Angelina Jolie Ajak Anak Lihat Pengungsi

Penulis: Darmansyah

Selasa, 30 Januari 2018 | 10:38 WIB

Dibaca: 3 kali

Angelina Jolie tampaknya berusaha menurunkan jiwa peduli sosial yang ia miliki kepada anak-anaknya. Baru-baru ini, aktris berusia empat puluh dua tahun itu memboyong dua putrinya, Zahara  dan Shiloh pergi ke Yordania untuk mengunjungi pengungsi Suriah di sana,.

Kesempatan itu merupakan kunjungan ketiga Shiloh ke tenda pengungsi dan yang pertama bagi Zahara.

“Anak-anak perempuan saya Zahara dan Shiloh meminta untuk ikut dengan saya hari ini. “

“Mereka telah menghabiskan waktu hari ini untuk berbicara dan bermain dengan anak-anak seusia mereka yang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka, yang anggota keluarganya telah terbunuh atau telah hilang,” kata Jolie, berdasarkan laporan United Nations Refugee Agency.

Dia melanjutkan, “Mereka yang berjuang dengan trauma dan penyakit, tapi juga mereka yang pada akhirnya hanyalah anak-anak, dengan harapan dan hak yang sama seperti anak-anak di negara lain.”

Tidak hanya itu, Jolie turut menyuarakan apa yang dialami para pengungsi Suriah. Menurutnya, mereka telah hidup di bawah garis kemiskinan

“Setelah tujuh tahun perang, sebagian besar pengungsi Suriah telah kehabisan tabungan yang mereka miliki. Sebagian besar dari mereka sudah hidup di bawah garis kemiskinan, dengan hanya punya kurang dari tiga dolar sehari. Bayangkan jika itu terjadi pada keluarga Anda,” kata Jolie.

“Ini berarti keluarga mereka pergi tanpa makanan yang cukup, anak-anak tidak bisa mendapatkan perawatan medis, Gadis-gadis muda rentan terhadap pernikahan dini, dan banyak orang Suriah menghadapi musim dingin mereka tanpa tempat berlindung yang layak,” tambahnya.

Selain mengunjungi para pengungsi, misi Jolie ke Yordania juga untuk ikut dalam proyek These Inspiring Girls Enjoy Reading, yang berfokus pada pendidikan dan pemberdayaan.

Program tersebut turut bekerjasama dengan International Relief and Development, membantu memerangi epidemi pengungsi yang putus sekolah.

Diberitakan Just Jared, kunjungan tersebut bukanlah kali pertama yang diikuti anak-anak Jolie untuk menemaninya dalam perjalanan kemanusiaan.

Sebelumnya, pada  dua tahun lalu, Shiloh pernah diboyongnya ke Turki untuk menghormati Hari Pengungsi Sedunia.

Sementara itu kepada majalah Vanity Fair  menjelaskan tentang tentang metode yang dia gunakan untuk seleksi pemain alias casting film tentang pembantaian besar-besaran di Kamboja

Hasil wawancara tersebut menimbulkan kontroversi karena Jolie dianggap memainkan emosi anak-anak miskin dari proses audisi pemain.

“Saya marah bahwa latihan berpura-pura dalam improvisasi, dari adegan sebenarnya dalam film ini, ditulis seolah-olah adalah skenario nyata,” kata Jolie dalam sebuah pernyataan dikutip dari Ace Showbiz.

Menurut Jolie, informasi yang ditulis majalah tersebut adalah salah.

“Sugesti bahwa uang sungguhan diambil dari anak saat audisi adalah salah dan menjengkelkan. Saya akan marah pada diri saya sendiri jika ini terjadi,” tutur Jolie.

Jolie memastikan setiap tindakan dalam casting itu sudah memikirkan keselamatan, kenyamanan, dan kesejahteraan anak-anak Kamboja yang terlibat, sejak dari audisi hingga produksi.

“Orang tua maupun wali, LSM yang mengawasi anak-anak, dan dokter selalu ada setiap hari untuk memastikan apa yang mereka butuhkan. Dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang terluka karena sejarah negara mereka,” kata Jolie.

Produser Rithy Panh, yang juga merupakan korban selamat dari pembantaian di Kamboja itu membenarkan perkataan Jolie. Panh lantas menjelaskan proses seleksi pemain.

“Proses casting berlangsung dengan para kru menunjukkan kamera dan alat perekam. Mereka dijelaskan diminta untuk berperan dalam sebuah bagian: untuk berpura-pura mencuri uang dan ketahuan. Itu berhubungan dengan cerita asli dari Loung Ung, ketika dia dan saudaranya ketahuan mencuri,” kata Panh.

Dalam artikel Vanity Fair, dijelaskan saat memilih pemain, segepok uang diletakkan di sebuah meja. Anak-anak yang mengikuti casting diminta untuk memikirkan apa yang mereka butuhkan dari uang itu.

Setelah itu, anak-anak tersebut diperintahkan merampas uang tersebut. Sang sutradara akan berpura-pura menangkap anak itu dan mereka diminta pula untuk berbohong.

Anak lokal bernama Srey Moch akhirnya dipilih Jolie karena memiliki jawaban yang diluar dugaan.

“Srey Moch merupakan anak tunggal yang melihat uang itu dengan waktu yang sangat, sangat lama. Ketika dia diminta untuk mengembalikannya, dia penuh dengan emosi,” kata Jolie menurut kisah yang dipublikasikan majalah tersebut.

“Ketika dia ditanya rencana untuk uang itu, Srey Moch mengatakan kakeknya baru saja meninggal, dan keluarganya tidak punya cukup uang untuk pemakaman yang baik,” lanjut Jolie.

Cara seleksi pemain inilah yang menuai kecaman dan kritikan pedas dari netizen.

First They Killed My Father merupakan film Netflix yang diangkat berdasarkan kejadian genosida di Kamboja oleh Khmer Merah. Pembataian itu menewaskan lebih dari dua juta orang.

Komentar