Jurnalisme Tidak Mati Bersama Assem

Penulis: Darmansyah

Kamis, 11 Juli 2013 | 11:27 WIB

Dibaca: 0 kali

Kekerasan kembali “membantai” jurnalisme bebas. Ahmed Samir Assem di”koyak” peluru di pelipisnya. Ia “berangkat” kehadirat-Nya sebagai seorang “pejuang” yang telah memenangkan “perang” usai menyelesaikan tugas jurnalistiknya, merekam pembunuhan kemanusiaan dan juga merekam kematiannya sendiri.

Assem, jurnalis muda yang bekerja “free lance” di sebuah harian terbitan Kairo, Al-Horia Wa Al-Adala, tak sempat menyaksikan karya jurnalistiknya tentang “dahsyat”nya nyalak senjata di subuh pagi Rabu, ketika “garda republik,” menghabisi pendukung Presiden Mesir terguling Mohamad Morsi de depan markas tentara yang dianggap paling elite, paling loyal dan paling bergelimang dengan dosa kejahatan kemanusiaan itu.

Kekerasan memang sering mengintai wartawan, betapa pun pembelaan publik global terhadap profesi ini. Kebebasan yang diletakkan pada semangat dan etika sebagai “pagar” untuk menghormati eksistensinya sering dijungkirbalikkan oleh “otorituanitas” yang mengatasnamakan kekuasaan.

“Kekuasaan” pula yang memulangkan Assem ketika hadir sebagai personal yang menempat kebebasan informasi sebagai puncak dari hak dasar manusia. Ia tidak diperkenankan oleh “kekuasaan” untuk membagikan informasi sebagai hak bersama. Ia harus dilenyapkan karena bisa membahayakan mitos kebenaran yang menjadi hak privilege kekuasaan.

Assem memang terjengkang bersama rekaman videonya oleh peluru seorang sniper. Tapi fotografer lepas harian Al-Horia Wa Al-Adala tersebut tidak akan pernah “hilang” dengan rekaman dua puluh menit peristiwa penembakan oleh tentara terhdap demonstran anti militer sebelum sebuah peluru mengakhiri hidupnya.

Kematian Assem bukanlah kematian jurnalistik. Assem boleh pergi, seperti ribuan jurnalis lainnya yang pernah diinjak oleh “kekuasaan. Tapi jurnalistik yang menempatkan informasi sebagai hak semua orang terus akan berlari secar estafet.

Kematian Assem memang tragis. Tragis untuk sebuah kebebasan. Dan ketika dalam video yang diunggah Youtube dan Facebook beridentitas Samir Assem, dan kini mendunia itu, jrnalis muda itu telah menyiramkan kenangannya pada lahan subur jurnalistik.

Dan di subuh itu, Assem merekam suasana “chaos” ketika tentara menembaki pendukung Morsi plus Ikhwanul Muslimin di depan markasnya ketika menunai shalat subuh. Assem berdiri disebuah gedung jangkung di sisi timur markas tentara itu. Ia menjalankan tugas jurnalistik dengan sempurna dengan mengambil gambar secara detil dari banyak sudut.

Malang baginya. Ia tertangkap oleh pandangan seorang “sniper” tentara dari arah barat. Laras senjata sang “sniper” bergeser di arahkan ke kepalanya. “Dorr..doorr,” dua peluru menghunjam lensa kameranya untuk kemudian bersarang dikepalanya dan Ahmed Samir Assem rebah. Tragis.

Ahmed Samir Assem martir bagi “Al-Horia Wa Al-Adala.” Ia juga “hero” bagi Mesir. Dan ia telah pergi untuk mewariskan dokumentasi pembantaian. Keji sekali. Terkutuk untuk pengkhianat kebebasan.

“Al-Horia Wa Al-Adala,” surat kabar terbitan Kairo itu menyapukan tinta hitam di “baner” atas “kop” beritanya dan menuliskan dengan pedih kalimat menyilukan seperti di atas. Kita bergidik. Seorang wartawan foto yang tak takut dengan laras bedil dan hantu kekerasan itu telah “pergi.”

Jarak antara sniper dan Assem cukup jauh. Ini terlihat dari gambar sang sniper yang diambil Assem yang tak fokus.

Samir Assem, 26 tahun, tampaknya tak menduga prajurit penembak jitu melihat aktivitasnya merekam penembakan demonstran. Setelah dua kali menembak dan menunduk, seperti tergambar dalam laman Youtube., tiba-tiba penembak jitu itu mengarahkan senapannya ke wajah Assem. Assem yang tertembak kepalanya pun tersungkur. Dalam sekejap kamera Assem mati.

Assem adalah lulusan Fakultas Komunikasi Universitas Kairo. Ia telah mengumpulkan sepuluh ribu foto dalam arsip pribadinya sejak menjadi fotografer tiga tahun lalu.

Ia bekerja untuk koran Al-Horia Wa Al-Adala, surat kabar resmi Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Al-Ikhwanul Al-Muslimin. Begitu Mursi terguling, Assem pun berada di garis depan peliputan. Pilihannya bergabung ke Al-Ikhwan telah membuatnya bertentangan dengan keluarganya yang menjadi pendukung pemimpin nasionalis Mesir, Gamal Abdal Nasser.

Komentar