Mike Tyson Pernah Lima Tahun Absen Seks

Penulis: Darmansyah

Senin, 20 November 2017 | 14:10 WIB

Dibaca: 0 kali

Ada cerita miris yang datang dari mantan petinju kelas berat dunia dari Amerika Serikat, Mike Tyson.

Cerita itu menyangkut pilihan karir tinjunya dan seks sebagai kebutuhan.

Dan ternyata Tyson menyingkirkan seks selama lima tahun  ketika masih aktif bertarung di atas ring.

Tidak hanya Tyson. Legenda tinju asal Amerika Serikat, Muhammad Ali, juga pernah menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks selama setahun selama masih aktif berkarier.

Ali mempercayai berhubungan intim dapat menurunkan performanya di atas ring tinju.

Ali merupakan idola Tyson. Namun, petinju yang dijuluki Si Leher Beton itu mengatakan dia tidak melakukan hubungan seks bukan karena mengikuti cara Ali.

“Saya tidak melakukan hubungan seks karena saya idiot. Saya begitu bodoh. Saya hanya mengikuti apa yang orang katakan kepada saya,” kata Tyson dalam wawancara dengan Graham Bensinger.

Orang-orang mengatakan, ‘Cara ini yang harus kamu lakukan, perempuan akan mengacaukan kemampuan tinjumu’,” ucap Tyson menambahkan dikutip dari Daily Star.

Lebih lanjut, Tyson mengaku sangat bodoh di awal kariernya. Bahkan mantan juara dunia kelas berat WBA, WBC, dan IBF itu mengatakan dia naik ring hanya untuk meningkatkan kepercayaan diri.

“Saya memasuki profesi ini sebagai seorang individu yang bodoh, mencari kejayaan karena kepercayaan diri saya sangat rendah. Bisa Anda percayai, bocah 12 tahun, mencari kejayaan karena merasa hidup saya tidak berguna,” ucap Tyson

Tyson memiliki rekor lima puluh delapan pertarungan, lima puluh menang di antaranya empat puluh empat  menang, enam kalah, dan dua no contest sepanjang kariernya.

Terakhir, Tyson kalah dari Kevin McBride pada 11 Juni dua belas tahun silam

Tyson sendiri  punya kenang buruk ketika masih kecil.

Si Leher Beton mengaku pernah dianiaya secara seksual oleh seorang pria tua saat masih kecil.

Pengakuan itu diungkapkan Tyson saat menjalani wawancara dengan Jeremy Schaap dalam program acara ESPN E:60. Awalnya Tyson keceplosan dan tidak mau membahas lebih jauh ketika Schaap berusaha menggali lebih dalam insiden mengerikan tersebut.

“Itu bukan urusan orang lain. Penganiayaan itu tidak mengubah saya sebagai pria. Insiden itu adalah sesuatu yang terjadi begitu saya, dan tidak punya pengaruh dalam kehidupan saya,” ujar Tyson seperti dikutip dari Toronto Sun.

Tyson kemudian mau membagi kisah mengerikan itu kepada Schaap. Mantan petinju yang belakangan lebih aktif di dunia hiburan itu mengaku seorang pria tua menganiayanya di sebuah gedung.

“Saya tidak suka membicarakannya, tapi suatu hari ada orangtua menarik saya dan membawa saya ke dalam gedung, saya dianiaya secara seksual. Insiden itu membuat saya harus lebih tangguh di dunia ini,” ujar Tyson.

Dalam wawancara tersebut Tyson juga sempat menangis setelah Schaap bertanya tentang Cus D’Amato, mantan pelatih dan manajer yang sangat berjasa dalam kariernya.

Adalah D’Amato yang merawat Tyson ketika ibunya meninggal saat sang mantan petinju itu masih 16 tahun. D’Amato kemudian melatih dan membesarkan Tyson, tapi tidak sempat melihat Tyson menjadi juara dunia.

“D’Amato menemukan saya. Saya masih kecil, dan dia bilang, ‘Kamu akan jadi juara dunia’. Setiap saya membicarakan dia saat wawancara, saya selalu menangis,” ucap Tyson.

Tyson kini sudah berubah.

Perubahaan itu terjadi kala ia memilih Islam sebagai agamanya.

Mike Tyson pernah ada di puncak dunia ketika ia jadi juara dunia tinju kelas berat dan menjadi atlet dengan bayaran termahal di dunia. Namun seperti roda yang berputar, kehidupan Tyson jatuh ke titik terendah saat ia harus mendekam di penjara lantaran kasus pemerkosaan terhadap Desiree Washington.

Tyson adalah ikon olahraga tinju sejak kemunculannya di pertengahan delapan puluhan. Kecepatan, tenaga, keganasan menjadi satu dalam balutan serangan beruntun Tyson.

Tyson adalah atlet dengan bayaran termahal di di akhir delapan puluhan. Ia bisa dengan mudah mendapatkan jutaan dolar AS dengan kepalan tangannya. Statusnya tak terkalahkan dan hal itu membuat Tyson benar-benar berada di puncak dunia.

Namun keruntuhan perlahan menghinggapi Tyson. Dimulai dari kekalahannya perdananya di tangan James Buster Douglas pada dua puluh tujuh tahun silam, Tyson mulai menjelma jadi sosok yang rapuh.

Tyson yang terbilang disiplin di awal karier, mulai kehilangan fokus di atas ring. Saat tengah kembali merintis nama besar pasca kekalahan perdana, Tyson malah berurusan dengan hukum akibat tudingan kasus perkosaan.

Tyson mendekam di penjara Plainfield Correctional Facility, Indiana. Jauh dari ingar-bingar dan gemerlap kehidupan yang selalu ada di sekelilingnya. Dalam kesunyian dan kegelapan itu, Tyson kemudian melihat cahaya yang menuntun hidupnya.

Perkenalan Tyson dengan Muhammad Siddeeq mengubah jalan hidup Tyson. Persahabatannya dengan Hakeem Olajuwon dan kekagumannya pada Muhammad Ali juga berperan besar di balik keputusannya.

Adalah Siddeeq yang memperkenalkan Tyson dengan Islam ketika masih dipenjara. Siddeeq merupakan ustaz yang memimpin acara keagamaan Islam setiap Sabtu di Plainfield Correctional Facility.

Di bawah bimbingan Siddeeq, Tyson kemudian memeluk Islam dan memiliki nama baru Malik Abdul Aziz. Namun, Tyson memilih untuk menggunakan nama lamanya dalam kehidupan sehari-hari.

“Itu keputusan Tyson. Dia tenar sebagai Tyson dan jatuh sebagai Tyson. Dia ingin kembali bangkit menggunakan nama Mike Tyson. Tapi, dia keluar penjara sebagai orang yang lebih kuat, lebih baik, dan bijak,” ujar Siddeeq dikutip dari Deseret News.

Nama Malik Abdul Aziz tak setenar perubahan nama Cassius Clay menjadi Muhammad Ali. Namun, masuknya Tyson ke Islam adalah salah satu berita besar yang ada di periode 90-an. Berita itu mengiringi kembalinya Tyson ke ring tinju. Tyson pun menggunakan kopiah putih saat keluar dari penjara.

“Saya sangat bersyukur bisa menjadi seorang muslim. Allah tak butuh saya, namun saya butuh Allah.”

“Insya Allah, Allah akan terus memberkati saya untuk ada di jalan yang lurus,” ujar Tyson dalam wawancara dengan FOX411.

Setelah memeluk Islam, Tyson berusaha keras untuk jadi muslim yang taat pada perintah agama. Tapi, Tyson menyadari bahwa ia masih memiliki banyak kekurangan

“Saya berusaha menjadi orang yang lebih baik. Saya seharusnya beribadah lebih banyak. Bila misalnya saya beribadah tiga hingga empat kali sehari, maka seharusnya bisa beribadah lima kali sehari,” tutur Tyson dalam sebuah wawancara dengan Ringside TV tidak lama setelah ia keluar dari penjara.

Setelah masuk Islam, Tyson sendiri masih terus berkutat dengan kontroversi. Ia menggigit kuping Evander Holyfield, menyerang seorang warga di Maryland, memukul seorang bodyguard dalam sesi konferensi pers lawan Lennox Lewis, hingga menyatakan bangkrut pada empat belas tahun lalu.

“Saya adalah sosok yang tak pernah bisa menjadi sosok rendah hati. Kata rendah hati tak ada dalam diri saya. Bila saya rendah hati, maka saya tak akan melontarkan kata ‘rendah hati’ untuk mendapatkan pengakuan,” tutur Tyson dalam wawancara dengan Fox411 news terkait perangai dan perilakunya.

Namun Tyson terus berusaha belajar menjadi muslim yang baik. Tyson bertekad untuk bisa menjadi muslim yang menjalankan seluruh perintah dalam agama Islam. Tyson pun berkesempatan pergi ke Tanah Suci pada tujuh tahun silam.

Selain salat dan naik haji, Tyson berusaha menjalankan ibadah puasa dengan baik. Tyson juga aktif membantu rekan-rekannya yang ingin mengenal Islam. Pada 2014, Tyson dikabarkan ikut membantu O.J Simpson, atlet american football (NFL) yang dipenjara, untuk mengenal islam lebih dekat.

Tyson pun selalu membela agamanya saat Islam terus mendapat tekanan karena lekat dengan aksi-aksi terorisme.

“Saya sangat terkejut. Semua memahami citra buruk yang ditempatkan kepada Islam. Banyak pengikut islam yang sangat saleh yang patut untuk dicintai dan dihormati.”

“Agama tidaklah buruk. Hanya oknum orang yang membuat suatu agama buruk,” ucap Tyson.

Tyson tahu dalam setiap tindakannya, seorang muslim akan selalu diawasi oleh Sang Pencipta.

“Orang bisa saling menilai, namun Allah tahu apa yang ada di dalam hati kita,” ujar Tyson.

Komentar