close
Nuga Bola

“The Three Lion” Pantas Jadi Pahlawan

Jurnalis asal Inggris Piers Morgan menilai skuat The Three Lions tidak layak disebut sebagai pahlawan lantaran kandas di babak semifinal Piala Dunia8.

Timnas Inggris gagal mencapai target juara Piala Dunia tahun ini setelah dikalahkan Kroasia 1-2 di semifinal melalui perpanjangan waktu di Stadion Luzhniki, Kamis dini hari WIB.

Dalam pertandingan itu Inggris sempat unggul melalui gol tendangan bebas Kieran Trippier pada menit kelima. Tetapi, Kroasia bisa membalikkan kedudukan dengan dua gol dari Ivan Perisic dan Mario Mandzukic’.

Dengan skuat yang terbilang muda, pencapaian timnas Inggris hingga sampai babak semifinal mendapat apresiasi dari banyak pendukung.

Sebagian di antaranya merasa bangga dan tetap menyebut tim asuhan Gareth Soutgahte itu sebagai pahlawan.

Kendati demikian, pengakuan banyak orang itu tidak berlaku bagi Piers Morgan. Morgan yang merupakan fan Arsenal menilai Inggris sebagai tim yang kalah di Piala Dunia.

“Mereka [timnas Inggris] bukan pahlawan, mereka tim yang kalah di semifinal Piala Dunia,” ujar Morgan dikutip dari Mirror.

Tidak hanya itu, bahkan Morgan juga menyebut rencana timnas Inggris melakukan parade sepulang dari Rusia merupakan hal yang sia-sia.

“Dalam olahraga, Anda hanya memiliki menang atau kalah. Itulah sebabnya negara ini harus memberi tahu anak-anak bahwa mereka tidak boleh kalah,” Morgan menambahkan.

Meski begitu ucapan Morgan mendapat bantahan dari rekan kerjanya Susanna Reid dalam acara Thursday’s Good Morning Britain.

Menurut Susanna, Southgate telah melakukan banyak hal untuk menyatukan Inggris dibanding Perdana Menteri Theresa

“Anak-anak timnas Inggris adalah pahlawan, karena mereka menyatukan negara, mereka menginspirasi kebahagiaan dan optimisme,” Susanna menegaskan.

Selain itu tim Inggris juga  membawa predikat ‘Si Raja Korner’

Mantan pelatih timnas Skotlandia, Andy Roxburgh, yang juga menjadi bagian dari FIFA Technical Study Group bersama Marco van Basten, dan Carlos Alberto Parreira memuji timnas Inggris dalam memanfaatkan bola-bola mati.

Di Piala Dunia iniInggris mencetak dua belas gol dalam enam pertandingan, yang sembilan di antaranya diciptakan dari proses set piece.

Namun The Three Lions kebobolan enam gol termasuk dua gol oleh Kroasia yang menggagalkan ambisi mereka menjadi juara Piala Dunia.

“Di Piala Dunia ini, perhatian terhadap detail dalam permainan cukup menonjol. Di Piala Eropa dan bahkan di Liga Champions. Di sini di Rusia, terjadi satu gol dari setiap tiga puluh korner,” ujar Roxburgh dikutip dari The Sun.

Menurut Roxburgh satu gol dari  tiga puluh tendangan sudut itu menunjukkan efisiensi yang dilakukan peserta Piala Dunia  dalam memanfaatkan peluang. Kondisi itu diakui Roxburgh tidak terlepas dari kecepatan dalam beraksi dan berpikir.

“Gareth Southgate menjadi yang paling terdepan dalam hal ini. Sembilan dari gol yang mereka cetak datang dari cara ini. Inggris menjadi raja korner yang menunjukkan pengaruh mereka,” ucap Roxburgh.

Pria  itu juga menyebut permainan tim-tim peserta Piala Dunia 2018 dipengaruhi gaya Pep Guardiola. Hal itu terlihat dari cara tim saat bermain menekan, menyerang dengan atau tanpa bola, dan dalam menjaga bola.

“Banyak pemain terbaik di sini, di Rusia yang bermain di Liga Champions. Dalam kompetisi itu Anda melihat pengaruh Pep Guardiola di Barcelona, Bayern Munchen, dan kini di Manchester City,” Roxburgh menuturkan.

Selain berjuluk Si Raja Korner, The Three Lions juga masih bisa membawa pulang predikat peringkat ketiga Piala Dunia dan gelar top skor yang kemungkinan diraih Harry Kane.

Di perebutan peringkat ketiga Inggris akan menghadapi Belgia di Stadion Saint Petersburg