Premier League
Terry dan Kontroversi “Breaking News”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 25 September 2012 | 17:43 WIB

Dibaca: 1 kali

Sehari setelah John Terry mengiyakan pecahnya perkongsian dengan Football Association (FA), PSSI-nya Inggris, media dunia masih menyimak dengan takzim kasus “perang bubat” center back Chelsea itu. Koran London, seperti Daily Star, Metro, 1 dan The Times masih menempatkan di sampul depannya kisah hengkangnya Terry dari skuad Hodgson.

Bahkan Sky Sport yang sehari sebelumnya menulis kasus Terry dengan FA ini dengan judul “John Terry: A Controversial Career” di laman depannya, hari ini mengunggah video berdurasi 2 menit 55 detik di headline hasil laporan Bryan Swanson, chief news reporter-nya yang menayangkan secara live dengan latar stadion Chelsea, Stamford Bridge, berikut dua layar televisi raksasa bergambar lambang “The Blues” dengan tipikal berita breaking news.

Gambar yang diunggah itu merekam Terry berjas lengkap sedang menyetir sebuah mobil sport keluar dari rumah pribadinya di London. Ia sepertinya cuek dengan kepungan wartawan yang ingin mendapatkan klarifikasi terakhir pengundurannya dirinya setelah Komisi Displin FA tetap akan menjatuhkan hukuman atas kasus rasialnya dengan pemain belakang Queens Park Rangers (QPR), Anton Ferdinand, yang menjadi alasan ia gantung sepatu di tim nasional.

Video itu juga menampilkan wawancara dengan secretary general FA tentang keputusan mereka untuk tetap menjatuhkan hukuman terhadap pemain berusia 31 tahun itu, walaupun pengadilan sendiri telah mementahkan gugatan terhadap perkaranya. “JT, begitu John Terry biasa dipanggil, kecewa berat dengan FA yang ngotot untuk menjatuhkan hukuman terhadapnya,” kata Hodgson, pelatih “The Three Lions” yang kecewa dengan perginya Terry dari skuad asuhannya. Padahal JT telah berdamai dengan Ferdinand.

Sebelum kasus ini menjadi heboh Terry sudah mengalami pengkhianatan FA yang mencopot ban kapten dari lengannya. Padahal, sebagai pemain senior di tim nasional Terry adalah tulang punggung tim bersama Lampard dan Gerrard. “Merekalah yang menggerakkan dinamisme tim,” tulis Mirror.

Karir Terry di jagat sepakbola Inggris memang kontroversial. Ia angkuh dan sering nyeleneh. Ingat kasus hengkangnya Villas-Boas. Terry-lah yang menggalang pengusiran itu bersama Frank Lampard dan Didier Drogba yang memprovokasi Roman Abramovich, sang pemilik. Pelatih asal Portugal dan termuda dalam sejarah Premier League sempat bersitegang dengan JT di ujung musim kompetisi lalu. Dia tak segan-segan memunggungi Boas dalam latihan.

Bahkan di awal Roberto Di Matteo mengambil alih peran kepelatihan di Chelsea, dalam status masih asisten manajer, Terry berlagak lebih manajer ketimbang dirinya. Dan pada sebuah laga ketika Di Matteo memberi arahan, Terry dengan lancang menyuruhnya tutup mulut dengan isyarat bahwa dialah “sang bos,” dan berujar “Shut up!” dengan menempelkan ujung jari telunjuknya di bibirnya. Di Matteo diam dan berbalik badan.

Ketika itu media Inggris sudah mencium ketidaksenangan Terry terhadap Di Metteo. Tetapi, pelatih yang mirip pelawak Jakarta Daan Aria, itu tak mau buka mulut. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Di Matteo tentang situasi kamar ganti Stamford Bridge.

Bahkan, ketika laga melawan Bayern Muenchen di Allianz Stadion tahun lalu, Di Matteo mundur ke belakang untuk memberi ruang bagi Terry menjawab pertanyaan wartawan. Padahal waktu itu pelatih kelahiran Swiss itu sedang dicari wartawan setelah menyingkir Barca di semifinal Liga Champions dan menyabet Piala FA di daratan Inggris.

Tidak hanya kontroversi di pelataran sepakbola, Terry juga menghebohkan lembaran gosip di tabloid dan televisi Inggris atas rumor perselingkuhan dengan Vanessa Perroncel, yang kala itu masih berstatus kekasih Wayne Bridge yang pernah menjadi teman dekatnya di Chelsea dan tim nasional Inggris. Rumor kasus perselingkuhan ini berjalan berminggu-minggu dan sempat menggoyahkan perkawinannya dengan Toni Poole.

Terry mencoba menyelamat perkawinannya dengan menggugat pemberitaan ini ke pengadilan. Tapi ditolak. Rumor ini baru berhenti setelah mingguan “News of the World” yang memulai sensasi ini minta maaf pada Perroncel sang kekasih Wayne dan menganggap kasus perselingkuhan ini tak pernah ada.

Usai rumor itu Terry lega, dan memboyong istri dan dua anaknya, Georgie John dan Summer Rose, berlibur ke Laut Mediteranian, dan perkawinannya terselamatkan.

Terry yang lahir di Barking 31 tahun lalu adalah anak London asli, “rumahnya” Chelsea. Ia bukan kutu loncat ketika berkarir di sepakbola. Tercatat pernah singgah di West Ham United selama empat tahun, 1991-1995, selanjutnya ia meniti karir di Stamford Bridge hingga kini, walaupun pernah dipinjamkan ke Nottingham Forest selama satu musim, tahun 2000. Ia memulai karir di tim nasional selama sembilan tahun sejak 2003 dengan mencetak 6 gol dari 78 penampilan. Karirnya berakhir di timnas dengan dramatis akhir pekan lalu.

Sebagai center back yang juga sering disebut bek tengah, Terry ingin menyejajarkan dirinya dengan Franz Beckenbauer sebagai pemain belakang dengan gol terbanyak. Di Chelsea sendiri Terry telah menghadiahkan 28 gol dari berbagai kompetisi. Ia juga terkenal sebagai pemain bernomor 26 dan tak pernah dilepaskannnya selama di Stamford Bridge hingga sekarang.

Di Matteo yang pernah disepelekannya menyambut optimis lepasnya karir Terry di tim nasional. “Ia akan lebih berkonsentrasi di klub. Saya yakin ia akan memberikan segalanya bagi The Blues. Ia adalah pemain legendaris, dan saya pernah bermain bersama di tim ini hingga 2007. Ia seorang gentlement dan elegan di lapangan. Kami akan memetik manfaat yang lebih besar lagi.”

Hodgson, sang pelatih Inggris, juga menghargai keputusan Terry untuk mundur. “Itu persoalan dia. Saya menghargai. Ia menelepon saya memberitahu tentang mundurnya dari tim. Tak ada yang salah dari keputusannya.”

Hampir senada dengan Di Matteo dan Hodgson, para pengamat sepakbola secara serempak menyesalkan berlarut-larutnya kasus Terry di Komisi Disiplin FA. Mereka mengatakan rugi dengan kepergian JT. Bryan Robson, legenda Manchester United, ”Kenapa FA harus ngotot?”

Bahkan ia mensinyalir ada penghasut di FA yang mendorong kasus ini diteruskan usai ditolak High Court. “Saya tidak tahu kemana arah kasus ini digulirkan FA. Semuanya masih teka teki. Dan kita tunggu saja akhir dramanya.” []

Komentar