cuma berkhasiat jadi obat, peugaga ini juga diyakini bisa membangkitkan stamina dan daya ingat.

Komentar