“Asmirandah, Campakkan Lelaki Bohong”

Penulis: Darmansyah

Minggu, 1 Desember 2013 | 14:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Kasus kebohongan Jonas Rivanno, yang pernah jadi mualaf, menikahi Asmirandah secara Islam, kemudian membantah kemualafannya, lantas mengakui pernah mualaf, minta maaf serta akhirnya digugat pembatalan pernikahan serta diajukan sebagai penista agama dikepolisian.

Sikap Jonas Rivanno yang perilaku dan perbuatannya tidak konsisten menimbulkan hujatan dan banyak orang meminta Asmirandah menentukan sikap terhadap lelaki pembohong ini. Sikap yang diambil Asmirandah harus dengan pertimbangan rasional bukan emosional.

Asmirandah juga diminta untu secepatnya mengambil keputusan, walau pun secara hukum perkawinan ia telah mengajukan permohonan pembatalan pernikahan di Pengadilan Agama Depok, Jawa Barat. .

Jonas dianggap telah membohongi gadis blasteran Indo ini dengan status agama Jonas, kini, telah kembali pada agama sebelumnya, kristen. Padahal, sebelum menikah Jonas telah menjalani proses mualaf.

“Jika pasangan suka berbohong kecil, biasanya akan menemukan kebohongan-kebohongan berikutnya. Misalnya kalau soal agama saja dia berbohong, pekerjaan berbohong, akan ditemukan kebohongan-kebohongan lainnya,” beber psikolog Melly Puspita Sari.

Kendati demikian, perempuan yang telah dikhianati seharusnya bisa tegas, apakah melanjutkan hubungannya? Atau menerima pasangan tersebut dengan apa adanya.

“Kadang wanita tidak bisa tegas karena mengungkapkan suatu kebobrokan pasangan masih dianggap aib, atau label sosial, sehingga wanita kerap bertahan dengan hidup yang sengsara,” pungkas Melly

Baik Asmirandah maupun Jonas Rivanno adalah tipikal pasangan muda yang menikah terburu-buru, tanpa melihat latar belakang pasangan, yang ternyata memiliki tabiat buruk.

Akibatnya kebohongan terjadi kala mereka diintimidasi dan ujungnya terjadi percecokan. Dalam kasus pesinteron cantik Asmirandah dengan Jonas Rivanno. Jonas, sang lelaki telah membohongi gadis blasteran Indo ini dengan status agama

Menurut Melly, seharusnya sebelum memutuskan menikah, pasangan harus teliti melihat karakter si pasangan, terutama bagaimana interaksi si pasangan terhadap keluarga. Pasalnya ketika menjalani sebuah ikatan pacaran, si pasangan akan menggunakan 1001 topeng untuk bisa mendapatkan kesan baik .

“Kita harus lihat track recordnya bagaimana?, apakah pekerjaannya halal atau tidak?, lalu bagaimana interaksi terhadap keluarganya?. Karena ketika pacaran maka, 1001 topeng akan dipakai untuk tebar pesona terutama,” beber Melly.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih tinggi seperti pernikahan, baiknya lihat track record pasangan dari bibit bebet dan bobotnya.

“Lihat juga agamanya, kalau umat kristiani lihat juga apakah dia suka ke gereja, atau misalnya muslim, lihat juga sholatnya bolong-bolong enggak,” pungkasnya.

Komentar