Tak Ada Pesta Leicester di Old Trafford

Penulis: Darmansyah

Senin, 2 Mei 2016 | 10:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Louis van Gaal memenuhi janjinya yang “mengharamkan” Leicester City membuat pesta juara Liga Primer di Old Trafford, usai Manchester United menahan   tim yang dilatih Rannieri itu, Minggu malam WIB, 30 April 2016, beramin seri, saru gol berbanding satu..

United  kedatangan Leicester yang ada di ambang juara dan media Inggris menghebohkan tentang kemungkinan Leicester berpesta di Old Trafford.

Sebelumnya hampir seluruh media Inggris memprediksi  ‘The Foxes’ mampu menang di Old Trafford. Kemenangan ini akan menjadikan  mereka meraih gelar juara di akhir pertandingan.

Tentang pertandingan United melawan Leicester van Gaal, sebelum laga,  mengatakan timnya akan berusaha maksimal untuk mencegah Leicester City meraih kemenangan dan memastikan gelar Liga Primer Inggris musim ini di Old Trafford.

Dengan keunggulan tujuh poin atas Tottenham Hotspur di tiga pertandingan tersisa, Leicester hanya butuh satu kemenangan untuk memastikan gelar Liga Primer Inggris musim ini.

“Tapi, kami tidak ingin mereka merebut gelar di Old Trafford. Saya pikir mereka pantas meraih gelar Liga Primer, tapi mereka bisa melakukannya di rumah sendiri. Kami adalah MU, dan kami harus menang untuk bisa ke Liga Champions musim depan.”

“Jika Leicester ingin merebut gelar di Old Trafford, mereka harus tampil sangat bagus, karena kami sedang dalam performa bagus saat ini,” tegas van Gaal.

Usai pertandingan yang berakhir seri itu, Manajer Leicester City, Claudio Ranieri menegaskan bahwa sejak awal mereka tak mengincar kemenangan saat berkunjung ke kandang Manchester United demi menyegel titel Liga Primer Inggris secara dini.

Juru taktik asal Italia itu tetap mengapresiasi raihan satu angka yang diperjuangkan pasukannya di Manchester, dengan tambahan poin tersebut kini Leicester memperlebar jarak dengan Tottenham Hotspur, yang belum memainkan laga pekan ini, menjadi delapan angka.

“Kami memang datang ke Old Trafford tidak dengan misi untuk menyegel gelar juara, kami datang ke sini untuk bermain baik karena kami sadar ini laga sulit,” ungkap Ranieri kepada BBC Sport.

“Di awal, United lebih baik ketimbang kami dan kami tak punya solusi untuk menyerang tanpa Jamie Vardy. Ketika kami ingin memulai serangan, mereka mengendalikan permainan, jadi sangat sulit.”

“Kami berhasil mencetak gol pada momen yang tepat dan itu membangkitkan kepercayaan diri tim. Saya sangat puas, saya selalu puas ketika menyaksikan para pemain tampil sebaik hari ini.”

Leicester tetap bisa memastikan perolehan trofi Liga Primer pertama dalam sejarah klub apabila Tottenham gagal meraih kemenangan saat menghadapi Chelsea

Dengan hasil ini, Leicester dipastikan belum bisa berpesta pada Minggu ini, namun pasukan Claudio Ranieri tetap bisa berselebrasi andai Tottenham Hotspur gagal mengalahkan Chelsea pada awal pekan.

Adapun di pertandingan ini, United memulai sesuatunya dengan lebih baik.

Di menit kedelapan, mereka langsung mencetak gol lewat tendangan Anthony Martial dari dalam kotak penalti memanfaatkan umpan silang Antonio Valencia.

Usai memimpin, tim tuan rumah tidak membiarkan lawannya mengembangkan permainan. Malah mereka terus mengancam, salah satunya melalui sepakan Jesse Lingard, yang sayangnya bisa diantisipasi kiper Kasper Schmeichel.

Leicester yang bermain tanpa penyerang Jamie Vardy lantas mencoba keluar dari tekanan, dan tak berapa lama mereka mencetak gol penyama berkat sundulan kepala kapten Wes Morgan meneruskan tendangan bebas kiriman Danny Drinkwater.

Jalannya laga di sisa babak pertama praktis menjadi milik United, mengingat mereka menerapkan gaya possession football yang sulit disamai The Foxes, namun papan skor tidak lagi berubah sampai wasit memerintahkan kedua kubu untuk turun minum.

Memasuki paruh kedua, baik United dan Leicester tetap mempertahankan susunan pemainnya, dengan mereka tidak melakukan pergantian.

Di paruh kedua ini, kubu lawan tampil membahayakan dengan pola serangan balik cepat yang mereka usung.

Di menit kelima puluh, penyerang Shinji Okazaki nyaris membuat timnya memimpin andai ia berhasil menyontek bola hasil kiriman umpan silang yang dilepas Jeffrey Schlupp, selagi peluang tersebut hanya menghasilkan corner yang berujung sia-sia.

Kubu lawan benar-benar terlihat kesetanan dengan mereka mengejar setiap bola, dan beberapa peluang sempat mereka ciptakan salah satunya melalui sepakan Riyad Mahrez di pertengahan laga, yang mana masih bisa diantisipasi De Gea dengan tinjunya.

United tak mau kalah, sesekali mereka melakukan serangan terorganisir, dengan yang terbaik dimiliki Martial dan Chris Smalling, yang sayang dua peluang tersebut tidak membuahkan hasil.

Dan ketika pertandingan memasuki menit-menit kritis, Leicester justru harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Drinkwater diusir wasit akibat kartu kuning kedua, yang kemudian memaksa Ranieri melakukan pergantian strategi dengan mengganti Mahrez untuk Andy King.

Hingga tambahan waktu empat menit diberikan, The Foxes sukses mempertahankan skor tersebut dan kini mengoleksi tujuh puluh tujuh poin di puncak, unggul delapan angka di depan Tottenham.

Sementara itu, raihan satu poin menghambat United mendekati Manchester City yang berada di urutan keempat, dan kini pasukan Louis van Gaal terpaut empat angka dari rivalnya tersebut dengan tiga laga tersisa.

Komentar