Ini Suara Marshanda Saat Penyekapan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 7 Agustus 2014 | 08:37 WIB

Dibaca: 0 kali

Marshanda menganggap peristiwa dugaan penyekapan dirinya adalah akhir kisah sedihnya selama ini. Menurutnya gara-gara hal itu, kini semua rahasia keluarganya terungkap.

Setidaknya hal tersebut diungkapkan Chacha kepada pengacaranya OC Kaligis. Menurut OC, kliennya itu memang merasa sudah kehilangan kasih sayang dari ibunya.

“Dia merasak kok nggak ada kasih sayang dari ibunya. Sampai akhirnya meledak, kenapa ibunya memasukkan ke rumah sakit. Akhirnya dia berkata, kebenaran akan menampakkan dirinya. Gara-gara kejadian ini kan jadi ketahuan.”

OC mengaku dirinya memang tak menerima semua kisah Chacha. Tapi, ia mulai yakin ketika ada pihak kepolisian yang ikut terlibat.

Untuk itu atas persetujuan Chacha, Kaligis memperdengarkan rekaman dari artis itu ketika dia dalam penyeapan. Dan inilah penggalan dari suara Marshanda itu.

“Saya sudah pindah di Apartemen Casablanca. Hari ketiga tinggal di sana, keluarga tidak welcome dengan keinginan saya untuk pindah rumah. Jadi, mereka agak-agak khawatirlah, worry,” kata Chacha panggilan akrab Mershanda dalam rekaman audio yang diperdengarkan kepada wartawan.

Kepindahan itu disadari benar oleh Marshanda ditentang oleh keluarganya, Ia berusaha mengajak berbicara mereka untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja selama tinggal sendiri di apartemen itu.
Namun, lanjut Chacha, pihak keluarganya merasa kurang yakin dan menganggapnya masih mengalami gangguan jiwa.

“Walaupun saya sudah ajak ketemuan dan bilang baik-baik di depan mama dan adik-adik, tapi mereka tetap masih yakin Chacha itu sakit sesuai keyakinan mereka. Mereka juga tahu kalau aku sudah enggak minum obat selama tiga bulan, which is sebenarnya, pada kenyataannya, aku baik-baik saja,” ujarnya

“Aku tidak menunjukkan sikap atau perbuatan yang membahayakan orang lain atau apalah yang orang bilang penyakitnya kumat. Sama sekali tidak seperti itu. Tapi, keluarga malah enggak mau ngerti,” sambung Caca.

Selanjutnya, Caca menyampaikan kronologi kejadian yang dialaminya pada 26 Juli 2014.

“Tanggal 26 Juli 2014 pagi, waktu saya mau ke mal Kota Kasablanka, sama manajer saya, sama anak saya juga, soalnya Sienna mau ketemu sama ayahnya. Pokoknya, hari itu jatahnya ayahnya mainlah. Tapi, tiba-tiba di basement ada cowok bapak-bapak nahan mobil kami,” kisah Caca.

“Saya ngeluarin muka saya lewat jendela mobil, kan yang nyetir manajer saya, Sandy. Saya bilang, ‘Saya mau jalan, Pak, Bapak siapa? Kok dia berani banget ngalangin saya. Saya turun dari mobil lalu nanya ke dia, apa maksudnya, dia polisi atau apa. Saya ini sudah dewasa, sudah 25 tahun,” kisah Caca lagi.

Namun, ternyata, pria yang menghalanginya tersebut adalah seorang polisi.

“Dan ternyata kata bapak itu di lobi sudah ada utusan kepolisian dari Polsek Tebet atau apalah untuk jagain mobil saya. Alphard B 1**8 ST warna hitam. Pas sudah sampai gerbang atas, kami ditahan. Saya marah karena portalnya ditahan oleh penjaga apartemennya. Kenapa mereka kok malah tidak melayani saya yang penghuni situ.”

“Saya turun untuk ngomong ke kepala sekuriti. Dia bilang, ‘Saya enggak tahu apa-apa Mbak. Saya minta maaf. Saya cuma disuruh kalau ada Alphard B 1**8 ST warna hitam untuk ditahan dulu’. Saya tetap ngotot karena saya enggak mau anak saya melihat kejadian seperti ini. Saya khawatir dia panik. Akhirnya, setelah ngomong, saya keluar. Itu kejadian siang,” sambung sang artis.

Marshanda mengaku pula, sesudah kejadian penahanan mobilnya di area parkir itu, di apartemennya, ia didatangi oleh beberapa perawat laki-laki dari sebuah rumah sakit jiwa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Sorenya kejadian saya disuntik. Sekitar jam empat sore, saya didatangi tiga sampai empat orang cowok perawat dari Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa. Datang ke apartemen saya ramai-ramai, sama satu orang yang ngaku dari Kapolsek, bapak-bapak, sama satu lagi ngakunya namanya Om Rony, yang ternyata adalah teman dekat om saya,” kisah Caca.

Belum tuntas rekaman audio Caca diperdengarkan kepada para wartawan, OC Kaligis langsung mematikannya.

“Sudah jelas kan, ini rekaman tanggal 02 Agustus 2014, ketika saya ketemu dia. Saya mau ada suara dia. Saya kira cukup ya, saya kasih rekaman. Itu kemampuan saya. Lebih dari itu enggak bisa lagi,” ujar OC Kaligis.

“Anda dengar suaranya apa tadi. Itu sudah cover both sides. Di dalam dunia jurnalistik kan butuh komentar. Ya, itu kata-kata dia. Ada juga kan ibu yang bunuh anaknya. Itu gimana itu,” ujar OC Kaligis lagi.

laporan gerry haryanto wartawan “nuga” jakarta

Komentar