Mengemas Wisata Aceh Tanpa Jargon Masa Lalu

Penulis: Darmansyah

Rabu, 17 Juli 2013 | 10:59 WIB

Dibaca: 3 kali

Wartawan Senior “nuga.co” Said Muchsin melihat prospek cerah pengembangan wisata Aceh. Ia mengingatkan potensi besar ini dari sisi destinasi, kuliner dan budaya. Ia juga minta agar kebijakan wisata Aceh tidak terjebak pada jargon kebesaran sejarah masa lalu. Dan inilah tulisannya dalam rubrik kolom.

USAI konflik bersenjata yang berdarah-darah dan memakan waktu yang panjang (1974-2005), kini Aceh memasuki era damai. Dalam iklim perdamaian tadi, Aceh mencari celah pembangunan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Salah satu peluang itu adalah pariwisata. Dari era Gubernur Ibrahim Hasan hingga gubernur sekarang, pariwisata Aceh tidak pernah digarap secara sungguh-sungguh. Kita dipermainkan oleh jargon-jargon wisata zaman dahulu kala, seperti kemegahan para Raja Aceh yang menyisakan kuburan para raja, panglima perang dan benteng-benteng yang nyaris tak terawat, hingga wisata spiritual yang tak menjanjikan pendapatan bagi kas daerah, selain menghambur-hamburkan anggaran untuk Dinas Pariwisata Provinsi.

Pada masa Aceh diterjang ganasnya tsunami di Minggu 26 Desember 2004, orang asing banyak sekali berdatangan ke Aceh. Berbagai lembaga resque kelas dunia turun tantgan ke Aceh. Ronaldo si pemain bola Real Madrid dari Spanyol, hingga berbagai kepala negara adidaya dan sekawasan ASEAN datang ke Aceh. Kini Aceh dikenal dunia. Momentum tsunami ini akhirnya berlalu begitu saja. Kawsan tsunami kini dibangunkan rumah sederhyana type 36 dan 45 m2. Momentum itu kini berlalu sudah. Beda dengan Jepang yang menggunakan momentum bom nuklir Amerika Serikat yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki, dijadikan kawasan wisata yang menarik minat umat manusia yang melancong ke Jepang.

Sekarang apa yang tersisa dari Aceh untuk dijadikan ikon wisata? Alam laut yang cantik bagaikaan tempat pemandian para bidadari dari kayangan seperti di Sabang, dan Lampu-uk di Aceh Besar. Atau Danau Laut Tawar di Aceh Tengah yang alamnya pun sangat memukau wisatawan. Atau hutan Gunung Leuser yang mempesona? Semua kawasan wisata alam itu perlu dimanaj lebih profesional, terutama infrastruktur dan watak manusianya yang tergolong keras untuk menjadi lebih bersahabat kepada tamu wisata.

Dinas Pariwisata Aceh harus punya target untuk mendatangkan satu juta wisatawan setahun ke Aceh, baik lokal maupun luar negeri dengan nilai perolehan devisa US$1 miliar. Tidak cukup mempromosikan produk wisata serta elemen dasar (citra, keramahan, dan keamanan) tapi juga destinasi. Semuanya perlu pembenahan yang padu-padan. Bila produk pariwisata punya nilai jual yang kuat, tapi tidak didukung elemen dasar yang kuat, kampanye wisata jadi tak menarik. Produk pariwisata harus dilihat sebagai suatu kesatuan yang utuh, total. Tak cukup pantai bagus tapi transportasi dan penginapan tak mendukung, apalah gunanya? Perilaku manusianya tukang palak. Mereka akan datang sekali lalu seumur hidup tak mau menginjakkan kakinya di Aceh.

Saya melihat ada dua produk wisata yang memungkinkan wisata Aceh memainkan peranan yang bagus, yaitu makanan khas Aceh dan seni tari. Saya katakan seni tari, tak semata Aceh tapi juga nasional! Aceh bisa jadi gerbang seni tari nasional, yang selama ini dimanfaatkan Malaysia dengan mengaku-ngaku sejumlah seni tari Indonesia sebagai khasanah bangsanya. Aceh bisa memotong tipudaya Malaysia tadi dengan membangun wisata tari dan kuliner.

Untuk makanan khas Aceh, saya terkenang pada masa kecil. Pada tahun 1950-an, serombongan turis asal Belanda yang mantan serdadu dan perwira KNIL dan Marsose, membuat acara khanduri laot atau kenduri alias pesta laut dengan menyembelih dua ekor sapi. Mereka mengundang putra Aceh yang jago masak. Ada hidangan sie reboh, gule Aceh, engkot paya (ikan gabus dan lele), sambai udeng boh limeng (sambal udang dengan belimbing wuluh bonyok) untuk memukul kolesterol. Pekasan dari durian asam, kuah pliek-u, engkot keumamah (ikan kayu), gulai daun paku serta aneka makanan khas Aceh dengan bumbu yang kuat dan ramai di lidah itu mendatangkan selera makan yang nauzubillah dahsyat. Mereka makan pakai tangan, bukan sendok. Air kelapa muda, cendol Aceh, rujak Aceh jadi pelengkap hidangan minuman. Saya ikut bersenang-senang di Ulele, menikmati santapan yang katanya pakai bakong Aceh alias biji ganja. He… he … Mereka tampak sangat puas dan tertawa riang gembira. Di mata Belanda, Aceh jadi lawan yang kuat dalam adu senjata, tapi jadi sahabat yang bagus dalam urusan makanan. Luar biasa, kawan!

Dari dua sisi, tarian dan kuliner khas Aceh, ini saya menyarankan pemda Aceh membangun dua institusi penting dalam aspek seni budaya.

Untuk seni tari, bangun dulu strategi wisata tari. Jadikan Aceh sebagai gerbang seni tari nasional. Jadi seluruh seni tari nasional bisa dipentaskan secara berkala di Banda Aceh, Sabang, Tapaktuan, Takengon, Lhokseumawe. Pertunjukan bisa di tempat terbuka maupun dalam gedung. Untuk dalam gedung, dibutuhkan dua gedung seni tari yang representatif. Gedung itu layak dari segi arsitektur dan layak pula dalam aspek suara (sound). Dan untuk efek sound (suara), dapat dikonsultasikan pada ahlinya yakni Ir. Zulfian MSc. Untuk bangunan arsitektur tari, sebaiknya dibangun dua gedung dengan bentuk interior yang berbeda (khusus untuk Banda Aceh).

Interior panggung gedung pertama berbentuk lingkaran (ring stage) bulat telur atau persdegi panjang. Penonton mengelilingi penari yang berada di tengah pertunjukan. Tempat duduk penonton dalam bentuk berjenjang tanpa sandaran tapi berupa bangku kayu yang panjang. Ini cocok untuk pertunjukan tari Seudati yang para penarinya bergerak melingkar. Gerakan tari Seudatai mengayun yang arusnya serba bebas dan arahnya tidak menuju ke titik-titik tertentu. Gerak pemain telah ditentukan secara ketat tempatnya dalam suatu kerangka bentuk. Tanpa kekukhusan yang terlalu berat.

Juga pada tari Minangkabau yang variannya berangkat dari desa ke nagari. Dasar sikap berdirinya mengambil sikap tindak pencaksilat. Gerakannya, dalam gerak cepat maupun lambat, menunjukkan ketajaman, ketepatan arah dalam kerangka bentuk-bentuk bergaris jelas. Pola ritmenya ditandai oleh kalimat-kalimat pendek dengan tekanan yang menghentak. Suasan tari yang menjiwainya adalah kewiraan, yang dialiri pergerakan gerak yang serba efektif, mengisyaratkan serangan dan tangkisan. Sangat elok di pandang dari sudut melingkar.

Untuk tari kecak dari Bali yang dramatis, kita bisa menikmati dramatisasi gerak, dari duduk, berdiri, dan suara desingan suara cak-cak cak yang gemuruh dalam ruangan. Duduk melingkar, lalu jari-jari tangan yang melambai menunjuk langit itu amat mempesona bila dilihat dari sudut lingkaran dan dari atas pada sisi pandangan mata burung. Sangat bagus dalam pandangan mata telanjang, fotografi, apalagi sinematografi.

Contoh lain tari Melayu, Serampang 12. Gerakannya kadang melingkar atau setengah lingkaran, dengan ayunan kaki dan gerak tangan, leher yang dinamik. Tari-tarian Melayu ditandai oleh langkah-langkah cekatan dan lincah, kaki mengayun indah di lantai dengan ringannya sehingga tubuh penari seakan meluncur di atasnya. Daya gerak ini ditunjang pula oleh musik yang mendayu genit namun penuh ketangkasan. Sikap tubuh para penari senantiasa tegap dan leher menyangga kepala dengan tampannya. Ini merupakan adopsi dari tari ronggeng di bumi Parahiyangan.

Itu sekedar beberapa contoh untuk lingkaran. Sedangkan untuk bangunan lain bentuknya seperti panggung pertunjukan bioskop (proscenium stage) berbentuk segi panjang dan penontonnya berada di satu sisi saja di depan stage. Ini cocok untuk tari Saman yang tampak dinamik saat dilihat secara frontal dari depan, bagaimana kepala-kepala para penari itu tidak tertukar dan berantuk saat bergeleng. Tari Serimpi, Tari Aceh Ranup Lampuan, dan lainnya layak dipandang dari sisi horizontal, dan sedikit meninggi dari tempat duduk penontonnya. Semua ini contoh-contoh kecil saja dalam kebijakan desain panggung.
Kuliner Aceh

Seni tari boleh datang dari berbagai provinsi di Nusantara, namun makanan khas yang disajikan kepada turis adalah kuliner Aceh yang amat spesifik itu.

Ketika pulang kampung pada 3 Juni 2013 lalu, saya kecewa mencicipi masakan Aceh. Makanan khas Aceh ini sudah dicemari berbagai bumbu penyedap vetsin seperti Ajinomoto, dan Sasa secara amat berlebihan. Ini demi menggapai citarasa lidah penyantap. Selain itu, juga sungguh menyedihkan, masakan khas Aceh dibumbui bahan pengawet yang berlebihan.

Buruk santapan piring dipecah, itulah ancaman kuliner Aceh. Celakanya, saya tidak lagi melihat sejumlah rumah makan yang populer di belakang Masjid Raya Baiturahman. Sejumlah rumah makan Aceh tutup dan gagal berkembang, lalu kempis tanpa sebab yang nyata. Saya duga pertama pada citarasa yang sudah menyimpang. Kedua pada sewa toko yang mahal, ketiga pada sisi pelayanan dan kebersihan.

Jadi untuk membangun rumah makan Aceh yang baru perlu dibangun karakter pedagang dan pelayannya. Ini jadi tugas Pemda Aceh dan asosiasi wisata Aceh seperti PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia). Anak-anak muda lepasan Sekolah Menengah Kejuruan bidang kuliner perlu dilibatkan sebagai wirausaha baru yang berwatak bersih, sehat, aman, dan ramah.

Saya usulkan di Krueng Aceh yang mengalir tenang pada waktu tertentu dapat dijadikan restoran perahu apung di depan Polda Aceh atau kawasan Kuta Alam dan Uleekareng. Ketika saya berdialog dengan Tuwanku Anwar, pemilik Hotel Lading, katanya Walikota Banda Aceh Mawardi Nurdin meminta bantuannya mencarikan investor. Pihak investor yang didekati menyatakan proyek itu tidak layak. Sungguh terla…lu.

Saya nilai ini suatu kekeliruan bila Pemda Banda Aceh tak mau menurunkan anggaran wisata kuliner dengan membangun restoran apung di Krueng Aceh. Paket ini hendaknya disinkronkan dengan Pemda Provinsi. Jangan minta investor turun tangan, tapi harus ada anggaran Pemda Banda Aceh untuk membangun basis restoran yang bersih, bermutu, jauh dari formalin dan bumbu-bumbu vetsin, bagus dalam pelayanan dan harganya terjangkau. Pemda Aceh pun bisa turun tangan untuk urusan kecil yang satu ini. Dana sekitar dua milyar sudah memadai untuk membangun restoran apung di Krueng Aceh.

Untuk langkah berikutnya adalah program promosi di jaring internet, televisi dalam dan luar negeri, surat kabar dalam dan luar negeri. Terutama untuk memancing turis-turis yang berdatangan di Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong dan Jepang. Turis Australia jangan terlalu diharap karena mereka condong ke BalI. Promosi berikutnya adalah turis Eropa yang berbasis di Belanda, Belgia, Inggris, Jerman, dan Portugal.

Nenek moyang mereka mengenal Aceh dalam hubungan dagang dan politik. Bintang pesepakbola Reald Madrid Ronaldo bisa dijadikan ikon Wisata Aceh untuk menjaring turis Eropa. Butuh dana besar memang tapi hasilnya kelak cukup menjanjikan bila infrastruktur, manajemen pengelolaan, karakter manusianya yang santun siap sedia. Dan tentu masih banyak langkah lain yang perlu dilakukan, terutama menyangkut perhotelan dan manajemen pariwisata.

Komentar