Terkutuk untuk “Parkir Bus” ala Mourinho

Penulis: Darmansyah

Rabu, 23 April 2014 | 09:09 WIB

Dibaca: 0 kali

Laga Atletico Madrid menjamu Chelsea di Estadio Vicente Calderon pada putaran pertama semifinal Champions League, , Rabu dinihari WIB, 23 April 2014, yang digambarkan media sebagai “perkelahian” antara kecerdikan plus keculasan dengan petarung jalanan, berakhir tanpa gol, atau kosong-kosong.

Hasil imbang ini membuat rekor Atletico sebagai tim yang belum terkalahkan sepanjang Liga Champions musim ini tetap terjaga. Selanjutnya, Atletico akan melawat ke markas Chelsea di Stamford Bridge pada Kamis, 01 Mei, dini hari WIB.

Laga yang mencerminkan kecerdikan dan keculasan Jose Mourinho, pelatih Chelsea, yang menerapkan strategi “parkir bus,” memang sangat menjengkelkan tapi sah dalam sebuah sepakbola dengan tontonan membosankan.

Tak ada kata lain yang bisa disampaikan kepada Mourinho, selain keculasan dengan menjungkirbalikkan sepakbola indah menjadi sepakbola negatif, laiknya tontonan “catennacio”nya ala Italia.

“MARCA,” surat kabar penuh gengsi terbitan Madrid, Spanyol, mengutuk bekas pelatih Real Madrid itu sebagai “pembohong” karena sehari sebelumnya menjanjikan laga terbuka timnya untuk mengalahkan Atletico.

“Terkutuk untuk Jose yang menipu pencinta sepakbola indah. Ia telah mendegradasikan sepakbola menyerang dengan sebuah pola parkir bus yang sangat membosankan,” tulis “MARCA” di edisi english online-nya.

Tidak hanya “MARCA,” media Inggris “Sky Sports,” yang selama ini “dekat” dengan Chelsea juga memberi “kutukan” atas strategi Mourinho. “Tak ada tontonan sepakbola menyerang. Yang ada justru ketakutan Mou untuk kalah di Vicente Calderon,” tulis media London itu.

Jose Mourinho seusai laga di Vicente memang di “bantai” oleh media terkait strategi bertahannya di leg pertama semifinal Liga Champions.

Tidak Mourinho jika alpa membalas kritikan. Kepada “Espana Football” ia mengatakan, gaya bermain timnya telah membuat yang menumpuk banyak pemain di kotak penalti dan membuat Atletico, — yang selalu mencetak gol sebelum laga ini –, kesulitan dan menjadi frustrasi.

Sepanjang laga Chelsea membiarkan Atletico menguasai ‘ball possession” dan melepaskan dua puluh lima tembakan , dan empat yang mengarah tepat ke gawang.

Mourinho pun punya pembelaan terkait taktiknya di laga itu mengingat Atletico adalah tim berbahaya karena sudah menyingkirkan AC Milan serta Barcelona, maka manajer asal Portugal itu mau tak mau harus meredam permainan atraktif tim asuhan Diego Simeone agar tak melakoni leg kedua dalam posisi kalah.

“Hasil itu bukan seperti yang kuinginkan sebelum kick-off, tapi aku juga tidak ingin dalam posisi kalah saat melakoni leg kedua. Hasil imbang tanpa gol bukanlah hasil positif bagi tim yang bermain di kandang pada leg kedua, tapi aku harus menerimanya,” ujar Mourinho di Football Espana.

Jose Mourinho, mengatakan, dirinya sebetulnya ingin timnya menang lima kosong pada laga di Vicente Calderon Meski begitu, ia mengaku bersyukur karena laga itu berakhir seri tanpa gol.

Chelsea kesulitan mengembangkan permainan dan sering terancam kebobolan. Namun, kiper Mark Schwarzer, yang menggantikan Petr Cech yang cedera bahu karena bertabaran dengan seorang pemain lawan, membuat usaha tuan rumah tak membuahkan gol.

“Saya ingin menang lima nol dan berada di final. Namun, itu sangat sulit. Tak mudah meraih hasil selain kalah di stadion ini. Ini bukan hasil yang luar biasa tetapi ini adalah hasil yang memberi kami peluang pada laga di Stamford Bridge,” ujar Mourinho.

“Atletico sangat frustrasi, di mana biasanya mereka yang membuat lawan frustrasi. Timku tampil solid, kami bermain dengan gaya yang merepotkan Colchoneros,” lanjutnya usai laga..

“Atletico Madrid mengalahkan Milan dan Barcelona di sini, di mana kami mampu mengontrol permainan.”

Atletico tampil amat dominan, sementara Chelsea banyak menempatkan pemainnya di kotak penalti dan sesekali menyerang balik.

Simeone menilai kans kedua tim untuk lolos ke final masih sama-sama terbuka. Karena itu, dia memprediksi laga leg kedua yang akan dimainkan di Stamford Bridge pada 30 April 2014 mendatang akan berjalan lebih terbuka.

“Itu adalah laga antara dua tim yang tak memberi tim lain ruang, seperti yang sering terjadi di sebuah semifinal,” sahut Simeone kepada Sky Sport Italia.

“Laga ini berakhir seri. Kami akan lihat setelah leg kedua, untuk siapa hasil 0-0 ini dianggap bagus,” lanjut entrenador asal Argentina itu.

“Saya pikir leg kedua tidak akan jadi pertandingan yang bertipe sama, karena leg kedua akan lebih terbuka dan Chelsea punya keuntungan bermain di kandang. Mereka selalu tampil bagus di sana, tapi kami akan pergi ke Stamford Bridge untuk menunjukkan apa yang kami bisa,” katanya.

sumber: skyprts, footbal espana dan marca englis edition

Komentar