Duka Kekalahan Hillary Telah Berakhir

Penulis: Darmansyah

Selasa, 29 November 2016 | 11:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Usai kekalahannya dari Donald Trump di pemilihan Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton menghilang dari aktifitas di Twitter.

Dan kini Hillary tak ingin lagi “bersembunyi” dan  aktif lagi di Twitter

“Ia telah  kembali mengaktikan media sosialnya itu,” tulis Washington Post.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menjadi pengikut atau follow akun rapper asal AS, Snoop Dogg.

Dogg baru-baru ini, seperti dikutip dari NME, mengungkapkan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk pindah ke Kanada menyusul kemenangan Trump. Ia bahkan mengunggah foto Toronto di akun Instagram miliknya, dan meminta saran Drake, yang berasal dari Kanada.

Aksi Clinton, dibalas oleh Dogg dengan membalas ‘follow’. Tidak hanya Clinton, ia pun memfollow akun Bill Clinton, Presiden AS Obama dan Michelle Obama.

Sementara itu, VH1 menyatakan akan membuat lanjutan program Martha & Snoop’s Potluck Dinner Party ke seri ke-dua. Padahal, seri pertama baru berjalan dua episode.

Tayangan yang digawangi Martha Stewart dan Snoop Dogg itu mendapat sambutan positif sejak tayang perdana pada tujuh November

Episode ke-dua yang tayang empat belas November mendapat perolehan rating yang cukup baik dan makin meningkat.

“Martha dan Snoop adalah ‘pasangan unik’ saat ini, dan mereka dapat saja dinobatkan sebagaai Raja dan Ratu budaya pop,” ujar Chris McCarthy, presiden VH1. “Tunggu sampai ada tayanagn seri ke-dua,” ujarnya menambahkan pekan lalu beberapa jam sebelum episode ke-tiga ditayangkan.

VH1 baru-baru ini menayangkan tayangan penuh episode pertama via Youtube. Selama tayangannya, sejumlah selebriti tamu turut tampil di antaranya Seth Rogen, Ice Cube, dan Wiz Khalifa, yang menjadi juri menilai siapa yang berhasil membuat ayam goreng terbaik.

Setelah Pilpres AS mendapat hasil mengejutkan, masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa.

Tapi kegamangan melanda beberapa sektor, termasuk dunia hiburan Amerika. Produser, rumah produksi, agensi bakat, dekat dengan Hillary Clinton.

Mereka terkejut saat Clinton kalah secara mengejutkan oleh pesaingnya yang selama ini dianggap kontroversial, Donald Trump. CEO United Talent Agency Jeremy Zimmer bahkan mengirimkan memo khusus untuk menenangkan anak buahnya, mengutip The Hollywood Reporter.

“Banyak dari kita yang akan takut dan terancam, dan kita bisa memberi kenyamanan. Beberapa di antara kita akan bahagia karena suaranya didengar. Sebaliknya, itu juga momen yang menantang, jadi mari kita lebih ekstra hati-hati dan melindungi sesama,” demikian isinya.

Karyawan duduk diam dan membaca memo itu dengan galau. United Talent Agency adalah agensi yang menangani seleb besar seperti Will Ferrell, Channing Tatum, dan Joe serta Ethan Coen.

Kegamangan mereka, salah satunya karena banyak yang mendukung Clinton. Bos-bos dari Universal Pictures, Paramount Pictures, Warner Bros, Sony Pictures, 20th Century Fox, Legendary Pictures, bahkan Disney termasuk penyumbang bagi kampanye besar Clinton.

Beberapa nama individu termasuk, seperti Leonardo DiCaprio dan George Clooney.

Center for Responsive Politics melaporkan bahwa sumbangan untuk Clinton mencapai US$22 juta. Dan itu dari dunia hiburan. Sementara donasi untuk Trump, hanya sekitar US$290 ribu.

Mereka yang ada di bisnis hiburan sampai mengadakan rapat internal terkait kekalahan Clinton. Selain Zimmer yang membuat memo untuk anak-anak buahnya, Kepsala WME Global Graham Taylor pun mengirim surel. Mereka akan mengadakan pertemuan internal mendadak.

“Sementara saya berharap ada hasil yang berbeda untuk berbagai alasan, saya sangat yakin besok kita punya tantangan bersama untuk datang sebagai satu perusahaan. Kita punya kolega dan klien yang bahagia dan kesal.”

“ Kita punya negara yang terbelah, kehidupan global yang terganggu, dan level ketakutan serta sinisme yang belum pernah terjadi sebelumnya baik di bisnis maupun dunia secara umum,” demikian Taylor menulis surel kepada rekan-rekannya.

Sementara Brian Kavanaugh-Jones yang mengelola perusahaan produksi dan manajemen Grandview-Automatik mengumpulkan karyawannya untuk bincang-bincang dari hati ke hati.

“Kami membicarakan banyak hal. Salah satu poin adalah Hollywood bisa sedikit terlindung dari seluruh negara, jadi penting bahwa kita semua terbuka mendengar pandangan orang lain pandang dan mencoba menjangkau seluruh lini,” kata produser untuk film drama Loving itu.

Perbedaan akan dirasakan perusahaan-perusahaan perfilman, terutama di bidang saham. Kebanyakan dari mereka khawatir soal itu.

Setelah delapan tahun bekerja dengan adiministrasi pimpinan Barack Obama dari Demokrat, kini mereka harus bekerja bersama orang-orang Trump dari Republik. Para pemimpin MGM Pictures sudah mendiskusikan itu.

Beberapa studio animasi, menurut sumber dalam, seperti berduka. Para karyawan berbusana hitam. Mereka berkelompok-kelompok—di dapur, di meja, di mana-mana—dan berbincang pelan.

Studio lain lagi, yang tak disebut namanya tapi levelnya besar, merasa benar-benar kecewa atas kekalahan Clinton. Rabu pagi dirasakan karyawannya, benar-benar berbeda dan ‘diam.’

“Rasanya aneh menjalankan bisnis seperti biasa. Bagaimana bisa kita fokus membuat cerita sementara dunia yang sesungguhnya seperti butuh banyak bantuan?” kata seorang produser.

Tapi ada saja agensi Hollywood yang masih optimistis, meski sebenarnya mendukung Clinton.

Bosnya mengatakan, “Ini sebuah kota yang menghargai perilaku menjijikkan. Jadi kalau orang-orang kesal, itu munafik. Apa yang orang-orang kesalkan adalah seseorang yang tidak mereka suka dan tidak menjadi bagian dari mereka, menang. Waktunya tumbuh dan move on.”

Komentar