Makam Uje, Perseteruan Pipiek-Umi Tatum

Penulis: Darmansyah

Senin, 23 September 2013 | 11:55 WIB

Dibaca: 13 kali

Perseteruan antara istri almarhum Uje, Pipiek dengan sang ibu mertua, Umi Tatum, yang sebelumnya terpendam dari permukaan, kini mengembang menjadi panas di media setelah adanya perbedaan pendapat di antara kedua kubu mengenai pemugaran makam sang ustazd kondang.

Pipiek Indrawati, yang mewakili anak-anaknya sebagai ahli waris utama sang ustazd “gaul” menentang pemugaran makam sang suami , yang ia katakana, sangat wah, mewah dan tidak mencerminkan kesederhanaan pribadi almarhum. Bahkan Pipiek mengumbar wasiat almarhum yang menghendaki, kalau di meninggal, ingin agar makamnya dibuat dengan sangat sederhana.

Kini makam Uje sangat wah. Mirip makam wali-wali, berbalut keramik mewah, tinggi dan dibuatkan tendah pelindung. Makam itu, seperti yang “nuga.co” saksikan, terasing dari “kemiskinan” hamba Allah yang berada disekitarnya.

Kondisi makam Uje inilah yang membuat banyak orang miris dengan kesederhanaan sang ustazd ketika masih hidup. Uje adalah ustazd yang dicintai karena kesederhanaannya. Ia “merakyat” dan hadir sebagai pribadi seadanya di tengah jamaahnya.

Kini, setelah wafat, Uje seperti diasing. Di kematiannya ia menjadi simbol kemewahan di tengah kesederhanaan makam-makan yang lain. Inilah yang dikritik Pipiek sebagai sebuah ke-“wah”an.

Kritik Pipiek ini disambut dengan nada berang oleh keluarga Uje. Mereka ramai-ramai mengeroyok Pipiek yang menguraikan wasiat sang suami. Keluarga, seperti menjadi pemegang hak tunggal dari ketenaran Uje dengan mengadakan tausyiah di pemakaman dan meminta para peziarah membenarkan apa yang mereka perbuat.

Kakak almarhum Uje, Ustadz Aswan, menyerang Pipik dengan menuduhnya sebagai perusak. Malah Aswan kepada media, dengan suara lantang mengatakan, jika Pipiek bersikukuh ingin membongkar kembali makam bekas suaminya itu akan menyinggung sesepuh Uje yang berada di Banten.

“Jangan merasa di atas angin, makin ngomong, makin protes. Protes makam dengan bangunan. Kalau direnovasi lagi bisa tersinggung makam sesepuh Uje di Banten,” ucap Aswan saat ditemui di TPU Karet Tengsin.

Sang kakak, dengan nada suara disombongkan membawa-bawa contoh makam Nabi Muhammad SAW yang ditutupi kubah. “Makam Rasulullah saja ada kubahnya. Almarhum memang enggak mau dibagusin, enggak ada yang mau Wali pun enggak mau. Tapi kenapa jadi ada bangunan, karena kecintaan umat dan kepentingan orang yang ziarah.”

Perseteruan Pipik dengan keluarga Uje semakin kontras ketika makam Uje dipercantik dengan marmer hitam hingga terlihat mewah. Persemayaman terkahir Uje pun dibuat bangunan setinggi pinggang orang dewasa.

Pipik yang tak dilibatkan dalam pembangunan makam Uje merasa kecewa. Apalagi makam yang tampak mewah itu, menurut Pipik tidak mencerminkan kehidupan sehari-hari almarhum.

Dengan gayanya yang angkuh Aswan, meminta mantan istri Uje, Pipik, untuk membicarakan masalah renovasi makam Uje secara baik-baik. “Kalau benar keluarga, kalau ada yang kurang disukai, layaknya sebagai keluarga lakukan obrolan sebagai keluarga, ngobrol mantu ke mertua,” ucap Aswan.

Pipik sebelumnya sudah diberitakan dirinya dengan tegas menolak tampilan mewah makam Uje yang saat ini dibalut dengan marmer hitam setinggi pinggang orang dewasa.

Tampilan makam Uje yang cukup mewah, Pipik menilai hal itu bertentangan dengan kehidupan sehari-hari sang Ustadz. Aswan juga meminta kepada Pipik untuk tidak mengumbar isu-isu negatif mengenai keluarga besar Uje ke media.

“Jangan lempar isu-isu dan protes ke media dan memprovokasi opini masyarakat, haram malah saling membenci caci maki keluarga gara-gara provokasi,” ujarnya.

Salah satu sahabat Uje, Ustadz Zaky, hari Senin, 23 September 2013, coba menengahi konflik antara Pipik dengan pihak keluarga besar Uje gara-gara makam Uje , yang Pusat, direnovasi oleh keluarga besar Uje dengan tampilan marmer hitam setinggi pinggang orang dewasa, hingga terkesan mewah.

“Uje bukan wali, tapi orang soleh. Layak untuk dapatkan tempat. Di sini kan banyak pihak terkait, pemerintah, istri, ibu, yang utama ibu kandung. Seorang ibu pasti pnya perasaan, makam anak diziarahi dengan keadaan layak,” ucap Zaky.

Zaky mengungkapkan sebelum makam Uje ditutupi marmer, tak sedikit masyarakat membawa pulang tanah dari makam Uje. Menurutnya hal tersebut justru menjadi musyrik.

“Saya lihat banyak orang bawa tanah ke rumah, dibakar jadi musyrik. Dibuat tempat yang bagus, layak, baik. Saya yakin alm Uje tidak ingin dibedakan tapi volume dan perilaku para peziarah harus dikondisikan.

Komentar